The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 1

The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 1

Bismillahirrohmanirrohiiim

“Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nasyir”
Ya, Allah aku mohon pertolongan, karena Engkaulah sebaik baiknya pertolongan.

Album tulisan ini khusus saya buat mengenai catatan perjalanan ananda, Ratunoor Salma Khansa Effendi, Mahasiswa tingkat akhir Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 sebagai tim medis RS Darurat pasien Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran.

***
Langkahnya tak pernah surut walapun saya dan ayahnya sempat melarang. Badan ringkihnya bukan penghalang untuk mendarma-baktikan ilmu pengetahuannya selama kuliah sebagai calon perawat.

“Bun, kematian bisa kapan dan dimana saja. Tapi bagaimana cara kita mati itu yang harus disiapkan dengan baik. Mati syahid, insyaa allah, jika kita meninggal dalam keadaan bertugas,” katanya.

Saya masih teringat ketika ada Tsunami di daerah Banten. Saya sempat melarangnya untuk terjun langsung H+1 ke Tanjung Lesung, Desember beberapa tahun silam. Dia tetap keukeuh dengan niatnya. Packing baju dan perlengkapan dengan cepat. Izin dan surat tugas sudah digenggam. Satu minggu berlalu tanpa kabar berita. Hati saya tidak tenang. Alhamdulillah, Teteh Salma kembali dengan selamat.

Kejadian demontrasi besar-besaran di gedung DPR/MPR beberapa waktu kebelakang. Kembali, Teteh Salma dan teman-teman sejawatnya turun di hari itu. Suasana yang menegangkan, mencekam, dan menakutkan tidak menyurutkan langkahnya.

Belum lagi, tugas mulia lain yang pernah diikutinya. Terhitung dua kali ikut program Indonesia Mengajar. Ditempatkan di daerah terpencil tanpa akses internet, listrik; infrastruktur yang memadai dan juga rawan gempa. Di saat kedatangannya, gempa terjadi dan banyak menumbangkan pohon-pohon besar di daerah Sobang, Banten.

Jauh perbedaannya, antara langit dan bumi, tempat yang disinggahinya dalam setiap program itu jika dibandingkan dengan Jakarta. Satu bulan sudah dia sana. Kembali ke rumah dengan hati yang ceria. Saya kembali tenang.

Dinas dan praktek dari satu RS ke RS yang lain, dari satu Faskes ke Faskes lain. Dari ruang IGD, ICU, maternitas dan ibu bersalin, ruang anak, pasien kanker hingga ruang bedah operasi sudah dia masuki dan melihat dengan mata sendiri bagaimana dokter bedah bekerja. Semua sudah Teteh Salma lalui. Hingga dia memiliki keinginan kelak untuk menjadi perawat di ruang OK atau Operasi.

Saya belum tentu sekuat sulung saya dalam mengejar cita-cita ketika seumurnya dulu. Dia yang berhati baja dan disiplin. Saya, bundanya yang akan selalu ada didekat Teteh Salma dalam setiap suka dan duka. Doa-doa melangit dari setiap sujud panjang dengan derai air mata.

“Nak, semangat! Kamu punya Allah yang akan menguatkan perjalanan. Bukan bunda yang bikin kamu kuat, tapi kamu yang buat bunda kuat dalam hidup ini.”

Jakarta, 24 Maret 2020

Saya, Irma Purwalarawati Arief

Bunda seorang Mahasiswa Keperawatan yang sedang berjuang dengan para dokter, perawat, tenaga kesehatan di Wisma Atlet Kemayoran.

Gambar diambil dari Facebook

Diposting pertama kali di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief