Think More, Less Talk

Think More, Less Talk

“Bunda, Rayyan was very naughty. He was so loud and he spoiled the fun.”

Kemarin, Lana menghampiri saya dengan muka bersungut-sungut. Saya memang meninggalkan mereka bertiga di lokasi pertunjukan sulap sebuah pusat perbelanjaan. Sementara saya dengan cepat berbelanja barang kebutuhan dapur.

Setelah pertunjukan selesai, mereka bertiga menghampiri saya dan mengadukan tingkah laku Rayyan selama menonton pertunjukan. Saya tidak sempat berbicara langsung pada Rayyan hari itu, karena harus mengerjakan sesuatu.

Pagi tadi saya baru mengajaknya bicara dengan serius. Saya memang membiasakan anak-anak untuk berdiskusi tentang segala hal. Termasuk tentang tingkah laku mereka, baik dan buruk, the do’s and the dont’s.

Could you tell me what happened yesterday during the magic show?”

Huh? I didn’t do anything.”

Are you sure?”

Well, I was very noisy.”

And? Did you spoil the fun?”

Yes, I did. But that’s because I already knew the trick, Bunda. I’ve seen it a lot in Youtube.”

Rayyan memang termasuk anak yang cerdas. Ia dengan cepat akan menangkap segala hal baru, terutama yang menarik perhatiannya seperti pertunjukan sulap.

Do you know that magician is a profession? That is how he earn money, by doing shows. If you spoiled the fun and acted smart like yesterday, how do you think he would feel?”

“Sad?”

Mata bulat putra bungsu saya itu pun langsung berkaca-kaca. Rayyan memang anak yang perasaannya sangat halus dan mudah meneteskan airmata. Di balik tingkahnya yang sangat aktif dan pecicilan, ia adalah anak kecil yang lembut hati dan mudah jatuh iba pada orang lain.

Saya melihat gurat penyesalan di wajahnya. Ia terus menerus minta maaf dan menyatakan penyesalannya.

Be humble, Nak. Walaupun kelak ilmu dan pengetahuanmu lebih daripada orang lain, hendaknya utamakan pikir dulu sebelum bersuara. Itu lah mengapa Allah menciptakan ukuran otak manusia lebih besar daripada mulut.

So we think more than talking, Bunda?”

Exactly. Try to be in his shoes. If you were the magician, how would you feel?”

Sad. Sorry, Bunda.”

Jangan mengecilkan orang lain dengan tingginya ilmu mu, Nak. Cobalah berpikir dan berada di posisi orang lain. Dengan begitu kamu akan tahu bagaimana cara ber empati dan memiliki kepekaan pada sekitar.

Belajarlah menghargai orang lain jika dirimu ingin dihargai. Tahan lisanmu dan gunakan untuk lebih banyak berpikir.

Respect is earned, not given.

rumahmediagrup/rereynilda