Ujian = Anugerah

Ujian = Anugerah

Pernah merasa lelah menapaki jalan kehidupan yang saat ini tengah ditempuh, Sobat? Jalanan yang bila bisa digambarkan serupa dengan jalan menanjak dan berliku. Penuh onak duri, airmata, dan terjal. Seperti seorang pendaki yang hendak mencapai puncak gunung, namun medan yang ditempuh sungguh sulit. Hingga rasanya mustahil untuk bisa mencapai puncaknya dengan mudah.

Mungkin akan butuh banyak keringat, airmata, bahkan mungkin darah untuk kita bisa terus naik, merayap perlahan. Sementara bila kita menoleh ke belakang, terlihat jurang yang menganga lebar siap menelan tubuh ini bila pegangan tangan terlepas atau kedua kaki tergelincir. Maka mau tak mau, suka tak suka, harus terus berupaya. Agar puncak gunung tersebut segera teraih.

Sering kita merasa bahwa sulitnya jalan yang ditapaki, terjalnya tebing yang mesti didaki, adalah sebagai perkara yang menyengsarakan. Terkadang, saat letih mendera, ingin rasanya menyudahi semuanya. Ingin diam berhenti. Melupakan perjuangan yang sudah dirintis. Terlebih bila yang datang, lebih banyak rasa tersakiti daripada disayangi.

Itulah ujian. Ujian yang selalu akan berlaku pada semua yang bernyawa. Takkan ada manusia yang tanpa menerima ujian dalam hidupnya.

Kita boleh merasa lelah, letih, atau bahkan menangis di tengah perjalanan. Merasa gagal dan takkan sanggup menjalani semua tantangan yang terbentang di depan mata. Membiarkan semua yang dicita-citakan dan diimpikan menjadi buyar dan entah akan bagaimana akhirnya. Menyerah pada takdir.

Hai, Sobat. Cobalah renungkan. Bila diibaratkan kita adalah sebuah pedang, maka pedang apakah yang diinginkan? Yang indah dan tajam ataukah yang tumpul dan tanpa ornamen?

Pedang terbaik itu terbentuk dari tempaan yang bertubi-tubi dari godam yang memalu berjuta-juta kali. Digembleng oleh panas api ribuan derajat agar mudah dibentuk menjadi indah. Terbuat dari bijih besi terbaik di dunia dan butuh waktu yang lama untuk bisa menempanya menjadi pedang kuat, menawan, dan luar biasa.

Begitu pun kita di dalam kehidupan ini. Semakin banyak ujian yang datang, semakin menempa diri menjadi pribadi yang lebih tangguh dan baik. Tentu saja bila kita memandangnya dari kacamata yang positif.

Janganlah ujian yang datang dianggap sebagai bukti bahwa Tuhan tak menyayangi kita. Justru sebaliknya. Yang Maha Esa teramat mencinta hingga tak ingin membiarkan sekejap pun kita melupakan-Nya. Ujian adalah bentuk anugerah dari-Nya.

Saat menjalani ujian, akankah kita akan sabar ataukah sebaliknya. Bila sabar, maka setelah kesusahan yang datang akan muncul kesenangan sebagai pelipur laranya. Cepat atau lambat.Sebaliknya bila kita tak sabar maka kehancuranlah yang akan datang.

Maka tegakkanlah pandangan kita saat menapaki berbagai batu ujian. Jalani dan lewatilah dengan sepenuh iman dan ikhlas. Lalu bersiaplah menerima kenikmatan dari-Nya selepas ujian yang datang mendera usai.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah