Zona Nyaman Itu Kamu

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi

Zona Nyaman Itu Kamu

Sebenarnya dalam kamus saya tidak ada zona nyaman. Jadi saat karantina akibat covid ini ya biasa saja. Tidak ada zona nyaman, berarti tidak area aman. Orbit nyaman terbentuk pada lingkungan yang saya pilih tidak tergantung pada “hati” atau rasa. Seperti hidup yang saya arahkan untuk menikmati banyak hal. Temukan banyak hal. Demikian juga dalam keputusan penting terkait karir ataupun lainnya.

Mulai dari nol, pengalaman baru saya akan dapatkan dalam rentang waktu tertentu. Misalnya, saya menjadi dosen muda dengan usia 23 tahun di sebuah Universitas Negeri terbaik di Surabaya. Tak cukup 2 tahun saya putuskan untuk keluar. Padahal saat itu saya lagi antri sebagai dosen CPNS di situ. “Gilaa!” komentar banyak teman. Ya, saya bilang tidak ada tantangan. Kelihatan nyaman bagi orang lain kan. Bagaimana mungkin saya mengajar di kelas yang semua hampir mahasiswa mampu memahami materi tanpa ada saya. Lalu apa peran saya di kelas? Jiwa mengajar saya mulai runtuh.

Di usia saya 27 tahun, saya lolos menjadi asesor akreditasi sekolah di Jawa Timur. Asesor termuda saat itu. Dan 10 tahun kemudian saya mengundurkan diri. “Gilaa!” ujar senior saya. Banyak orang yang menginginkan posisi itu, mengapa kamu justru pergi? Gajinya besar. Saya memutuskan untuk tidak lagi dalam zona itu, karena pendidikan tidak bisa distandarisasi hanya dengan satu mekanisme penilaian yang sama. Lihatlah beberapa sekolah di daerah terpencil, yang harus saya lalui dengan naik gunung, melewati hutan, menyebrang laut. Bagaimana jiwa saya bisa menilai itu semua hanya dengan penilaian agar mereka terakreditasi? “Nilai” apa yang harus diusung? Hanya kebanggaan saja telah berdiri sekolah di tepi hutan, di atas gunung, di ujung samudra. Terharu melihat mereka sekolah, masih butuh dinilai? Hanya untuk sebuah identitas akreditasi?. Tidak bagi saya.

Di usia 28 tahun, saya berhasil menjadi seorang manajer HRD di sebuah perusahaan swasta. Pasti semua orang menginginkan posisi itu. Nyaman buat orang lain. Tapi buat saya tidak. “Gilaa!” komentar direktur perusahaan saya saat itu. Semua fasilitas dan gaji yang cukup tinggi saat itu hanya menjadi tawaran beliau. Namun saya tolak. Jiwa saya terpanggil saat ada lowongan dosen di sebuah ujung selat Madura. “Biarkan saya mengikuti kata hati,” kalimat ini yang menguatkan.

Saat saya kuliah doktoral di Universitas Negeri terbaik di Malang, banyak mahasiswa yang memperpanjang beasiswa. Tidak bagi saya. “Sombong!,” “Gila!,” banyak komentar teman begitu. Beasiswa itu senilai dengan hampir 25 juta per semester, saat itu perpanjangan beasiswa dalam 1 tahun. Zona nyaman itu saya lepas begitu saja. Bahkan, saat itu saya dipanggil Kaprodi S3 dan berdiskusi tentang penolakan beasiswa itu. Ah, sudahlah. Bagi saya saat itu, justru beasiswa itu yang membuat zona nyaman. Tidak ingin melepas beasiswa sama dengan tidak mau lulus cepat. Alhamdullilah, saya bisa lulus cepat tanpa perpanjangan beasiswa.

Ah, mungkin banyak hal gila yang banyak saya lakukan. Tapi saya menikmati kegilaan-kegilaan itu. Tantangan baru dan pengalaman ingin saya temukan. Manfaat tentunya. Bahkan saya harus berangkat jam 5 habis subuh ke kampus, karena mengajar jam 7. Kerja dengan melewati laut dulu. Meninggalkan anak-anak yang masih tertidur. Perjalanan 2-3 jam dari rumah sampai ke kampus. “Apa yang kau cari Nit?” tanya Profesor saya saat keputusan keluar dari tim beliau. “Saya harus fokus di kampus,” jawaban klise yang saya ciptakan sendiri. “Gila, kau buang kesempatan karir yang sudah terbentuk, dan kamu putuskan keluar, gabung di kampus kecil?” Kecintaan saya mengajar menjadi alasan utama. Bukankah Madura buminya Allah juga. Anggap saja, pergi tamasya tiap hari. Naik kapal atau melalui jembatan Suramadu. Senangnya….

Namun, dari banyak kegilaan itu. Hal yang paling gila adalah seseorang yang mau menerima orang gila seperti saya. Orang yang selalu berpikir keputusan saya baik-baik saja. Orang yang selalu percaya bahwa keputusan itu adalah yang terbaik. Selalu sabar dengan kegagalan saya. Banyak keanehan, tapi dia hanya bilang, “ Ok, kita hadapi bersama.” Tanpa pernah bilang jangan. Meskipun terkadang saya temukan lelah di matanya.

Orang itu suami saya. Yang selalu menuntun saya kemanapun perginya. Mengantarkan ke semua cita-cita, keinginan, angan-angan. Bahkan, berjanji menemani saya sampai surga. Atau juga menarik saya jika ada kesalahan terabaikan. Memeluk saya jika ada sedih dan tangis. Orang yang membuat saya percaya, semua akan baik-baik saja. Di antara kenyamanan yang ada, zona nyaman itu kamu, suamiku. Mencintaimu tanpa batas area, tanpa tapi.

Belum bisa move on dari 13 tahun pernikahan ya……

rumahmediagrup.com/Anita Kristina