Untukmu, Anakku

Untukmu, Anakku

(Heriska Arfiani)

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup, oleh Heriska Arfiani.


Sejak kecil aku terbiasa hidup dengan jadwal. Orang tuaku sangat disiplin dalam menerapkan waktu yang digunakan oleh kami, anak-anaknya. Mulai dari bangun tidur, aktivitas setelah bangun tidur, pulang sekolah hingga tidur malam. Begitu seterusnya setiap hari, semuanya tertata dengan rapi.

Bagi orang tuaku, anak usia enam tahun harus sudah bisa membantu pekerjaan rumah membantu ibu, hingga kami tidak pernah memakai jasa asisten rumah tangga. Begitu masuk bangku sekolah dasar sebagai anak pertama, aku harus sudah bisa membantu ibu menyapu dan mengepel lantai. Jika tidak bersih maka wajib mengulanginya hingga benar-benar bersih. Mengepel pun tidak dengan alat seperti zaman sekarang, melainkan harus memegang kain dan langsung bersentuhan dengan lantai dalam posisi bersimpuh. Belum lagi harus mengambil air dengan pompa tangan dan jika terlalu berat maka aku harus menimba air dari sumur. Sebelum memasuki usia 12, aku sudah harus bisa memasak dan membantu aktivitas rumah tangga lainnya seperti mencuci pakaian, memasak, menjahit pakaian jika ada yang robek, juga memasang kancing bila ada kancing kemeja yang lepas.

Apa yang diajarkan orang tuaku, juga kuterapkan pada anak semata wayangku, Afa, si bocah cilik berambut kriwil. Aku mengajarinya cara mandi sendiri, lalu menyikat gigi, memakai minyak kayu putih, memakai baju, hingga menyisir rambut sendiri, dan aktivitas sederhana lainnya. Walau hasilnya masih berantakan namun kubiarkan saja agar dia puas dan bangga dengan apa yang sudah bisa dilakukannya.

Di usia sekolah dasar aku mulai mengajarkan Afa mencuci pakaian, menyeterika dan memasak. Mulai dari yang mudah yaitu mencuci dan menyeterika pakaiannya sendiri serta memasak sayur dan lauk yang tidak ribet. Semuanya dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu yang kubuat dengan suasana berbeda-beda. Ada tebak-tebakan bumbu dapur, berlomba membuat sambal dan hal-hal lain yang menyenangkan sehingga dia merasa belajar sambil bermain. Karena keingintahuannya yang besar, tidak sulit bagi Afa mengikuti apa yang kuajarkan walau hasil akhirnya belum sempurna.

Selepas usia 12 tahun, Afa sudah mahir membereskan rumah, dan memasak. Walau hanya masakan rumahan seperti sayur bening bayam, sup, sayur lodeh, sayur asem, oseng tempe, dan masih banyak lagi.

 “Nak, Mami tidak bisa mengantarkanmu ke sekolah setiap hari karena jadwal ke luar kota tidak menentu bisa mendadak tiba-tiba,” kataku saat selesai membersihkan dapur bersama Afa.

Liburan kelulusan SD sudah hampir selesai. Aku harus mempersiapkan mental Afa untuk tahapan selanjutnya agar lebih mandiri lagi.

“Kamu harus belajar naik bus sendiri. Memang ini kali pertama tapi nanti pasti akan terbiasa.”

“Iya, Mih. Aku sudah siap, kok. Sekalian olahraga, udara pagi masih segar, belum banyak polusi.”

“Keren anak Mami. Ingat jangan sembarangan menerima pemberian orang ya, Nak. Tolak secara halus seperti yang sudah Mami ajarkan.”

Itulah hari-hari Afa yang sejak kecil sudah kubiasakan dengan jadwal aktivitas yang teratur. Aku tidak bisa mengawasinya sepanjang hari karena waktuku seharian ada di kantor bahkan sering ke luar kota. Dengan jadwal yang kubuat, aku berharap dia bisa belajar bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, terhadap hidupnya yang tidak sepanjang waktu bisa bersamaku. 

“Sayang, jangan merasa Mami tidak memperhatikanmu ya, Nak. Mami hanya ingin Afa menjadi wanita kuat dan mandiri kelak. Usia tidak ada yang tahu. Siapa menyangka Papimu akan meninggalkan kita di saat usiamu balita, semua adalah rahasia Tuhan. Mami hanya ingin jika tiba-tiba Allah memanggil Mami, kamu sudah bisa mengurus diri sendiri. Hidup sendiri tidak akan sulit jika kamu bisa melakukan apa-apa sendiri, Sayang. Namun Mami selalu berdoa agar diberikan umur panjang sehingga bisa mendampingimu hingga menikah nanti.”

“Iya, Mih, aku paham. Aku juga selalu berdoa agar Mami sehat dan panjang umur sehingga bisa bersamaku terus. Jangan pernah tinggalkan aku ya, Mih.”

Kami pun saling  berpelukan dalam diam menikmati kedekatan fisik yang hanya bisa dilakukan seminggu sekali. Air mata Afa biasanya tidak terbendung. Aku merasakan bagaimana dia sangat takut kehilanganku.

Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Namun kesempatan selalu ada untuk mencoba. Semangat dan pantang menyerah harus ditanamkan sampai detak jantung ini berhenti, karena semua yang kita dapat tergantung bagaimana kita menjalaninya.

Jadwal yang kubuat adalah untuk melatih diri. Tidak ada maksud untuk menyiksa, karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Lakukan semuanya selagi kita bisa.

(Tamat)

(Foto: Koleksi pribadi)