9 Tips Merawat Taman Pasutri, Memupuk Rasa Kian Subur

9 Tips Merawat Taman Pasutri, Memupuk Rasa Kian Subur

Semangat pagi!

Kapan pun Anda membaca artikel ini, tetaplah semangat seperti mentari pagi yang menyapa. Tiada bosan bersinar walau kerap cahayanya terhalang gumpalan pekat awan.

Berbicara tentang pasutri (pasangan suami istri), saya teringat sebuah pertanyaan di timeline seorang penulis buku best seller. Isinya kurang lebih seperti ini, bahwa rasa cinta suami istri dapat berkurang seiring bertambahnya usianya pernikahan. Benarkah demikian?

Jawabannya ya atau tidak.

Ada benar, ada juga yang salah. Tergantung bagaimana pasutri itu merawat taman cinta dalam hati.

Ada banyak komentar yang masuk di dalamnya, salah satunya tentu komentar saya. Berikut beberapa tips yang saya dan suami lakukan. Memang usia pernikahan kami belumlah sepuluh tahun, tepatnya beberapa bulan lagi menjelang 10 tahun.

Warning! Siapkan waktu Anda untuk membaca tulisan ini. Bisa jadi ini adalah tulisan panjang yang ada.

Tulisan ini hadir bukan karena saya dan suami adalah pasangan sempurna dan dari keluarga sempurna. Bahkan saya dan suami sama-sama berasal dari keluarga yang broken heart. Tak ada contoh yang dapat diteladani, selain belajar untuk terus memberikan yang terbaik.

Merujuk pada kasih-Nya yang tak pernah lelah, bahwa kebahagiaan itu milik semua bagi yang mau meraihnya.

Intip, yuk, tips ala saya dan suami :

1. Niat

Yuk, kembali selami hati dan pikiran. Apa sebenarnya niat pernikahan yang dijalin?

Apakah karena harta? Cinta pandangan pertama? Cinta mati? Ah. Berbicara tentang cinta mati, saya rasanya sedikit ragu. Benarkah itu bisa dikatakan sebagai cinta sejati?

Sedangkan cinta sejati adalah cinta berdasarkan asma-Nya. Nama yang tersemat tulus dari hati, bukan sekadar asma yang hanya terucap di lisan.

Tahukan filosofi lidah? Ia adalah benda lembut nan kenyal tak bertulang, namun berbisa daripada ular dan tajam dari pedang.

2. Alasan Rasa

Bagaimana rasa cinta yang hadir dalam hati? Apakah ia masih semanis madu atau mulai menawar seiring waktu. Kalau kata suami saya, cintanya kepada saya tanpa alasan. Kok, bisa?

Katanya jika cinta itu beralasan, maka bisa jadi cinta bisa luntur karenanya. Contoh saja, alasan karena sikap yang baik atau santun, jika ternyata pasangan berubah egois atau pemarah lalu cinta bisa saja terkikis.

Atau karena rupa. Wah, jika rupa tak lagi seindah purnama bisa jadi cinta menghilang bersama sinarnya. Karena itu, ia bilang cintanya tanpa alasan. Jadi, apa pun yang ada dalam diri saya diterima semua tanpa terkecuali hingga kapan pun.

Bagaimana dengan saya? Kalau saya tentu punya alasan, karena setiap rasa bagi saya pasti ada sebab akibatnya. Alasan saya mencintai apa? Saya mencintai segala yang kurang darinya.

Kenapa? Di saat saya mampu mencintai kekurangannya, maka saat kelebihannya ada rasa cinta itu akan terus bertambah. Begitu pun sebaliknya. Maka, dapat saya pastikan bagaimana pun keadaannya cinta itu terus tumbuh subur.

Aciee… gombal, ya. Dalam membina sebuah rumah tangga gombal itu perlu untuk meningkatkan keromantisan. Percayalah.

3. Komunikasi

Hal terbesar yang berperan dalam sebuah hubungan adalah komunikasi. Sebenarnya bukan hanya dalam hubungan suami istri. Komunikasi menajdi kunci dalam segala hal yang berhubungan dengan orang lain. Apa pun itu. catat, ya.

4. Me Time Berdua

Kalau berdua bukan me time, dong. Haha… apalah istilah, berikan waktu untuk berdua saja. Tak mesti harus keluar rumah. Saat anak tidur atau bahkan saat menemani anak bermain. Duduklah berdekatan dengan pasangan Anda. Jangan gengsi apalagi malu. Kan sudah halal.

Jangan sampai terbalik, seperti sinetron dunia tibalik. Belum menikah dempet-dempetan eh sudah menikah punya anak, jangankan gandengan, duduk berdekatan saja jarang. Alamak!

Biasanya saat ngobrol berdua ada saja hal yang dapat dibicarakan, dari hal kecil sampai besar dapat dibicarakan di sini.

5. Saling Bermanja

Makan bersama, suap-suapan. Iih… manja banget. Jangan salah! Kemanjaan itu tak hanya hadir pada pasangan pengantin baru. Seharusnya semakin lama bersama kemanjaan itu terus ada. Lah, kalau bukan pasangan yang memanjakan, terus mau salah satunya mencari kemanjaan ke tempat lain?

Kadang di akhir pekan, suami memasak dan menyuapi saya. Walau kadang ia meminta maaf karena tak mengajak jalan-jalan keluar kebun. Bagi saya kebersamaan itu lebih berharga, tak tergantung pada tempat.

Hal manja apalagi yang dapat dilakukan? Gandengan tangan, minta tolong dibangunkan dari tempat tidur, melepas dan memasangakan baju suami, dan banyak hal sepele lainnya.

Catatan! Bukan karena malas dan tiap saat, ya.

6. Pelukan

Teringat sebuah kisah dari teman yang usianya jauh lebih tua dari saya. Bahkan bisa dikatakan ia seumuran orangtua saya. Ia mengeluh akan pasangannya dan saat saya menyarankan untuk menerapkan pelukan, jawabannya sungguh mengejutkan.

Entah sejak kapan terakhir pelukan itu ada.”

Untuk sepasang suami istri, rasanya aneh jika dalam kehidupan bersama pelukan itu tak ada. Wajarlah jika rasa itu terkikis dan bahkan menghilang.

Tahukah Anda pelukan mempunyai segudang manfaat. Hal yang selalu saya rasakan adalah ketenangan, kedamaian, kenyamanan, dan tentu saja kebahagiaan. Bahkan kala saya marah, merajuk, obatnya Cuma pelukan. Gampang kan? Haha…, meski ada yang bilang obatnya segepok uang, makan bakso, shopping, atau apalah. Saya entah kenapa obatnya gratisan.

Saya selalu bilang sama suami. “Yayang itu rasanya damai kalau memeluk A. Rasanya hidup itu tak ada beban.”

Pun sebaliknya, saat suami merasa stres karena pekerjaan dan Anda sebagai istri tak mengerti harus membantu apa. Cukup peluk, elus kepalanya. Kalau saya tambah modal angkup untuk mencabut uban dan jenggot haha.

Nah, mau tahu apa saja manfaat berpelukan dengan pasangan? Klik di sini https://rumahmediagrup.com/2019/11/19/segudang-manfaat-pelukan-untuk-suami-istri/

7. Dengarkan

Tak semua masalah yang dimiliki pasangan mampu Anda bantu selesaikan atau ia ingin Anda membantunya. Terkadang ia hanya perlu tempat untuk berbagi mencurahkan hati dan perasaan. Maka, jadilah pendengar yang baik. Jangan sesekali menyela ceritanya. Perhatikan setiap tutur katanya. Jangan sampai Anda menjadi orang yang enggan mendengarkan atau ahli dalam memprotes curahan hatinya. Bisa jadi nanti pasangan Anda akan mencari tempat lain untuk bercerita. Warning!

8. Terima Kekurangannya

Tak ada yang sempurna. Maka, saat Anda menerima segala kekurangannya, katakan tak apa, tak mengapa. Kelak tanpa disadari ia akan menerima kekurangan yang Anda miliki.

9. Yakin

Yakinlah bahwa Tuhan itu memberikan Anda pasangan yang tepat sesuai dengan diri Anda. Jika ternyata Anda merasa tidak cocok, lihat dulu! Apa yang tidak cocok? Bisa jadi karena awalnya Anda memilih pasangan bukan karena-Nya.

Hmm… apalagi, ya? Sepertinya cukup itu dulu. Pastinya setiap rumah tangga berbeda taman dan pupuk untuk menyuburkannya. Hanya satu yang sama bahwa semua pasti ingin selalu bahagia.

Berbahagialah untuk hati-hati yang di dalamnya penuh dengan rasa cinta tak peduli seberapa lama usia pernikahan Anda.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/walidahariyani