The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 2

The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 2

Bismillahirrohmanirrohiim

Beberapa malam ini, mata saya tidak bisa terpejam pulas. Setiap hari menunggu berita dari Teteh Salma. Pukul setengah duabelas malam masih menunggu kabarnya.

Kata Ayahnya, “Jangan menghubunginya! Mungkin dia lagi fokus dengan tugas.”

Lantunan dzikir dan doa terus saya panjatkan.

Allah! Allah! Jaga mereka! Lindungi mereka!
Para dokter, perawat, tenaga kesehatan; semua relawan yang tak kenal lelah sedang mempertaruhkan nyawa.

Saya dan suami belum pernah ada dalam kondisi seperti ini. Walaupun sebelumnya kami sering ditinggal Teteh Salma untuk bertugas di tempat yang jauh dan asing. Kali ini berbeda. Mungkin Ayahnya terlihat tenang, tapi saya tahu hatinya lebih mellow dibanding saya.

Kemayoran tidaklah jauh dari tempat tinggal saya. Namun, tidak semudah itu saya dan suami bisa menemui, menatap, menguatkan secara fisik bahkan membelai dan memeluknya jika dia kelelahan seperti biasanya.

Ada sekat sangat-sangat tebal, nyata sekaligus kasat mata yang memisahkan kami. Dunia kami seolah-olah berbeda; tak bersentuhan walaupun masih bisa berkomunikasi hanya lewat pesan di handphone.

Hingga akhirnya, ada pesan masuk malam itu menjelang pukul 00.00.

Teteh Salma banyak cerita. Perlengkapan APD ada dan lengkap untuk saat ini. Makan disediakan seadanya. Tidak ada yang istimewa dan berlebihan. Begitu juga dengan suplemen dan susu. Sehari sebelum masuk wisma masih bisa belanja keperluan pribadi untuk sebulan kedepan. Setelah itu tidak boleh keluar dan diisolasi.

Hari itu juga sudah ada pasien yang masuk. Dan Teteh Salma bertugas di lantai 4 kamar rawat inap. Menurutnya, saat ini dia bertugas di kamar rawat inap pasien positif corona, dengan memakai APD lengkap. Untuk kontak dan komunikasi dengan pasien menggunakan VC di handphone. Semua serba dijaga.

Waktu saya tanya sudah makan belum, Teteh Salma bilang baru saja makan dan saat itu jam digital saya menunjukan pukul 23.50. Menjelang tengah malam. Dia ini paling sulit makan teratur. Kadang lupa. Maagnya juga sering kambuh.

Allah, sehat dan kuatkan!

Di Wisma Atlet selain dokter dan tenaga kesehatan, ada juga anggota TNI dan POLRI yang ikut berjaga. Terbagi dalam beberapa lantai. Semoga mereka pun sehat dan terjaga dari paparan virus.

Teteh Salma sedikit curhat.
“Bun, pakai APD itu panas dan bikin dehidrasi. Mesti pakai delapan jam. Tapi ini satu jam aja udah pusing berat dan panas. Engga bisa makan dan minum. Engga bisa toiletris juga.”

Allah, kuatkan hatinya! Kuatkan pundaknya! Agar tugas ini dia terima dengan ikhlas dan sabar.

Mereka disana sedang berperang. Berperang dengan musuh yang tidak terlihat dan bisa menyerang kapan saja.

Hasbunallah wani’mal wakiil”
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Sandaran.

Jakarta, 25 Maret 2020

Saya, Irma Purwalarawati Arief
Bunda seorang mahasiswi keperawatan yang sedang berjuang bersama para dokter, perawat dan tenaga kesehatan di Wisma Atlet Jakarta.

Poto : Koleksi Pribadi

Diposting pertama kali di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief