Tugas Menulis dari Ibu Guru

Tugas Menulis dari Ibu Guru

Nana, anak keduaku yang kini masih duduk di bangku SMK Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak mendapat tugas menulis tentang sejarah nasional.

Sepintas terlihat sebagai sesuatu yang mudah. Semua orang, semua murid pasti punya kemampuan menulis. Apalagi zaman sekarang, media untuk menerima curhatan perasaan, banyak tersedia. Tulisan galau, surprise, menghujat, motivasi bahkan hoax, dengan mudah kita temui di media sosial. Kata-kata yang dipakai pun, tidak semua mengikuti kaidah berbahasa yang baik dan benar. Yang penting mewakili perasaan mereka.

Namun, bila menulis itu adalah tugas resmi dari sekolah pula, serasa beban yang teramat berat. Sejarah tidak dapat ditulis hanya dalam selembar kertas. Ibu Guru pun menyadari itu, maka ditugaskanlah anak-anak menulis hingga 30 halaman. Wow cukup berat kalau harus berkreasi sendiri dengan data yang akurat, kecuali hanya salin tempel keseluruhan saja dari buku yang sudah ada.

Kondisi ini menyadarkan kita akan pentingnya pengetahuan tentang menulis yang benar. Pengetahuan yang didapat dari sekolah masih belum cukup dengan jam belajar yang terbatas. Di luar sana masih banyak yang harus kita cermati dan pelajari.

Kita, pihak sekolah atau semua pemerhati menulis bisa saja mengundang orang yang kompeten untuk memberikan pelatihan menulis.

Salah satunya adalah upaya yang dilakukan SMKN 3 Kimia Madiun dengan Rumah Media (Rumedia), yang mengadakan pelatihan menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” pada tanggal 26 Okt 2019.

Dokumen pribadi Rumedia

Sekitar 90 orang peserta yang merupakan Kepala Sekolah, guru, siswa, dan juga kalangan umum, antusias dengan acara yang diadakan oleh Manajer Area NuBar Jatim, Novy Lestari aka Ummu Ali tersebut.

Sejak pukul 09.00 hingga pukul 16.00 WIB, materi padat disampaikan oleh Trainernya, Deejay Supriyanto Founder DTC dan Ilham Alfafa Founder NuBar.

Hasil akhir dari pelatihan ini adalah praktik menulis di tempat dan tulisan hasil praktik, diterbitkan. Bonusnya mantap. Siapa yang tidak senang, dalam sebuah buku terpampang tulisan milik sendiri. Awal yang baik tentu akan berlanjut terus untuk menulis lagi, terus berkarya lewat aksara. Apalagi karya tersebut mampu menebar kebaikan.

Bukan hal yang mustahil bila pelatihan semacam ini akan membantu meringankan beban murid yang merasa berat mendapat tugas menulis. Guru pun akan lebih tenang memberikan tugas yang melatih mereka untuk berkarya lewat tulisan. Kelak akan bermunculan tulisan yang rapi, enak dibaca, sesuai aturan dan kaidah berbahasa yang baik dan benar.

rumahmediagrup/hadiyatitriono

One comment

Comments are closed.