Tujuh Hari

Tujuh Hari

Peduli penampilan bukan saatnya ketika hati dirundung perih. Kain lusuh berlubang tanpa padanan warna serasi dengan penutup kepala, kukenakan hari itu. Tak lagi berpikir pupur atau gincu menghiasi paras. Bahkan alas kaki tak butuh peduli rusak, asal bisa membantu tapak kaki menjejak.

Getar tubuh menahan histeris diiringi banjir di netra. Perih, pedih, menyiksa hingga menusuk biarkan sesak merasuk ke jantung. Tangisan tak bersuara menambatkan pilu. Hingga denyut di kepala yang sudah dirasa sejak pagi semakin keras. Seperti bertalu-talu mengikuti detak jantung memompa oksigen dalam darah yang tersumbat.

Sadar, ini kuasa Sang Pemilik Hidup!

Kulepas gawai ketika berita duka tersampaikan dari kota Bandung. Rasanya ingin memiliki kekuatan teleportasi agar detik itu juga bisa hadir memeluk tubuh yang mulai dingin. Mengurus kebutuhan akhir hayatnya agar suci ketika masuk kehidupan selanjutnya.

Beliau adalah lelaki istimewa. Sepanjang hidupnya hingga 58 tahun, tak pernah lepas dari kebaikan. Beliau diberikan Allah kelebihan lewat bersih hatinya dengan segala keistimewaannya. Ia manusia yang tak memiliki kewajiban, tetapi tak lantas meninggalkan kewajiban kaum lelaki untuk salat jumat. Gelar haji pun disandangnya. Ibadah sehari-harinya adalah berbuat baik. Jikapun ia salat, entah apa doa yang dipanjatkan. Tetap dilakukan!

Dunianya adalah dunia khayalan, cerita apapun bisa mengalir dari bibirnya yang tak berhenti bicara. Tak ada dusta dalam kisahnya, ia hanya berandai dengan kehidupannya. Kegemarannya menyapa orang lain dengan sapaan sopan dan ramah. Rutinitasnya setiap jam enam pagi adalah berjalan keliling komplek menebar senyum dan sapa pada para tetangga. Hingga semua orang pada akhirnya memaklumi keistimewaannya.

Satu waktu, di Bulan Desember, ia terus berbicara hal yang saat ini kami anggap sebagai salam pamit. Dengan mantap di tengah keluarga, beliau berkata pada Mamih,

“Ceu, jangan inget terus ke Asep. Asep mah, nggak apa-apa. Yang penting Ceu Tati sehat!”

Ketika sebelum pamit pun beliau bicara pada mamih,

“Ceu, Asep disuruh menghafal Surat Yasin. Kata ustad, kalau Asep hafal, nanti dikasih jodoh.”

….

Hari itu beliau menjalankan puasa sunah seperti biasanya. Pagi harinya ia tetap keliling menyapa tetangga, walaupun kali ini lebih lama waktunya hingga pulang ke rumah.

Keluhannya ketika sampai di rumah, “Asep pusing, mau istirahat saja.”

Hingga tengah hari beliau tidur, saat bangun dipaksa membatalkan puasa karena wajahnya pucat. Tetapi ia menolak lalu berkata ingin istirahat lagi. Lalu ketika bangun, akhirnya menyerah untuk berbuka. Permintaannya adalah teh manis dan bakso tahu. Sayangnya apa yang telah dinikmati terpaksa keluar lagi karena tubuhnya menolak. Siapa menyangka bahwa permintaan terakhirnya bisa terpenuhi. Bakso Tahu!

Menjelang magrib, di kamarnya sendiri, tubuhnya telah menghadap kiblat dengan nafas satu-satu hingga hilang seluruhnya. Didampingi kakaknya, kembarannya dan keponakkannya beserta doa seluruh keluarga besar dan handai tolan yang mencintainya. Inna lillahi wa inna illaihi rojiuun.

Bukan penyakit serius yang menggerogoti tubuhnya, Allah lebih sayang padanya. Kamis, 16 Januari 2020. Semoga H. Asep Kusmana Bin H. Ade sachrawi Masdoeki, husnul khatimah. Al-fatihah ….

rumahmediagrup/gitalaksmi

2 comments

  1. Al Fatihah untuk almarhum, semoga khusnul khotiman, dan untuk kita yang ditinggalkan semoga dapat belajar dari alhamrhum bahwa dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan yang almarhum berikan semasa hidupnya membuktikan bahwa tutur kata, sopan santun, dan akhlak budi pekerti yang baik insya allah mendatangkan kebaikan pula dalam sisa hidup kita.

Comments are closed.