Toxic People

Toxic People

Pernah menemukan teman yang selalu memberikan pengaruh buruk? Banyak mengeluh, gemar menjelek-jelekkan orang lain dan selalu menganggap dirinya “maha” benar padahal kelakuannya sering melanggar norma dan nilai baik dalam masyarakat dan dalam pandangan Tuhan? Atau yang ketika berkata tanpa dipikir terlebih dahulu dan sering menyakiti perasaan orang lain?

Itu artinya mereka termasuk “toxic people“. Orang-orang yang berkarakter seperti racun. Menyelusup, mempengaruhi perlahan-lahan, membunuh karakter baik kita dan menggantinya dengan yang buruk tanpa disadari. Akibatnya lambat laun kita mengadaptasi perilaku yang toxic juga. Wah, kedengarannya menyeramkan, bukan?

Apakah ada orang-orang berkarakter “toxic”? Banyak. Terutama sekali dalam dunia maya. Orang-orang toxic adalah orang-orang yang gemar menyebarkan hoax, bersaing dengan menjelek-jelekkan pesaingnya dengan cara-cara kotor. Mereka mendulang kesuksesan bukan dengan cara sportif dan sehat, tetapi dengan sikut sana sikut sini. Menghalalkan segala cara tanpa peduli halal haram.

Apa yang harus kita lakukan bila menemukan orang-orang berkarakter toxic? Tentu saja berupaya menangkisnya dengan memiliki prinsip hidup yang kuat, dan selalu berpegang pada norma-norma serta nilai agama. Agar kita tak mudah terpengaruh nilai-nilai buruk dan aura negatif dari orang toxic tersebut.

Langkah teraman adalah menjauhi orang-orang toxic tersebut, bila kita merasa tak mampu mempengaruhi atau mengubah karakter toxic menjadi lebih baik. Tetapi bila kita merasa sanggup untuk mengubahnya, tak mengapa bila tetap berada di sekitar orang-orang toxic dengan misi untuk mengajak mereka mengubah hal-hal negatif menjadi hal-hal positif.

Sumber gambar : Quote creator

Sejatinya orang-orang toxic adalah orang-orang yang tidak mengenali diri sendiri dengan baik. Mereka tidak bisa atau tidak mengerti serta mengenali hal-hal mana yang tak boleh dilakukan dan hal-hal apa yang boleh dilakukan. Latar belakang pendidikan, pengasuhan orangtua, pemahaman akan arti benar dan salah lewat norma serta nilai agama yang lemah ikut mempengaruhi.

Akibatnya orang-orang toxic memperoleh arti bahagia dengan cara yang salah kaprah dan maladaptif, dengan cara melakukan kezaliman pada orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Bukan dengan berdasarkan norma ataupun nilai-nilai agama yang berlaku. Halal haram menjadi bias. Hitam putih menjadi abu-abu.

Berdasarkan pemaparan di atas, kelompok orang yang bagaimanakah yang akan kita pilih? Toxic atau non toxic? Menjadi orang yang membuat orang lain nyaman dengan segala ucapan dan tingkah laku yang positif atau negatif?

Pilihan ada di tangan kita. Baik buruk pilihan, itu pastinya berdasarkan kemampuan otak setiap orang untuk mengkaji, mengolah dan mempersepsikan. Selalu ingatkan pada diri, bahwa siapa yang menabur, maka dia pula yang akan menuai. Siapa menabur kebaikan, maka akan memanen kebaikan. Bagi siapa yang menabur keburukan, maka bersiaplah untuk memanen keburukan pula.

Jangan lupa bahagia. Selalu tebarkan aura positif.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

One comment

  1. Cara mengatasi mengatasi sifat toxic ada 2 cara, yaitu dengan Sikap positif dan sikap asertif. Sikap positif untuk menghadapi toxic people adalah dengan memandang orang tersebut sebagai ujian yang membuat diri tertempa. Sehingga, dengan berinteraksi bersama orang tersebut dapat membuat diri individu menjadi lebih baik. Kemudian, apabila seseorang tidak bisa mengambil sikap positif sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Maka, dapat dengan mengambil sikap asertif. Sikap asertif ditunjukkan dengan mengungkapkan pendapat dan perasaan kita pada orang tersebut namun tidak membuat orang itu tersinggung. Bersikap terbuka dan memakai kalimat yang bagus untuk mengungkapkannya. Sumber : http://news.unair.ac.id/2019/12/06/dua-cara-menghadapi-toxic-people/

Comments are closed.