Too Much Love Will Kill You

Too Much Love Will Kill You

Terlalu berlimpahan kasih sayang alias cinta bisa membunuhmu? Hmm … kadang saya suka menyenandungkan lirik lagu ini walau lupa-lupa ingat siapa penyanyinya.

Tapi tidak ada salahnya jika kita mengkaji sedikit, ya? Karena kalau dipikir-pikir, masuk akal juga. Cinta yang berlebihan yang didapatkan dari orang-orang sekitar bisa membunuh kita secara perlahan-lahan.

Bila hidup berlimpahan kasih sayang, pasti rasanya bahagia bukan? Terluka sedikit, sakit sedikit, ada banyak tangan yang siap meraih, mengusap dan memeluk luka kita. Akibatnya kita akan terlena, terhanyut dengan kenyamanan yang diberikan. Tanpa disadari, kondisi ini menyebabkan kita menjadi tumpul rasa pada sekitar. Kurang berempati pada orang lain. Mudah men-judge buruk orang yang bertindak tidak sesuai dengan kemauan kita. Mental menjadi rapuh dan tergantung pada orang lain. Ringan saja mengomentari orang lain dengan asumsi-asumsi negatif tanpa tahu dan peka terhadap keadaan yang sesungguhnya terjadi.

Berbeda dengan kondisi orang yang banyak terluka dan sedikit menemukan cinta. Kebanyakan orang-orang tangguh yang memiliki kadar empati tinggi adalah orang-orang yang berkali-kali terjatuh dan bangkit kembali dengan usahanya sendiri tanpa bergantung kepada siapapun. Tak banyak mengumbar kesusahan yang dirasa. Cukup hanya dia dan Tuhan yang tahu. Saat melihat ada yang kesusahan, akan tergerak untuk selalu membantu. Tak sedikitpun ingin mengolok-olok apalagi meremehkan. Meski memang tidak menutupi kemungkinan bahwa orang yang sering terluka dan sedikit mendapat cinta menjadi orang yang super egois. Sebab mereka terbiasa mandiri.

Jadi, mana yang lebih baik? Yang berlimpahan cinta atau yang kekurangan cinta?

Tentunya yang lebih baik adalah ketika berlimpahan cinta, banyak bersyukur, berpikir lebih bijaksana, dan jangan mudah menilai orang dari sisi negatifnya saja. Belajarlah untuk tidak tergantung pada limpahan cinta manusia. Sebab kita tak pernah tahu sampai kapan cinta itu akan terus mengalir. Bukankah roda kehidupan itu selalu berputar?

Ketika kekurangan cinta, maka tetap banyak bersyukur, mendekatkan diri pada Illahi, dan tetap berempati pada orang lain. Tak perlu merasa iri pada keberuntungan orang lain. Tetap berusaha menciptakan rasa bahagia dengan versi masing-masing. Buatlah hidup menjadi lebih bermakna dengan bersikap baik meski banyak terluka.

Ah, sudahlah. Kita bernyanyi saja bersama-sama supaya hati senang. Tak usah terlalu dibawa perasaan. Yang penting selalu bahagia ketika merasakan Allah SWT dekat dengan kita. Setuju?

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

2 comments

  1. Setuju sekali, Mbak Rhea. Bukan hanya mengenal cinta. sebaiknya mengalami semua jenis emosi, sedih, kecewa, marah dari org tercinta.supaya siap hadapi persoalan hidup.

Comments are closed.