Wawancara dalam Kualitatif

Sumber gambar: http://www.indonesia. go.id

Wawancara dalam Kualitatif

Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengungkap sesuatu di balik fenomena, maka untuk mengumpulkan datanya dibutuhkan kedalaman informasi. Salah satu teknik pengumpulan data adalah melalui wawancara mendalam. Saya akan mencoba untuk mendiskusikan wawancara dalam penelitian kualitatif.

Secara sederhana, wawancara dapat dimaknai sebagai pembicaraan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi. Wawancara digambarkan sebagai hal yang serius, bukan hanya sekedar mencari informasi dari informan. Bukan hanya sekedar alat mencari informasi. Pada beberapa paradigma kualitatif, misalnya fenomenologi membutuhkan wawancara sebagai alat eksplorasi pengalaman informan. Aliran interaksi simbolis juga membutuhkan wawancara sebagai alat eksplorasi diri informan sehingga mampu diketahui proses pemaknaan diri informan. Dramaturgy juga begitu, menggunakan wawancara sebagai alat untuk menangkap situasi, bahasa panggung dan latar. Pada umumnya, semua paradigma kualitatif membutuhkan pengumpulan data melalui wawancara. Dan ini penting untuk diketahui tata cara atau teknik dalam melakukan wawancara tersebut.

Refleksif dan keterwakilan aspek sosial sebagai gambaran outpu wawancara. Demikian, dibutuhkan getting in dan analisis. Artinya, wawancara akan mengungkap hal-hal yang ada dalam diri informan, pengalaman, dan hal lainnya. Bahkan di luar pengetahuan si peneliti. Dan dalam proses tersebut dilakukan juga proses analisis. Efek natural mendekatkan informasi pada kebenaran empiris tetap menjadi fokus peneliti. Situasi alamiah diciptakan agar si informan merasa nyaman, dan merasa seperti tidak sedang diwawancarai, mengalir begitu saja.

Langkah yang perlu dilakukan adalah:

  1. Ketahui terlebih dahulu sifat dasar investigasi yang akan dilakukan, rencanakan dengan matang. Mungkin dimulai dari menghubungi narasumber/informan, rajut hubungan yang bersahabat. Dan jaga upaya objektivitas penelitian.
  2. Menyusun instrumen penelitian, urutan pertanyaan, isi, gaya, atau hal lainnya. Ini digunakan sebagai peta pada pertanyaan yang tidak terstruktur. Hal ini biasanya digunakan untuk peneliti pemula. Namun jangan kaku pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun. Tetap jagalah aliran alamiah penelitian. Ikuti prosedur paradigma yang dipilih. Lakukan penekanaan susunan khusus, pemfrasean, level bahasa, ketaatan pada masalah. Adapatasi terhadap kondisi sosial informan sangat disarankan. Ikuti bahasa sehari-hari informan. Bedakan pertanyaan pada pertanyaan utama, tambahan, selingan, atau bahkan pertanyaan penyelidikan/pemeriksaan.
  3. Lakukan komunikasi secara efektif, bahasa harus mudah dipahami informan. Idealnya dilakukan sesuai tingkatan bahasa informan kuasai.

Persoalan yang muncul saat wawancara menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti. Sering terjadi adalah pertanyaan yang mengarah pada mempengaruhi, mengajak, pertanyaan ganda, pertanyaan yang ambigu, bahkan kompleks, sehingga membingungkan informan. Atau bahkan menjebak pada informan untuk mengkritisi sebuah persoalan penelitian. Bukan sebuah jawaban, namun akan banyak diperoleh umpatan negatif sebagai jawaban informan. Dan pada akhirnya, tidak terdapat unsur alamiah.

Setelah wawancara dilakukan pada semua informan, maka selanjutnya adalah melakukan penafsiran atas informasi. Proses analisis ini dilakukan sepanjang proses wawancara. Peneliti dan informan secara bersamaan memberi dan menerima pesan informasi, baik verbal maupun non verbal. Bagi peneliti pemula, disarankan banyak melakukan diskusi dengan pakar penelitian agar memperoleh teknik wawancara yang tepat.

Apakah wawancara hanya dilakukan pada satu individu? Jawaban tidak. Ada teknik lain sebagai pengumpulan data yang juga menggunakan wawancara. Biasanya yaitu dilakukan melalui FGD (Focus Group Discussion). Atau bisa juga disebut focus group interviewing.

Teknik FGD adalah gaya wawancara yang dibuat untuk beberapa orang dalam kelompok kecil. Penggunaan pendekatan ini, peneliti belajar berdiskusi tentang kesadaran dan karakteristik sosial budaya dan berbagai proses dari berbagai kelompok. Paradigma etnografi atau etnometodologi yang sering menggunakan ini. Namun tidak menutup kemungkinkan paradigma lain dalam kualitatif juga menggunakan teknik ini.

Secara teknis, kelompok yang dibentuk bukan kelompok besar. Disarankan tidak lebih dari 7 orang. Dalam diskusi nantinya ada seorang notulen dan moderator untuk mencatat dan memandu jalannya diskusi. Peneliti sebagai pihak netral juga mencatat semua informasi yang berkenaan dengan proses penyelidikan, sekaligus melakukan cros cek informasi sebagai proses triangulasi dan analisis data. Kelompok ini harus berada pada kondisi dengan situasi nyaman, namun dinamis. Beberapa ide, isu, topik, dan solusi pada masalah penelitian akan didiskusikan dengan porsi lebih banyak, jika dibandingkan percakapan yang bersifat personal. Energi diskusi harus juga mampu diciptakan peneliti, agar wawancara berkelompok ini tetap bersifat alamiah, tidak muncul perasaaan sungkan, acu tak acuh, bahkan bersifat cenderung menyalahkan seseorang yang berada dalam kelompok diskusi tersebut.

Terdapat keuntungan jika melalui teknik diskusi dalam wawancara, yaitu diskusi ini bersifat fleksibel. Peneliti akan banyak melakukan pengamatan atas interaksi yang bisa ditangkap sebagai data. Diskusi juga akan memudahkan peneliti untuk melihat isi substantif dari banyak pendapat secara bersamaan. Penempatan informan pada posisi yang sama, maka akan lebih mudah peneliti mengumpulkan data. Lebih jelas dan fokus.

Perbedaan wawancara dengan tatap muka antar personal/individu dan diskusi kelompok adalah terlihat pada kemampuan peneliti dalam mengamati interaksi yang muncul pada informan. Topik diskusi dan yang dibicarakan akan mengungkap pengalaman informan, perilaku, pendapat, isu, solusi dan hal-hal yang spesifik lainnya, dan peneliti diharapkan berhasil memotret kesemuanya dengan tepat dan jernih.

Selamat mencoba, wawancaralah dengan jujur. Semoga bermanfaat ya.

rumahmediagrup/Anita Kristina