Ubah Ketakutan Menjadi Kekuatan, Stop Merana Karena Corona

Ubah Ketakutan Menjadi Kekuatan, Stop Merana Karena Corona

Oleh : Ribka ImaRi

Jauh sebelum wabah corona mendunia di awal tahun 2020 lalu ada seruan untuk rajin mencuci tangan, aku sudah terbiasa mencuci tangan memakai sabun setiap kali masuk rumah dan sebelum memulai aktivitas lainnya.

Kemudian mengganti baju pergi dengan baju rumah. Baru melanjutkan mencuci semua barang belanjaan dengan memakai air sabun di baskom sebelum semua diletakkan di dalam rumah atau rak penyimpanan. Jadi semua bersih.

Seperti yang terlihat pada foto-foto di bawah ini.

Foto: dokumentasi pribadi

“Agar tidak membawa kuman dari luar rumah masuk ke dalam rumah.” Setidaknya itulah pikiran otak bawa sadarku sejak dulu.

Sebenarnya, sebelum wabah corona ini, aku tengah berjuang mengendalikan obsesi terhadap bersih yang kusandang sejak lama.

Apalagi semenjak menjadi ibu dari bayi pertamaku, Tyaga, di Maret 2012, aku seperti menjadi gila bersih. Semua hal yang berhubungan dengan perawatan bayiku, “SEMUA HARUS BERSIH.”

Keharusan semua bersih itu tetap berlanjut sampai kedua membesar seperti sekarang ini sudah berusia 8 tahun dan 5,5 tahun.

Aku tetap memperlakukan hampir sama bersihnya seperti saat keduanya masih bayi seperti dulu. Bahkan aku sangat sulit mempercayakan pengurusan kedua anakku kepada orang lain meski oleh suamiku sendiri.

Terlebih semua yang berhubungan dengan makanan dan masuk mulut, aku benar-benar mengurusnya sendiri. Jika sedang di dalam rumah, aku terbiasa selalu mencuci tangan berulang kali sebelum menyiapkan makanan.

Apabila sedang di luar rumah, sudah sejak gadis aku terbiasa membawa tissue basah atau hand sanitizer dan memakainya sebelum memegang makanan apalagi menyuapi makanan ke mulut anakku.

Karena aku sangat takut sekali jika anakku sampai “mendapat” kotor lalu menjadi sakit dan meninggal seperti kakakku sewaktu aku kecil. Awalnya aku belum tahu apalagi menyadari bahwa kemungkinan aku menyandang OCD.

Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan. (https://www.alodokter.com/ocd)

Setelah pelan-pelan belajar dari postingan-postingan Mentorku di kelas Mindfulness Parenting, aku menemukan akar penyebab OCD dari sebuah kejadian dalam hidupku di masa kecil yang merupakan akar inner child (jiwa masa kecil).

Mindfulness adalah kemampuan dasar manusia untuk bisa selalu sadar dengan kondisi saat ini, apa yang sedang kita lakukan. Tidak berlarut-larut dengan memori masa lalu dan tidak terus menerus melamun tentang keinginan di masa mendatang. (https://riliv.co/rilivstory/mengenal-mindfulness-bikin-kita-selalu-happy/)

Pada usia yang baru 11 tahun (1992), aku telanjur punya “belief system” (rekaman otak bawah sadar) yang salah. Pikiranku saat itu bahwa kakak kandung meninggal di usia 13 tahun karena sakit keras (radang otak). Berbulan-bulan terbaring dalam keadaan koma di RS dan berlanjut di rumah.

Pikiran masa kecilku menerawang dan menerka-nerka, apakah kakakku meninggal akibat keadaan rumah yang kotor? Sebab saat itu kami masih hidup dibawah garis kemiskinan. Dengan keadaan rumah yang masih berlantai tanah yang grunjalan (tidak rata) dan tikus pun bebas keluar masuk dapur.

Sepeninggal kakak kandung yang meninggal dalam keadaan badan hanya tinggal kulit pembalut tulang, hidupku berubah drastis 180°.

Aku ingat sekali, di usiaku yang masih 11 tahun, aku menjadi berubah super bersih. Setiap kali mau makan, aku menyiram piring dan sendokku dengan air panas. Lalu aku terbiasa mencuci tangan hingga puluhan kali bahkan bisa mencapai 100 kali dalam sehari.

Karena sampai saat ini pun, ketika sedang berada di dapur untuk memasak dan membereskan semua, aku bisa mencuci tangan sampai 25 kali dalam sejam.

Sejak mengenal mindfulness di Juni 2016, pelan-pelan aku belajar ACCEPTANCE dengan menerima kenyataan dan afirmasi positif untuk mengubah kepercayaanku yang pernah salah (belief system). “Bahwa kakakku meninggal bukan karena kotor. Itu semua sudah takdir Tuhan.”

Kalimat di atas terus menerus aku tancapkan dalam pikiran sadarku. Agar rasa takutku terhadap kotor bisa terkendali. Supaya aku tidak lagi diliputi rasa takut, cemas, panik saat melihat anakku bermain kotor. Kasihan jika masa kecil anakku menjadi kurang bahagia hanya karena tidak bebas bermain di masa kecilnya.

Dalam keadaan menghadapi wabah corona seperti sekarang ini, bisa saja aku terkena serangan panik dan ketakutan keluargaku akan terpapar virus corona.

Menjadi stres dan uring-uringan yang bisa menular ke seluruh anggota keluarga.

Untuk mencegah ketakutanku semakin menjadi, aku belajar mengubah ketakutan terhadap kotor menjadi kekuatan untuk tetap menjalankan “SOP (Standard Operational Prosedur) bersih” yang sudah aku lakukan selama puluhan tahun. Yaitu, yakin bahwa kebiasaanku mencuci tangan dan mandi setibanya di rumah adalah salah satu cara menjaga kebersihan demi terjaga dari penularan virus corona.

Ditambah keyakinan pikiran sadarku. Bahwa yang terpenting aku sudah berusaha hidup sehat untuk diriku dan seisi rumah. Agar kesehatan jiwaku tetap bisa stabil. Supaya serumah juga bisa stabil emosinya.

Aku berjuang mengerahkan ACCEPTANCE, MENERIMA KEADAAN WABAH INI SEBAGAI KEJADIAN ATAS SEIZIN ALLAH. AKU BERJUANG MENGUBAH KETAKUTAN MENJADI KEKUATAN PENUH KEYAKINAN APA SAJA SUDAH AKU LAKUKAN. YANG PENTING SUDAH BERUSAHA HIDUP SEHAT. TINGGAL BERSERAH PADA PERLINDUNGAN ALLAH SAJA.

Aku tidak lagi OCD menuntut anggota keluargaku agar ikut SOP bersih. Tetapi membiarkan mereka melihat hasil dari usahaku sehingga mereka menirulakukan dengan kesadaran penuh tanpa paksaan. Supaya seisi rumah tidak menjadi stres yang membuat kesehatan tubuh rawan menurun.

-Ribka ImaRi, pejuang trauma innner child.

rumahmediagroup/ribkaimari