7 Langkah dalam Fenomenologi

Sumber gambar : http://www.google.com/

7 Langkah dalam Fenomenologi

Berikut penjelasan 7 langkah dalam fenomenologi yang saya tuliskan kembali dari pemikiran Patrik Aspers, dalam jurnal Indo-Pacific Journal of Phenomenology, Volume 9, Edition 2 October 2009, Pp. 1 of 12.

Bagaimana seorang peneliti dapat menghasilkan penelitian yang baik? Berikut pendekatan fenomenologi empiris yang  dirangkum dalam 7 langkah, yaitu:

1. Definisikan pertanyaan penelitian.

2. Melakukan studi pendahuluan.

3. Pilih teori dan gunakan sebagai skema referensi.

4. Pelajari konstruksi teori (orde pertama).

5. Membangun konstruksi urutan kedua.

6. Periksa efek yang tidak diinginkan.

7. Hubungkan bukti dengan literatur ilmiah dan bidang studi empiris yang dihasilkan sebagai temuan.

Fakta bahwa proses penelitian dapat analitis dan dipisahkan menjadi 7 langkah, ini mencerminkan sebagai kebutuhan yang harus dilakukan sebagai proses fenomenologi. Pada kenyataannya, proses ini cenderung untuk beralih, mencerminkan proses zig-zag pada sebuah pengujian dan pembentukan tanpa resiko. Misalnya, peneliti akan bolak-balik antara langkah satu dan tiga lebih dari sekali. Tidak ada langkah yang unik untuk penelitian kualitatif, tetapi bersama-sama mereka melindungi perspektif aktor tanpa mengecilkan peran teori. Hal ini umumnya terjadi dalam penelitian kualitatif.

Nah, untuk selanjutnya akan diuraikan 7 langkah dalam penelitian fenomenologi ya.

Pertama, memutuskan masalah apa yang ada ( ini langkah pertama). Hal ini menjadi langkah awal, karena biasanya masalah dapat muncul dari kepentingannya. Dan juga sering muncul sebagai perdebatan dalam komunitas penelitian, bidang studi atau sumber lainnya. Masalah muncul dari perbedaan apa yang seharusnya dengan apa yang sedang terjadi dalam situs penelitian. Bisa diperoleh berdasarkan data dan empiris peneliti sebelumnya, atau juga disandingkan dengan teori yang ada.

Kedua, melakukan studi pendahuluan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui teori apa yang digunakan, maka peneliti harus terlibat di lapangan. Keputusan ini disebut sebagai studi pendahuluan (langkah kedua). Pada tahapan ini, peneliti mencoba untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan pada langkah awal itu benar? Beberapa kemungkinan yang terjadi? Sesuai yang telah ditetapkan pada tahap awal, yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Untuk menemukan ini maka peneliti harus berinteraksi dengan orang-orang pada lingkup masalah, diskusi dengan ahli di bidang  tersebut dan baca teks akademik dan non-akademik di bidang yang dituju. Dia juga dapat melakukan beberapa wawancara dan atau observasi partisipan. Namun, wawancara ini masih bersifat awal atau pendahuluan. Semua ini memungkinkan agar peneliti untuk mendapatkan gambaran lapangan dan, berdasarkan pengetahuan ini, menjadi jauh lebih baik untuk membuat penilaian tentang penelitiannya. Bertujuan untuk memahami isi materi penelitian. Nantinya bukan dipahami bahwa studi pendahuluan menyelesaikan semua masalah yang dihadapi dalam penelitian, tetapi lebih tepatnya sebagai cara yang efisien untuk memahami persoalan dengan tepat.

Studi pendahuluan dapat terdiri dari beberapa kunjungan ke lapangan atau beberapa tes wawancara. Dalam penelitian yang lebih besar, itu mungkin bisa dilakukan dalam waktu satu bulan atau lebih melakukan “nongkrong” dengan informan di lapangan, dan membaca bacaan teks yang luas. Informan dapat dimintai nomer kontak, agar memiliki kontak berkelanjutan untuk mendapatkan yang lebih mendalam di lapangan. Sehingga diperoleh keuntungan besar dalam menjalin hubungan dengan beberapa orang selama studi pendahuluan.

Ketiga, memilih teori.  Peneliti akan mengidentifikasi aspek mana dari topik yang relevan untuk dipelajari, karena orang tidak mungkin mempelajari konstruksi urutan pertama dari setiap topik. Ini berarti bahwa peneliti menggunakan teori sebagai skema referensi, sehingga memberikan fokus pada penelitian. Sebagai contoh, jika peneliti menggunakan teori pelabelan dalam studi penyimpangan sosial, dia akan mempelajari pertanyaan teori yang relevan (skema).

Tapi bagaimana kita bisa memutuskan teori mana yang akan digunakan? Teori yang dipilih tentu saja harus sesuai dengan yang bukti  empiris dan pertanyaan penelitian, dan itu harus memberikan jawaban yang memuaskan seperti permintaan fenomenologi dan memberikan penjelasan fenomenologi. Teori merupakan sarana dalam proses pemahaman. Kesimpulan ilmiah akan tercapai ketika peneliti memberikan laporan hasil penelitian, dan akhirnya pembaca laporan peneliti memahami dari perspektif informan. Untuk mencapai ini, peneliti harus menemukan cara mempelajarinya. Untuk memahami mereka maka dilakukan pada langkah empat beirkutnya.

Ke empat, pelajari konstruksi teori. Kontruksi ini dimaksudkan agar peneliti menjelaskan aktor, struktur makna dan teori ideal yang mereka gunakan. Fokusnya adalah bukan hanya pada skema referensi. Namun, materi empiris dikumpulkan adalah apa yang digambarkan Sch├╝tz sebagai konstruksi orde pertama. Ini berarti mengumpulkan informasi, terkait struktur makna, teori apa yang mereka gunakan, “tipe ideal” dalam membangun teori. Informasi ini dapat dikumpulkan dengan menggunakan banyak metode dalam kategori luas pada metode kualitatif di ilmu-ilmu sosial.

Dalam proses penelitian, peneliti tidak bisa membiarkan begitu saja teorinya membimbingnya ke dalam rincian empiris, bisa dikatakan sebagai bahan empiris. Hal ini berarti bahwa bukti empiris dapat merumuskan kembali teori, ubah atau tambahkan dimensi ke dalamnya. Oleh karena itu, pilih dan kurung teori-teori sambil berada di lapangan, fokuskan. Untuk lebih spesifik, jika membiarkan teori membimbing domain empiris tertentu, maka peneliti tidak memiliki seperangkat konsep yang digunakan sebagai kotak untuk diisi sebagai bahan empiris.

Ilmu sosial tidak hanya bertujuan deskripsi, bagaimana orang merasakan, memahami dan berpikir tentang berbagai hal,  ini merupakan pusat fenomenologi. Kebanyakan ilmuwan sosial malah berjuang untuk pemahaman dan penjelasan, dan ini didapat hanya ketika konstruksi orde pertama terkait dengan konstruksi orde kedua, yaitu teori. Ini berarti bahwa peneliti menghasilkan konstruksi orde kedua dan kaitannya dengan konstruksi urutan pertama aktor (langkah lima).

Kelima, konstruksi orde kedua. Peneliti harus berkomunikasi dalam dua arah. Di satu sisi, mereka harus memenuhi permintaan pemahaman aktor (informan). Dengan kata lain, mereka harus dapat dimengerti oleh para aktor di lapangan. Di sisi lain, mereka harus terhubung dengan teori ilmiah yang ada dan dapat dipahami dalam komunitas ilmiah. Kedua dimensi itu penting, tetapi hubungannya dengan konstruksi aktor tingkat pertama tidak pernah bisa dihilangkan dalam fenomenologi murni. Hal ini sebagai persyaratan dalam pemahaman aktor dan fenomena dipelajari.

Konstruksi tingkat kedua memungkinkan peneliti untuk menghubungkan dan mengevaluasi skema referensi yang telah dipilih. Konstruksi orde kedua ini bisa berupa gagasan teoritis tentang teori yang sudah ada. Tapi, seperti yang sudah dikatakan, harus selalu ada dalam ruang fleksibilitas. Teori yang terpilih tidak dipilih secara kaku. Dengan demikian dapat juga konstruksi diproduksi dan diciptakan oleh sang peneliti. Hubungan antara empiris materi (konstruksi orde pertama, bahan tekstual dan bentuk informasi lain) dan tingkat teoretis, konstruksi orde kedua, ditangani secara luas dalam literatur tentang metode kualitatif dan analisisnya.

Langkah enam, periksa efek yang tidak diinginkan. Hal ini  menyangkut pertanyaan kunci di bidang ilmu sosial,  yaitu konsekuensi yang tidak diinginkan. Intinya, konsekuensi yang tidak diinginkan umumnya dianggap sebagai efek dari tindakan yang sudah pasti, hasil yang dimaksudkan sebagai tujuan. Selanjutnya, meski begitu konsekuensi yang tidak diinginkan yang tak terhitung jumlahnya dapat terjadi dari suatu tindakan, hanya sedikit yang relevan dengan peneliti. Konsekuensi yang tidak diinginkan ini pertama-tama harus dilihat sebagai “objek” yang relevan dari seorang aktor, baik yang ada di lapangan atau dari peneliti itu sendiri. Agar seolah-olah menjadi menarik dari objek yang diinvestigasi. Makna yang diceritakan informan sebagai konsekuensi yang tidak diinginkan bukanlah proses yang harus dihindari. Jadi, masalah konsekuensi yang tidak diinginkan biasanya terjadi jika terdapat perbedaan pemaknaan informan dan teori atau makna peneliti. Hal ini bisa saja terjadi karena aktor (informan) dan peneliti memiliki cakrawala minat berbeda. Mempertahankan sikap ilmiah, yang dalam praktiknya berarti tetap berpegang pada pertanyaannya dan memanfaatkan konstruksi orde kedua, peneliti mungkin bisa menyajikan gambar kehidupan dunia para informan itu dan menghubungkan tindakan mereka yang bermakna dengan keduanya (informan dan peneliti) maksudkan.

Ketujuh, hubungkan bukti dengan literatur ilmiah dan bidang studi empiris yang dihasilkan sebagai temuan. Hal ini dilakukan sebagai langkah terakhir dari fenomenologi. Hubungan antara bukti empiris yang menjadi studi fenomenologi akan dihasilkan dari teori yang ada dan pengalaman aktor (informan) di lapangan. Untuk melindungi perspektif informan, maka hasil temuan sebagai kesimpulan sementara didasarkan pada informan. Sebagai contoh, jika seseorang mempelajari geng kriminal, anggota gang mungkin tidak suka yang mengungkapkan hal-hal tertentu tentang mereka, mereka juga tidak setuju dengan kesimpulan itu dan mengklasifikasikannya sebagai ancaman. Apa yang bisa dilakukan peneliti? Oleh karena itu, peneliti harus mengkomunikasikan keduanya kepada orang-orang di bidang ilmiahnya dan orang-orang dalam lingkup studi tersebut.  

Selamat meneliti. Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina