The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 3

The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 3

Bismillahirrohmanirrohiim

Sudah satu minggu Teteh Salma di Wisma Atlet. Dua hari pertama masih bisa lancar komunikasi dan banyak bercerita mengenai tugas barunya. Walaupun dia terlihat baik-baik saja, tetap saya banyak mengingatkannya untuk selalu berhati-hati, istirahat dikala senggang, dan jangan lupa makan serta suplemen dan susunya.

Saya memang termasuk ibu yang bawel untuk urusan perutnya.

Sempat dia mengeluh, makannya ada ikan goreng. Padahal, ikan goreng dia kurang suka. Saya bilang, makan saja apa pun itu dalam kondisi seperti ini agar perut ada isinya.

Setelah hari ketiga, pesan yang saya kirim hanya ceklis dua warna abu.
Beberapa kali ayahnya mengingatkan saya untuk tidak menghubunginya terus.

“Titip anak kita sama Sang Maha Penjaga, dia punya Allah. Yang penting kita ikhlas dan banyak berdoa,” kata Ayahnya menenangkan saya.

Teteh Salma baru bisa membalas pesan saya setelah sekian jam bahkan satu harian.
Selalu jawabnya, “Eneng baik, Bunda!” atau, “Eneng sehat, Nda!”

Allah! Jaga sulung saya!

Saya tahu, apa yang dia ucapkan untuk menenangkan hati saya. Padahal, tugasnya kali ini cukup berat dan berisiko. Dia memang anak yang sangat mandiri dan tak mau merepotkan saya dan Ayahnya.

Saya teringat, ketika dalam masa-masa praktek, Teteh Salma sering enggan ditanya secara mendalam. Hanya bilang, “Bunda doain aja! Jangan kepo dulu ya!”

Setelah pulang beberapa hari, selesai makan malam, Teteh Salma banyak berbicara dengan saya dan Ayahnya. Kebetulan di rumah hanya ada kami bertiga. Itu pun jika dia sedang masuk masa perkuliahan dan tidak ada tugas ke daerah terpencil. Terkadang, jika mulai capek; jenuh kuliah dan dinas, Teteh Salma sering mengajak saya menengok adik-adiknya yang sekolah di dua boarding school yang terpisah. Kangen katanya.

****

Update jumlah pasien positif dan meninggal Sabtu kemarin, semakin meningkat.
Saya dan Ayahnya selalu memantau perkembangan masalah ini.
Banyak kabar yang masuk terutama dari grup FKDM DKI JAKARTA dimana suami saya menjadi anggotanya.

Saya coba kontak Teteh Salma.
Jawabannya … membuat saya semakin menyesakkan dada.

Ya Allah! Kembali hamba meminta!
Lindungi mereka yang berjuang di sana.
Berikan mereka kekuatan dan kesehatan.
Mudahkan jangan dipersulit!

Allah, ampuni kami yang sering lalai!
Ampuni kami yang sering sombong dan Kufur atas nikmat-Mu!

“Bun, hari ini pasien positif tambah banyak.”

“Nda, IGD penuh terus. Tiap waktu ada aja yang masuk dan positif.”

“Bunda, vitamin C udah berkurang. Kami cuma dikasih 7 biji saja itu pun dari kampus. Dari 7 biji itu pun dibagi lagi ke anak poltekkes 3 yang engga dapet dari kampusnya. Dari Wisma dikasihnya imboost aja. Padahal imboost itu engga boleh saat ini.”

“Nda, doain ya! Semoga kami disi tetap sehat dan baik-baik saja.”

Itu hanya beberapa pesan yang dikirimkannya kemarin malam setelah dia menunaikan tugasnya.

Dan pagi ini, dia sempatkan telepon saya. Teteh Salma minta dikirim Vit C. Dan dia bilang kalau para mahasiswa poltekkes yang ada benar-benar seperti perawat sesungguhnya yang bertugas harian di RS dan terjun mengurus pasien secara langsung.

Kebanyakan dokter yang bertugas di Wisma Atlet adalah dokter TNI dan POLRI . Mereka kerepotan dalam management perumahsakitan sehingga para mahasiswa “dituntut” bekerja layaknya perawat. Insya allah … mereka akan menjadi perawat yang tangguh di masa yang akan datang.

Semangat Nak! Semoga badai ini segera berlalu.

Jakarta, 29 Maret 2020

Saya, Irma Purwalarawati Arief

Bunda seorang Mahasiswa Keperawatan yang sedang berjuang bersama para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan di Wisma Atlet Kemayoran.

Poto : pribadi

Diposting pertama kali di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief

2 comments

Comments are closed.