Tiba-tiba Saja Part-2

TANGAN MENGEMBANG

Wuri sudah lama kenal denganku. Orangnya sok borju, sok aristokrat dan super riak. Wajahnya cantik, paling cantik di antara teman-teman dalam kelompoknya. mungkin juga karena perawatan yang dia lakukan setiap hari, agar pelanggan di dalam salon kecantikannya lebih percaya dan menjadikan dia adalah contoh. Saya mengakui kelebihan yang dia punya. Yang saya heran, apa karena sudah punya segudang kelebihan sehingga gayanya sangat sok-sokan. Harusnya jika dia mau lebih rendah hati, saya yakin orang akan lebih menghormatinya.

Dia wali murid di kelas saya. Awalnya saya senang, ada seorang teman dekat, menjadi wali murid di kelas saya. Lebih kurang, ini akan menjadi bagian dari penguatan hubungan dan kepanjangan tangan dari program-program sekolah terutama program kelas. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dia satu-satunya provokator yang menjadi batu sandungan di setiap langkah inovasi. Kita tahu kan yang disebut sebagai inovasi tentu adalah sesuatu yang baru yang tidak biasa dilaksanakan sebelumnya.

Namun, sesuatu yang baru ini mereka tengarai sebagai hal yang tidak lumrah. Berdasarkan ini pula maka inovasi-inovasi yang saya lakukan mengalami hambatan yang signifikan. Bukan hanya bicara di belakang saya, ditanamkan ketidaksetujuannya melalui anak-anaknya, bahkan melalui rapat wali murid dengan cara menyampaikan tawaran setuju atau tidak dengan pendapatnya kepada wali murid yang hadir di dalam rapat.

Ujung dari pertemanan pun berubah menjadi hubungan yang tidak baik. Hubungan saya dan dia menjadi semakin parah, ketika ulangan demi ulangan nilai anaknya semakin menurun. Itu pun tak berhenti di situ, sampai akhirnya kami berpisah dan dia menjadi penghuni grup kelas lanjutan atau kelas berikutnya.

Enam bulan berlalu. Kami tidak pernah bertegur sapa. Saya pun sangat malas melihatnya. Bagaimana tidak malas, jika mau di sapa dia melengos, mengalihkan pandangan ke tempat lain. Saya sih bersyukur lebih baik tidak berhubungan dengan dia daripada mengganggu jiwa saya dalam perjalanan mendidik anak-anak. Itu adalah komitmen yang saya tulis dalam hati. Untuk sementara sih. Saya tahu hal ini dosa memutus hubungan silaturahim. Saya tetap berharap hubungan menjadi baik lagi. Itu bagian dari doa saya yang insya Allah sudah dicatat oleh malaikat dan Allah.

Setiap saat saya selalu dipertemukan dengannya seperti pada saat ini. Dari kejauhan dia memandang saya dengan tersenyum dan mengembangkan kedua tangannya sambil dia memanggil nama saya. “Bu Sertiiiiiiiii‚Ķ.!” setelah dekat dia memeluk saya dan berbisik. “Hanya njenengan guru yang inovatif di sekolah ini. Maafkan aku yah”. Masya Allah semoga tidak menjadikanku riak dan sombong.

Alhamdulillah, yang membuatku bersyukur bukan pujiannya, tetapi kami baikan lagi. Silaturahim tersambung lagi.

Asparaga, 09102020