Umat Islam Itu Berbhineka

Umat Islam Itu Berbhineka


Warna adalah satu dari sekian banyak nikmat yang dianugrahkan Allah untuk semua makhluk-Nya. Maka manusia harusnya bersyukur kepada Allah, karena Allah telah menciptakan warna sehingga hidup manusia penuh makna. Warna juga memilih banyak arti, bahkan beberapa simbol-simbol dari komunitas bahkan negara selalu menjadikan perpaduan warna sebagai tanda pengenalnya. Benang merahnya, manusia, alam, dan seluruh kehidupan tidak bisa lepas dari semua warna-warna.
Bahkan dalam penciptaan manusia, Allah pun menciptakannya dalam berbagai warna. Allah berfirman dalam Qur’an surat Ar-Ruum ayat 22: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”
Untuk manusia, Allah tidak hanya menciptakannya dalam berbagai warna, tapi juga berbangsa dan bersuku. Sehingga otomatis ketika Islam datang, kondisi kaum muslimin sudah terdiri dari berbagai suku bangsa dan warna kulit. Sebut saja Bilal yang berkulit hitam, Usman bin Affan yang berkulit putih bersih, Salman Al Farisi dari Persia, genersi berikutnya ada Imam Bukhari dari Bukhara Cina, dan masih banyak lagi.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)
Tujuan dari semua penciptaan tersebut telah Allah tegaskan yaitu agar kita mau berfikir atas kebesaran Illahi dari segala sisi termasuk dengan diciptakannya berbagai warna kulit manusia, warna rambut, bahkan warna biji mata. Demikian pula Allah ciptakan manusia dalam bentuk berbangsa dan bersuku.
Perbedaan itu adalah rahmat. Sebelum Indonesia mengikrarkan diri sebagai bangsa yang berbhineka tunggal ika, maka ribuan tahun yang lalu Islam telah mengajarkan bahwa berbagai perbedaan yang ada adalah pelajaran bagi tiap-tiap orang beriman untuk semakin meningkat derajat ketakwaan.
Sayangnya saat ini, jargon berbhineka telah dikangkangi oleh pihak-pihak tertentu, serta untuk menjustifikasi pihak lain dengan konotasi negatif. Hal ini seharusnya tidak terjadi, karena masing-masing umat Islam menyadari bahwa perbedaan itu adalah rahmat senyampang semua terikat dengan aqidah yang satu, yaitu aqidah Islam. Islamlah yang akan merawat dan menjaga berpedaan dalam satu naungan. Islam tidak meleburkan semua warna, tapi akan menyatukannya dalam bentuk yang elegan dan syar’i.

Note:
Apapun warna favoritmu jangan pernah menjadikannya sebagai dasar perbedaan. Namun jadikan warna sebaga sarana untuk menyatukan.

rumahmediagrup/endahsulistiowati