WISDOM DAN CLEVER


By. Gina Imawan

Wisdom dan Clever selalu bersama kemana pun mereka pergi. Laaah iya mereka kan temen dari kecil. Nggak pernah tau siapa orang tuanya.

Sejak mereka bisa mengingat. Mereka cuman tau mereka bersama. Di panti asuhan. Sama banyak lagi yang senasib sepenanggungan.

Wisdom mikirnya banyak. Serius. Sensitif. Clever mah kreatif. Gampang ketawa. Jahilnya luar biasa.

“Wisdooooom…. Ayo sini. Taro dulu bukunyaaa…. Kita maiiiin….”, Ajak Clever sambil melambaikan tangannya.

Clever dengan sukses memanjat pohon Kelapa di depan panti asuhan mereka. Di tangannya ada tali plastik.

Wisdom tahu, Clever ingin membuat ayunan dengan tali itu. Kemaren Clever memaksanya membantu melubangi papan bekas kursi yang sudah tak terpakai. Lalu memasukkan tali plastiknya dan membuat simpul dibawah papannya.

Wisdom sebenarnya tidak suka pekerjaan begitu. Dia lebih suka duduk. Membaca buku. Mengamati alam. Mengamati manusia. Clever yang selalu maksa. Dan Wisdom akhirnya mau. Dengan setengah terpaksa.

Wisdom tau diri. Dia nggak terampil ngerjain pekerjaan dengan fisik. Buktinya? Sekarang ada hansaplast di salah satu jarinya. Lupa bekas ngebantuin Clever kemarin

“Wisdom. Oiiiii…. Cepetan siniiii….”, Panggil Clever lagi.

Wisdom menggeleng.

“Aku nggak bisa manjat pohon, Clever. Kan kamu tau….”,

“Yang minta kamu manjat itu siapaaaa, Wisdom… Kagaaak… Tungguin aje di bawah. Kan ntar aku mau kamu dorongin aku kalo aku main ayunan. Hahahaha….”,

“Bikin aja dulu ayunannya, Clever. Brisik ih. Tanggung ini bacanyaaa….”,

Wisdom beringsut menjauh. Memilih pohon yang lain, menyandarkan punggungnya. Melanjutkan membaca.

“Deuuu…. Wisdom… Wisdom..
Apa enaknya baca buku? Bikin ngantuk tau nggak?”, Clever melanjutkan gerakannya memasang tali-tali dan ayunan di atas pohon.

“AAAAA…..”, Clever berteriak. Pijakan kakinya meleset.

GABRUK

“CLEVER!!”, Wisdom melempar bukunya. Berlari meraih Clever yang tak bergerak. Wisdom menatap jeri. Tinggi pohon itu 5 meter!

Wisdom berteriak panik. Terus berteriak.

Siapa yang paling sering dijahilin Clever? Ya Wisdom lah. Siapa yang paling sering diajakin becanda Clever? Jawabannya juga pasti Wisdom.

Wisdom menjaga Clever. Membuatnya hidup teratur. Kan di panti nggak ada pembantu. Jadi semuanya bahu membahu mengerjakan semua kerjaan.

Clever yang suka lupa waktu. Wisdom yang ngingetin. Clever yang sering tidur larut demi kerjaan yang dia suka. Wisdom yang bikin dia bisa berhenti.

Wisdom kadang iri sama Clever. Kenapa dia nggak bisa nikmatin hidup? Ceria. Santai. Nggak peduli.

Clever diem-diem suka malu sama Wisdom. Teratur. Selalu tenang. Nggak punya masalah.

Clever beberapa kali maki-maki Wisdom yang kelewat peduli. Sering dimanfaatin kebaikannya. Kata Clever, Wisdom bego.

Wisdom beberapa kali marah sama Clever. Saat Clever mentingin dirinya sendiri. Itung-itungan. Sedikit curang.

Selama 36 tahun ini Wisdom dan Clever selalu saling melengkapi. Sering berantem. Terus baikan lagi.

Sekarang, Clever terbaring tak sadarkan diri. Udah 3 hari. Saat jatuh dari pohon Kelapa kemarin, kepala Clever terbentur dengan keras. Dokter bilang Clever kena Hematoma alias pendarahan pada otak.

Wisdom merindukan Clever yang ceria, aktif, nggak pernah sakit hatian sekaligus selalu punya cara bersikap tak peduli.

Mungkinkah persahabatan Wisdom dan Clever bisa bertahan selamanya?