Tips Singkat Membuat Cerpen Cepat

TIPS SINGKAT MEMBUAT CERPEN CEPAT

Salam Literasi,

Salam Semangat! Para pecinta literasi, membuat cerpen itu gampang-gampang–tidak–susah loch, tapi bagi para penulis pemula, membuat cerpen itu sesuatu yang “wah” susahnya. Beberapa ada yang memikirkan ide atau tema cerita, ada yang memikirkan bagaimana jalan ceritanya, seperti apa endingnya, tokoh dan karakter detailnya, dan lain-lain. Nah, kalau terus dipikirkan, kapan mulai nulisnya? hehehe…

Berhubung banyak di antara teman-teman penulis yang bertanya tentang cerpen, maka saya akan sedikit memaparkan tips singkat membuat cerpen cepat. Emang bisa? Ya bisa saja, saya sudah mempraktikkannya, dan–menurut saya, bagi saya–ini yang paling mudah.

Apa sajakah tips-tipsnya? Saya paparkan langsung dengan contohnya. Ini dia;

Langkah Awal – Kerangka

1. Buat tema besar: Cinta

2. Buat tema kecil: Patah hati

3. Buat para tokoh, diusahakan tidak lebih dari 3 tokoh: Robi, Sanjaya, Rani/Ratna

4. Buat alur cerita: Maju – Mundur – Maju (2 – 3 – 1 – 4 – 5)

5. Buat sudut pandang (PoV): Orang pertama

6. Buat ringkasan singkat: [a.] Sanjaya menjadi tertutup dalam cinta setelah ditinggalkan kekasihnya; Rani, untuk selama-lamanya karena kecelakaan motor yang dikemudikan Sanjaya menabrak sebuah mobil. [b.] Sanjaya menjadi seorang pengkhayal dan sering berhalusinasi karena dihantui rasa bersalah dan kehilangan.

7. Buat konflik: Roby; sahabat Sanjaya. Terjadi pertengkaran di antara keduanya diakibatkan Sanjaya menasihati Robi perihal penyakit halusinasi Robi yang terlalu berlebihan tentang Ratna yang diciptakan oleh Sanjaya yang mana Ratna ini adalah sosok bayangan Rani, tapi Sanjaya bersikukuh bahwa dia tidak berhalusinasi.

–Selesai–

Langkah Berikutnya – Mulai menulis

8. Awal cerita – Awal cerita bisa dimulai dengan beberapa cara, klik di sini

[“Aku jatuh cinta, Rob…,” ucap Sanjaya tiba-tiba pada saat kami istirahat makan siang di kantin sekolah. Aku tersedak karena kaget mendengar perkataan Sanjaya yang tiba-tiba, bukan karena ia mengagetkan keheningan kami, namun karena apa yang baru saja diucapkannya.

Saat ini aku berusia 28 tahun dan telah memiliki seorang istri yang cantik dan seorang anak laki-laki mungil berusia 4 tahun. Sanjaya adalah pria yang usianya satu tahun di atasku, namun belum juga memiliki seorang istri ataupun kekasih. Ia berasal dari Jawa Tengah. Semenjak kuliah, ia sudah berpisah dengan kedua orang tuanya dan tinggal sendiri di kosannya di daerah Cihanjuang, Cimahi. Selama 4 tahun kami bekerja sebagai guru di SMAN 1 Cisarua; Kabupaten Bandung ini, belum pernah kulihat ia berjalan dengan seorang wanita atau kudengar ia bercerita tentang kekasihnya.

Sanjaya seorang pria yang tertutup tentang masalah percintaan. Sempat beberapa kali kutanya tentang kekasihnya, kapan ia menikah, namun ia hanya menggelengkan kepala dan menolak membahas masalah cintanya. Ia hanya bilang bila waktunya tiba ia mendapatkan seorang gadis, maka aku akan dikenalkan pada kekasihnya.]

9. Bagian tengah cerita

Saya menulis cerpen ini menggunakan kata “Aku”, yaitu orang pertama dengan diawali alur maju. Setelah selesai membuat awal cerita, mulai melanjutkan tulisan sesuai alur. Saya melanjutkan tulisan dan mulai mengarah ke alur mundur. Alur mundur ini diterjemahkan dengan tulisan; Sanjaya yang menceritakan masa lalunya tentang seseorang bernama Rani; kekasih Sanjaya. Tulisan menjelaskan point  6 [a.].

[…… “Rani adalah kekasih sekaligus cinta pertamaku. Dia gadis yang cantik, baik, pintar dan sederhana. Di kampus ia menjadi incaran banyak lelaki, tapi hatinya menaruh pilihan padaku. Saat itu aku serasa menjadi laki-laki paling beruntung karena bisa mendapatkan cintanya. Dari semester pertama kuliah aku sudah jatuh cinta padanya dan baru memberanikan diri menyatakan cinta padanya di semester 6. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan karena ia juga mencintaiku.

Masa-masa kami pacaran sangat indah. Banyak kenangan yang kuukir dengannya. Tak akan pernah bisa aku melupakan kenangan-kenangan indah saat bersamanya,” jelas Sanjaya dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan tentang kekasih pertamanya. Kemudian ia melanjutkan lagi ceritanya.

“Suatu hari, aku masih ingat waktunya, hari sabtu jam 5 sore aku mengajaknya jalan-jalan keliling Kota Bandung. Saat itu aku berencana untuk melamarnya pada orang tuanya selepas kami pulang dari berkeliling kota. Saat kami hendak pulang, motor yang kukendarai remnya tiba-tiba macet. Di depan kami ada mobil yang berjalan lambat, sedangkan motor yang kulaju begitu cepat. Karena aku takut menabrak mobil di depan kami, akhirnya kubelokkan ke sisi mobil, tapi ternyata di depanku sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah kami, dan motor pun menabrak mobil itu dengan sangat keras. Kami terpelanting jauh. Aku terseret bersama motor sejauh 10 meter ke bahu jalan sedangkan Rani terpelanting ke depan sejauh 20 meter. Karena benturan yang keras dan beban berat motor, aku tak sadarkan diri.

Setelah mulai sadarkan diri, aku telah berada di rumah sakit Hasan Sadikin dengan dikelilingi keluargaku. Ku tanya bagaimana keadaan Rani, mereka bilang….” Sanjaya tidak bisa melanjutkan ceritanya. Matanya berlinang air mata cukup deras. Ia mencoba mengontrol dirinya dan melanjutkan ceritanya.

“Mereka bilang bahwa Rani terluka cukup parah dan banyak mengeluarkan darah saat dibawa ke rumah sakit sehingga akhirnya ia tidak bisa diselamatkan. Aku.. aku shock mendengar… ….]

Tulisan terus berlanjut, mengalis saja, tapi tidak ke luar dari ringkasan, agar mempermudah dalammelanjutkan tulisan/cerita. Tulisan berikutnya adalah menerjemahkan point 6 [b.].

[“Ratna… namanya Ratna. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada Ratna? Karena ia mirip sekali dengan Rani, wajahnya, senyumnya, suaranya, harumnya, mirip sekali, semuanya mirip…. Bahkan namanya hampir sama,” ia menjelaskan. Kini matanya mulai bersinar, tanda ia merasakan kebahagiaan. Aku pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Sanjaya saat ini.

“Mungkin itu hadiah dari Tuhan buat ente Jay, agar ente tidak terus menerus mengingat Rani. Tuhan menggantikan posisi Rani dengan hadirnya Ratna,” ujarku menghiburnya.

“Posisi Rani takkan pernah bisa digeser dengan wanita mana pun, Robi. Ia memiliki ruang khusus di hatiku. Aku sudah mengatakan itu pada Ratna dan ia mengerti keadaanku.”

“Oke… oke…, terus di mana ente bisa bertemu dengan ratna? Gimana awalnya kalian bisa berkenalan? Apa kalian sudah jadian?” cecarku penuh pertanyaan.

“Hari itu menjadi hari spesial bagiku. Seperti kejadian lama yang terulang kembali. Hari sabtu jam delapan malam di tempat yang sama saat terakhir aku bersama Rani. Di tempat aku kehilangan Rani. Di sana aku bertemu dengan Ratna.” Sanjaya mulai menjelaskan secara rinci awal pertemuannya dengan Ratna. Aku serius mendengarkan seluruh ceritanya yang mulai terasa menarik. … ….]

10. Perkuat konflik

Di sini, kita harus apik dalam menerjemahkan konflik. Yang paling mudah adalah dengan percakapan antara tokoh A dengan tokoh B disertai penjelas percakapan melalui narasi.

[….. “Sebentar lagi jam delapan sob, ayo kita siap-siap,” kataku mengingatkan Sanjaya yang sibuk merapikan tempat tidurnya. “Kalau begitu ayo kita pergi, mau pakai motor siapa nih??”

“Gak perlu pakai motor, Rob. Rumah Ratna tidak bisa terjangkau oleh motor.”

“Jauh dong, Jay…?!”

“Gak juga,, cukup pejamkan mata, dalam waktu beberapa menit perjalanan kita akan sampai di rumah Ratna.”

“Maksudnya apa, Jay? Ane gak ngerti!” aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Sanjaya.

Ia kemudian berjalan ke arahku dan tersenyum, “Ratna tidak tinggal di alam ini. Ia tinggal di alam seberang, yaitu alam mimpi.”

Aku kaget mendengar perkataannya. Aku berdiri mendekati Sanjaya, “Ente gila, Jay?? Mana ada kehidupan di alam mimpi..!!” aku menjelaskan.

“Ada Rob, setiap malam saat kupejamkan mata dan tertidur, Ratna mendatangiku. Kami menghabiskan banyak waktu di rumahnya, kadang kuajak ia berjalan-jalan. Bahkan, aku sudah dikenalkan pada orang tuanya. Waktu aku pertama kali bertemu dengan Ratna, itu pun bukan di kehidupan ini, tapi di kehidupan Ratna di alam mimpi. Ia berkata padaku akan menemaniku selamanya,” terangnya.

Gila, sungguh gila apa yang dikatakan Sanjaya. Aku tidak percaya bahwa ia tengah dilanda halusinasi yang begitu kuat sekali sampai-sampai ia mempercayai kehidupan di alam mimpi yang jelas-jelas tidak ada.

“Sanjaya..!! Mimpi adalah mimpi, itu hanyalah bunga tidur, tidak ada kehidupan di alam mimpi, kalaupun ada itu hanyalah kehidupan semu yang diciptakan oleh pikiranmu sendiri,” ucapku menerangkan.

“Kamu salah Rob, di mimpi ada kehidupan yang tidak kita ketahui. Aku percaya bahwa Ratna itu nyata. Jika memang apa yang kualami saat ini hanyalah ilusi. Bagaimana mungkin setiap malam aku mengalami mimpi yang terus bersambung??! Sama seperti di alam ini, di sana pun memiliki kehidupan,” bantahnya.

“Ya Allah…, ente sudah gak waras..!!!” aku menepuk keningku sendiri. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatku.

“Kalau kamu tidak percaya, ayo ikut aku…,” ia menarik tanganku dan menuntunku ke tempat tidurnya. “Ayo kita tidur. Tenangkan pikiranmu dan percaya padaku. Saat mata terpejam, kita akan berangkat menuju kehidupan di mana Ratna berada. Aku akan menuntunmu pada Ratna dan akan mengenalkanmu pada keluarganya. Percayalah, Rob. Ratna itu nyata. Cepat.. cepat.. Ratna pasti sudah menunggu kedatangan kita,” ajaknya memaksaku mengikuti kehendaknya. Kutarik tanganku dari pegangan Sanjaya.

“Sanjaya…, sadar dong ente sadar…? Ente sudah gila.. ente gila..  gak ada namanya kehidupan di mimpi. Sadarlah… sadar…!!!” teriakku mengingatkannya sambil menggoncang-goncangkan tubuhnya agar ia sadar dari halusinasinya. … ….] dan seterusnya.

Kebanyakan kita menulis percakapan yang rancu dan kaku. Rancu karena tidak jelas siapa yang berbicara. Kaku karena tidak ada penjabaran lebih detail tentang, dan bagaimana percakapan itu terjadi. Contoh seandainya saya hanya menggunakan percakapan saja.

[….. “Sebentar lagi jam delapan sob, ayo kita siap-siap, kalau begitu ayo kita pergi, mau pakai motor siapa nih??”

“Gak perlu pakai motor, Rob. Rumah Ratna tidak bisa terjangkau oleh motor.”

“Jauh dong, Jay…?!”

“Gak juga,, cukup pejamkan mata, dalam waktu beberapa menit perjalanan kita akan sampai di rumah Ratna.”

“Maksudnya apa, Jay? Ane gak ngerti!”

“Ratna tidak tinggal di alam ini. Ia tinggal di alam seberang, yaitu alam mimpi.”

“Ente gila, Jay?? Mana ada kehidupan di alam mimpi..!!”

“Ada Rob, setiap malam saat kupejamkan mata dan tertidur, Ratna mendatangiku. Kami menghabiskan banyak waktu di rumahnya, kadang kuajak ia berjalan-jalan. Bahkan, aku sudah dikenalkan pada orang tuanya. Waktu aku pertama kali bertemu dengan Ratna, itu pun bukan di kehidupan ini, tapi di kehidupan Ratna di alam mimpi. Ia berkata padaku akan menemaniku selamanya.”

“Sanjaya..!! Mimpi adalah mimpi, itu hanyalah bunga tidur, tidak ada kehidupan di alam mimpi, kalaupun ada itu hanyalah kehidupan semu yang diciptakan oleh pikiranmu sendiri.”

“Kamu salah Rob, di mimpi ada kehidupan yang tidak kita ketahui. Aku percaya bahwa Ratna itu nyata. Jika memang apa yang kualami saat ini hanyalah ilusi. Bagaimana mungkin setiap malam aku mengalami mimpi yang terus bersambung??! Sama seperti di alam ini, di sana pun memiliki kehidupan.”

“Ya Allah…, ente sudah gak waras..!!!”

“Kalau kamu tidak percaya, ayo ikut aku…. Ayo kita tidur. Tenangkan pikiranmu dan percaya padaku. Saat mata terpejam, kita akan berangkat menuju kehidupan di mana Ratna berada. Aku akan menuntunmu pada Ratna dan akan mengenalkanmu pada keluarganya. Percayalah, Rob. Ratna itu nyata. Cepat.. cepat.. Ratna pasti sudah menunggu kedatangan kita.”

“Sanjaya…, sadar dong ente sadar…? Ente sudah gila.. ente gila..  gak ada namanya kehidupan di mimpi. Sadarlah… sadar…!!!” … ….]

11. Membuat ending.

Kebanyakan dari penulis yang bertanya pada saya adalah, “Bagaimana membuat ending cerita?” atau, “Saya nulis sudah berhalaman-halaman, tapi kok belum kelar-kelar ya cerpennya?” bahkan, “Ending yang menarik harus pakai Sad atau Happy Ending ya?” Nah, jawaban dari 3 pertanyaan tersebut adalah; (a) untuk membuat ending cerita ya tinggal selesaikan naskah cerpennya. Bila telah selesai berarti sudah tamat toh.. hehe.. (b) sudah nulis berhalaman-halaman, untuk membuat tulisan cerpennya selesai atau tinggal diputuskan saja atau berhenti menulis; kembali ke jawaban pertama. (c) Ending yang menarik tergantung bagaimana si penulis meramu tulisannya dari awal sampai akhir. Jadi, jangan fokus ke ending, tapi fokus ke inti cerita (ringkasan dan konflik) maka ending dengan sendirinya akan terbentuk.

Ending cerita dibagi menjadi dua; terbuka dan tertutup. Ending tertutup itu sudah jelas; sedih/sad atau bahagia/happy. Ending seperti ini sudah umum, dan menurut saya sih kurang begitu menarik, karena pembaca merasa sudah selesai membaca cerpennya, sehingga ketika selesai membaca, ya sudah, selesai. Ending terbuka adalah ending yang tidak jelas, apakah berakhir bahagia atau sedih. Ini lebih menarik, karena mengajak pembaca berpikir tentang kelanjutan cerita yang kita buat. Membuat pembaca penasaran bahkan menerka-nerka seperti apa ending-nya. Hanya sedikit penulis yang memakai ending terbuka, padahal ini bisa menjadi trik marketing untuk mengajak pembaca menanti-nanti karya kita selanjutnya.

Contoh ending dan keseluruhan dari cerita ini ada di buku nubar #11 “Tangis Tawa Kehidupan” berjudul “Saat Mata Terpejam”.

Itu saja tips singkat yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat. Bila ada yang ditanyakan, langsung ajukan saja pertanyaan di kolom komentar. Saya akan menjawabnya bila bisa menjawabnya. Jika tidak, akan dijadikan PR untuk saya belajar lagi.

Salam Semangat!!

rumahmediagrup/alfafa

2 comments

Comments are closed.