WASPADA AMIGDALA HIJACKING

Waspada Amigdala Hijacking

Jangan marah bagimu surga”

HR. Thabrani

Betapa jaminan-Nya begitu tinggi dan penuh kenikmatan yang telah dijanjikan kepastiannya. Dengan meredam rasa marah yang kerap kali muncul dari dalam diri akibat sensasi dari emosi sebagai pelakunya.

Pernah mengalami kondisi paling tidak nyaman, merasa semua orang abaikan diri kita, merasa semua yang dikerjakan menjadi sia-sia atau hal lain yang membuat emosi dari dalam diri menjadi tak terkendali. Akhirnya melahirkan perkataan atau perbuatan yang merugikan diri sendiri atau mungkin merugikan orang lain dan lingkungan sekitar.

Kata yang terucap menjadi tak terarah, penuh kekesalan, makian yang melukai, keluar begitu saja tanpa kendali saat pikiran waras sedang terpengaruh oleh nafsu amarah.

Tingkah lakupun kadang menjadi liar, tak terkontrol. Acapkali terjadi pengrusakan fisik karena amarah.

Ada banyak pemicu munculnya kemarahan, dari hal sepele yang dibesar-besarkan sampai hal besar yang semestinya dapat dikecilkan atau bisa jadi ditiadakan untuk meminimalisir rasa marah.

Tingkah laku, perkataan atau pembicaraan atau berita berupa tulisan yang divisualkan atau diaudiovisualkan dalam kehidupan sehari- hari rentan memicu rasa marah.

Seperti kondisi masyarakat kita saat ini, keterbukaan tekhnologi memudahkan semua untuk mengakses informasi yang dibutuhkan atau sekedar hanya ingin tahu, namun ujung-ujungnya ada yang memicu kemarahan, misalnya berita hoaks yang belum tentu kebenarannya.

Berhati- hati dalam menyikapi segala hal yang terjadi adalah pilihan bijaksana. Kenalilah saat kondisi kita mulai tidak dapat lagi mengendalikan emosi.

Alarm tubuh kita akan memberi isyarat, penting untuk kita pahami supaya kita tidak terjebak dalam kemarahan atau dalam neurosains disebut Amigdala Hijacking atau bahasa lainnya pembajakan Amigdala.

Amigdala, salah satu organ penyusun otak kita yang mempengaruhi emosi akan memberikan sinyal ketika rasa marah mulai menguasai. Pada situasi yang memicu emosi misalnya saat menghadapi seseorang dengan segala permasalahannya yang melibatkan kita untuk masuk di dalamnya. Jika kita terpancing dengan emosi orang yang sedang kita hadapi tersebut, tubuh kita akan memberikan sinyal.

Sinyal pertama yang mudah dikenali adalah denyut nadi lebih cepat, sadarilah kita mulai masuk dalam Amigdala Hijacking.

Sinyal kedua, nafas mulai memburu, dada naik turun, segeralah mengambil jeda dengan menarik nafas panjang dan mengembalikan pikiran waras kita, dengan mengisi nilai- nilai kebaikan, beralih sebentar dari masalah yang sedang dihadapi sebelum terjerumus lebih dalam oleh Amigdala Hijacking.

Jika sinyal pertama dan kedua dari tubuh kita tidak disadari, sinyal ketiga akan terlihat, keringat akan banyak keluar dari tubuh kita, ini memasuki area rawan jika masih juga direspon oleh pikiran waras kita.

Sinyal berikutnya terindikasi adalah menegangnya otot-otot kita, pada fase ini harus ada orang lain yang membantu menyadarkan sebelum akhirnya Amigdala Hijacking menyerang.

Jika keempat fase dari sinyal tubuh kita tidak segera direspon dan disadari akhirnya kita akan terjebak pada cengkeraman Amigdala yang merugikan bahkan seringkali membawa penyesalan.

Berhati- hatilah dalam menyikapi sensasi dari emosi, tutur kata dan tingkah laku baik, akan membawa pada ketenangan dan kedamaian.

Waallahu alam bishowab

rumahmediagrup/anisahsaleh

Photobypixabay

2 comments

  1. Kereeen mbaa..sukaaa bangetšŸ¤©šŸ¤©

    Aku sendiri belajar tentang pengendalian amarah.tp belum bisa menuliskan tentang amigdala hijacking ini secara rinci.

Comments are closed.