Umrah Ramadhan With Family(Catatan Perjalanan 1)

UMRAH RAMADHAN WITH FAMILY
(Catatan Perjalanan 1)

Pagi itu Ramadhan hari ke 23, pesawat kami mendarat di bandara King Abdul Aziz Jedah. Cuaca dan semilir udara panas khas Saudi Arabia menerpa wajah kami. Ada setangkup haru menyerbu kalbu, seribu syukur yang tak mampu tergambarkan. Gusti Allah yang maha baik mengabulkan permintaan saya untuk mengunjungi baitullah bersama keluarga yang saya cintai. Ada banyak cerita haru dan perjuangan hingga kami bisa sampai di sini. Sekilas berkelebat wajah abah saya, yang meskipun sudah tenang di alam sana tetapi masih bisa ikut serta membiayai sebagian perjalanan suci kami. Semoga Allah berkenan menggantinya dengan tempat terindah di surga.

Sebuah mobil minibus menunggu kami di luar bandara, bersiap membawa kami ke kota suci. Rasa lelah tidak mengalahkan bahagia saya. Saya benar benar menikmati setiap inci pemandangan yang saya lewati. Saya hirup udara panasnya dengan penuh cinta, Makkah. Kami merapal bermacam doa begitu memasukinya, berharap berkah menyirami hidup kami.

Waktu menunjukkan sekitar pukul satu ketika kami memasuki hotel di kawasan ajyad yang kami tempati. Sebuah hotel kecil yang terletak di ujung jalan di depan kompleks rumah raja. Begitu membuka tirai jendela, saya suka pemandangannya. Terlihat gunung batu di seberang, dan sebuah mobil patroli yang selalu ada di ujung jalan dekat terowongan.

Setelah istirahat secukupnya, kami bersiap menuju masjid. Berjalan kaki menyusuri jalanan antara Ajyad dan al haram. Di tengah terik kami nikmati suasananya, melewati hotel hotel dan toko toko yang menjual aneka oleh oleh yang berasal dari berbagai belahan dunia.
Saya tengadah memandang langit, tak mampu mengungkapkan syukur yang berkecamuk di dada. Gusti Allah yang maha kaya mengirim kami yang tidak punya apa apa ini sebagai tamu Nya, Subhanallah…. Tampak di atas kami clock tower, ikon kota Makkah. Sebuah jam besar yang tinggi menjulang.

Di depan Masjid al Haram, Seraya merapal doa kami berjalan, mengagumi keindahan arsitekturnya dan mengharap berkahnya. Melihat ka’bah yang mulia, masing masing dari kami tidak mampu membendung air mata. Antara haru dan syukur yang tidak bisa lagi saya bedakan. Berbagai rasa berkecamuk tak bisa diceritakan.
Makkah itu cinta,
Alhamdulillah…

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

Ditulis ulang dari facebook