Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Dalam penelitian kualitatif, hasil dituliskan dalam naskah. Dan ini biasanya berlembar-lembar, banyak sekali.  Ada juga yang 500 lembar lebih. Saat hasil skripsi mahasiswa bimbingan saya diujikan. Terdapat 300 halaman lebih. Dosen penguji komentar, “Are you sure? Ini tebal banget?” Nah, coba kita diskusikan ya, banyaknya halaman naskah dalam penelitian kualitatif itu sebuah keharusan atau tidak.

Sebenarnya, banyak sedikitnya halaman naskah laporan hasil penelitian itu tidak menjamin kualitas hasil temuan sebuah penelitian. Yang terpenting bukan dari banyaknya halaman tetapi kualitas hasil temuan. Pemaknaan atas temuan, apakah dilakukan dengan kritis atau tidak. Content analisisnya dilakukan secara prosedural kualitatif atau tidak.

Banyaknya halaman pada laporan hasil penelitian kualitatif disebabkan memang kerja kualitatif lebih detail. Dalam laporan tersebut dituliskan sesuai temuan di lapangan. Bab isi temuan dibuat per rumusan masalah. Tetapi sebenarnya, semua tergantung pada gaya penulisan si peneliti. Penelitian kualitatif tidak menuntut keharusan tertentu dalam menuliskan hasilnya. Semua tergantung pada paradigma yang digunakan dan tergantung pada gaya penulisan si peneliti itu sendiri.

Paradigma pemaknaan pada penelitian kualitatif, menjadikan jawaban informan dimaknai sebagai jawaban atas permasalahan penelitian. Nah, menjelaskan makna-makna ini membutuhkan banyak uraian, banyak kalimat, dan banyak makna. Hal ini yang menyebabkan banyaknya halaman. Bayangkan saja, jika informannya berjumlah 10 orang. Masing-masing jawaban dari 10 orang tersebut harus dimaknai. Maka dipastikan banyak banget jumlah halamannya. Belum pemaknaan atas teori dan empiris sebelumnya.

Permasalahannya adalah bukan pada jumlah halaman ya, namun pada pemaknaan tersebut. Kualitas makna yang disajikan itu menunjukkan kualiatas analisis. Tetapi, seringkali pada peneliti pemula menyajikan penelitian kualitatif penuh dengan kalimat-kalimat. Ya gak masalah sich. Tapi, jadi bosan yang baca.

Penyajian hasil penelitian kualitatif bisa juga dibuat dalam bentuk gambar-gambar, tabel, diagram, dan lainnya. Konteks penyajian menggambarkan kategori-kategori temuan. Tema-tema dalam sub bab temuan disajikan dalam diagram ataupun tabel. Sehingga naskah menjadi menarik dan memudahkan pembaca untuk menemukan hasil dengan lebih cepat, daripada hanya dalam bentuk kalimat-kalimat.

Jawaban informan juga disajikan dalam naskah. Kemudian dimaknai dan dibahas dengan analisis tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya. Pemaknaan atas jawaban informan bukan berarti menuliskan kembali jawaban informan. Tetapi jawaban tersebut dimaknai/diintepretasikan. Kemudian dianalisis dengan pisau analisis teori.

Jika hasil pemaknaan dilakukan hanya menulis ulang apa yang dikatakan informan. Hal ini berarti pemaknaan belum dilakukan. Proses analisis belum dilakukan. Dan tidak ada artinya walaupun berlembar-lembar jumlah halamannya.

Fokuskan semua jawaban informan telah dimaknai. Dituliskan kembali dalam naskah, beserta makna yang telah dilakukan. Tidak berdiri sendiri ya. Menyelami apa yang dikatakan informan dengan pemaknaan teori tertentu. Memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Detailnya jawaban informan juga harus didukung dengan kritisnya pemaknaan si peneliti. Sayang banget jika ditemui jawaban informan yang lengkap, tetapi tidak diikuti dengan kritisnya makna yang diberikan oleh peneliti.

Jadi, tugas peneliti adalah memberikan makna di tiap jawaban informan. Dan menjelaskan jawaban informan dalam pola pikir yang kritis. Kemudian menyuguhkan hasil pemaknaan ini dalam naskah laporan hasil penelitian dengan menarik. Tidak membosankan dengan kalimat-kalimat panjang. Jika semua dilakukan, maka dipastikan naskah yang banyak jumlah halamannya tersebut diikuti dengan isi naskah yang “padat” analisis dan kritis. Nah, bukan seperti tong yang nyaring bunyinya. Padat, banyak kalimat, banyak halaman, namun tidak ada “isi” analisisnya.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita kristina