Tiba-tiba Saja Part-1

Kenyataan dari Sebuah Fatamorgana

‘Perempuan adalah bagian dari tulang rusuk laki-laki’ Aku adalah bagian dari tulang rusukmu wahai suamiku, maka biarkan aku menjaga sesuatu dari balik tulang rusukmu yaitu hatimu. Aku pun berulang kali harus menahan keinginan karena aku tak mau hatimu kecewa. Yang namanya keinginan tentu tak kan pernah usai. Hehe selalu ada saja. Selama dalam batas kewajaran, bagiku oke saja. Ini bagian dari memanjakan diri. Itu lebih baik, daripada manja pada orang lain.

Dia sering menyebalkan setiap hari jarang memberikan pujian untukku. Itu menurut perasaanku sih. Aku adalah seorang istri, harusnya aku diperlakukan seperti seorang permaisuri. Haha… Lebay… Nyatanya kebisaanku tidak menjadikan bahan ketertarikan baginya. Meski ketika aku curi-curi tahu, dia memujiku juga di luar sana. Aku sebenarnya tidak menerima hal ini, tidak seperti yang ada di dalam anganku pada saat aku menginginkan membangun sebuah mahligai pernikahan. Suamiku bawaannya marah setiap hari. Seolah tidak ada yang benar dengan segala apa yang kulakukan. Sebenarnya apa maunya? Padahal aku bukan hanya di rumah, tetapi aku juga bekerja. Hehe… Membela diri. Waktuku tidak cukup untuk seluruh aktivitas kewajiban kodrat sebagai seorang istri sesempurna keinginannya.

Sudah kusiapkan segala kegiatan yang berhubungan dengan bagaimana melayani suami sampai waktu yang kutunggu-tunggu, dia tidak juga datang. Sehingga untuk merintang waktu, aku membuka laptop. Dan mencipta sebuah karya. Nikmatnya mencipta dalam suasana sepi begini. Saat asik menulis, sekilas terdengar suara di gang sebelah rumah. Tiba-tiba ekor mataku menangkap bayangan orang. Spontan aku menoleh. Suamiku mengintip di balik pintu, sedetik kemudian masuk dan berdiri di sampingku. Kupandangi dari ujung wajah yang menyeruakkan sejuta senyuman sampai terhenti di tangannya. Dia sodorkan sebuah tas dan dia ucapkan. “Selamat hari ibu … ” Masih dalam keadaan penuh tanda tanya, kuterima dengan bimbang dan kubuka … Android …?

Asparaga, 06102020