The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 4

The Journey of Ratunoor Salma : Ketika Covid-19 di Sekelilingku – Bagian 4

Bismillahirrohmanirrohiimm

“Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nasyir”
Ya, Allah aku mohon pertolongan, karena Engkaulah sebaik baiknya pertolongan.

Hari ini, tepat dua minggu sudah Teteh Salma bertugas sebagai volunteer tim medis RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran.

Dalam kurun waktu dua minggu itu, banyak hal baru yang Teteh Salma temukan di sana dan bisa jadi ini pengalaman terbaik di akhir masa kuliah. Pengalaman yang akan selalu dikenang sepanjang hidupnya dan menjadi penguat jejak langkahnya menuju profesi sebagai perawat handal yang siap mengabdi untuk negeri.

Awalnya, Teteh Salma dan teman-temannya hanya volunteer tim medis yang dikirim dari kampus,namun nyatanya di lapangan justru mereka berdinas layaknya perawat sesungguhnya dengan jam kerja yang teratur dan terjun langsung menangani pasien positif Covid-19.

Seperti yang pernah diceritakan Teteh Salma, Mahasiswa Poltekkes 1 Jakarta yang menjadi tim medis terbagi menjadi beberapa kelompok.

Teteh Salma masuk kelompok 1 yang berdinas di hari pertama RS Darurat resmi beroperasi. Menurut edaran, untuk para mahasiswa akan bergantian waktu tugasnya. Jika sudah purnatugas maka mereka harus dikaratina atau isolasi selama 14 hari di Wisma Atlet sebelum pulang kembali ke rumah. Itu pun jika tidak ada perubahan dari skedul. Namun, jika ibu pertiwi masih membutuhkan tenaganya, mereka harus siap berdinas kembali.

Ada banyak cerita lewat pesan yang dia kirim dikala senggang menunggu giliran jaga. Terkadang tugasnya di kamar inap pasien positif atau ditugaskan di ruang IGD.

Bagaimana pun kuatnya mental Teteh Salma, tetap ada sisi kesedihan yang dia rasakan ketika mendengar sudah banyak para dokter dan perawat yang gugur di garda depan dalam menangani covid-19. Mereka pahlawan kemanusiaan yang terpapar dan positif terkena virus.

Cerita lain, mengenai kurangnya Vitamin C yang diterima anak-anak mahasiswa selama disana. Padahal, Vitamin C adalah salah satu elemen penting sebagai daya tahan tubuh.
Sampai-sampai Teteh Salma minta saya mengirimkan lewat gosend. Ayahnya mencoba mencari ke berbagai toko obat dan apotik. Qadarullah, semua persediaan Vitamin C kosong menyusul masker dan handsanitizer yang sudah menghilang di pasaran terlebih dahulu. Kalaupun ada dengan jumlah terbatas dan sangat mahal.

Alhamdulillah, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, dikala saya kesulitan mencari Vitamin C dosis tinggi 500 mg, ada satu suplier pakaian muslim di Bandung, tempat saya mengambil baju-baju untuk olshop, dengan antusias menanyakan vitamin seperti apa yang dibutuhkan dan langsung meminta alamat kirim. Beliau tergerak setelah saya bercerita betapa susahnya mencari Vitamin C -untuk Teteh Salma dan teman-temannya- dalam waktu dekat di daerah tempat tinggal saya.

Dalam hitungan beberapa jam, beliau sudah mengabarkan bahwa Vitamin C yang dibutuhkan sebanyak lima botol isi 30 tablet sudah dikirim ke alamat saya.

Masyaallah tabarakallahu.
Pertolongan Allah begitu dekat. Dan belakangan baru saya tahu, Vitamin C pun sudah sangat langka dan kalaupun ada harganya cukup tinggi di pasaran.

Terima kasih banyak untuk dua orang berhati mulia yang dikirim Allah di saat yang tepat. Semoga Allah membalas semua kebaikannya dengan pahala yang besar di hari penghisaban kelak.

Terakhir, ada satu lagi yang disampaikannya. Kejadian yang cukup membahayakan ketika sedang bertugas.

[Bunda, tadi ada pasien positif dan dia ngamuk-ngamuk. Tau engga, Bun? Dia ngerobek-robek APD yang dipakai perawat dan sampe ngeludah (ke perawat yang menjaganya). Ada salah satu perawat ya digigit tangannya sama pasien itu. Sekarang perawat itu dipindah ke RSPAD. Mungkin stress kali ya, Bun? Stress karena tau dia positif dan udah dirawat di lantai 3 sebelumnya]

Ya Allah!
Saya bergidik dan ngeri membayangkannya. Bagaimana dengan para perawat itu akhirnya?
Sampai saat ini saya belum ada kabar lagi. Si teteh langsung centang satu ketika saya tanya.

Ternyata, Covid-19 tidak hanya menelan korban jiwa pada akhirnya, tapi juga mempengaruhi psikologi para pasiennya ketika sudah dinyatakan positif.

Ya Allah, kembali saya langitkan doa-doa kepada Rabb Pemilik Langit dan Bumi agar melindungi, memberikan kesehatan, dan menguatkan pundak, jiwa, serta semangat para dokter, tim medis, dan nakes.

Saya tahu, Teteh Salma begitu mencintai dan fokus pada apa yang dia kerjakan saat ini. Termasuk tugas dari kampus yang sangat mempertaruhkan nyawanya.

Bisa dibilang, izin yang dia minta kali ini mempunyai dua pilihan yang cukup sulit untuk saya dan ayahnya.
Kembali pulang dengan sehat seperti awal dia pergi atau ini bisa jadi pertemuan terakhir karena terpapar wabah virus corona dari pasien yang dia temui.

Ya Allah, ampuni saya jika suatu hari dulu pernah bersuudzhon akan nasib ananda!

Semangatnya, rasa tanggung jawabnya, pemikiran yang dewasa dalam langkahnya membuat saya menjadi lebih memahami bagaimana dia kelak di masa yang akan datang.

Semoga ghiroh dan energi positifnya akan menular kepada adik-adiknya kelak.

Saya, dan juga semua penduduk Indonesia memiliki harapan dan keyakinan jika kita akan segera terbebas dari wabah ini. Badai akan segera berlalu. Insyaa allah.

Suatu saat kelak …
Kita akan berkumpul lagi dengan saudara, sanak keluarga, dan orang-orang yang kita cintai.
Kita bisa menatap dan bersenda gurau kembali dengan teman maupun sahabat seperti dulu.

Semoga Idul Fitri tahun ini, kita berkumpul dalam kebahagiaan. Tanpa masker, handsanitizer, disinfektan, atau pun sarung tangan.
.

Jakarta, 05 April 2020

Saya, Irma Purwalarawati Arief
Bunda seorang Mahasiswa Keperawatan yang sedang berjuang dengan para dokter, perawat, tenaga kesehatan di Wisma Atlet Kemayoran.

Poto : pribadi

Diposting pertama kali di Facebook

rumahmediagrup/irmasyarief