AKU (TIDAK) BENCI IBUKU


By. Gina Imawan

Pagi ini cerah. Kenapa hangatnya sinar mentari tak juga membuat bungah?

“Mau kemana kamu?”,

Meletus tiba-tiba mirip sama jepretan tikus. Naurah mengeluh. Langkahnya tertahan.

Mata jengkel bertemu mata ingin tahu. Saling menilai.

“Aku mau berangkat pramuka, bu”, Naurah menjawab cepat.

“Ngapain pramukaan segala? Kurang capek kamu udah sekolah dari senin sampe sabtu? Di hari minggu berangkat juga?”, merepet tanpa jeda persis petasan injek.

“Mau ada raimuna bulan depan, bu. Hari ini seleksinya…”,

“Kemping lagi? Kurang item apa kamu? Anak gadis kok item, keringetan, bau…”,

Naurah memejamkan mata. Nyinyir dan pedes.

“Aku masuk tim inti buat dikirim ke Raimuna nasional di Padang. Aku harus berangkat”, tegas Naurah.

Mengambil ranselnya. Ransel itu dipenuhi segala peralatan pramuka. Tambang 5 meter. Bendera semaphore. Kain putih segitiga untuk latihan balut membalut, peluit dan buku panduan pramuka.

Juga botol minum dan kotak makan berisi sandwich dan apel.

“Terserah kamu lah. Kalo udah suka susah dibilangin”, akhirnya, sang ibu manjawab jengkel.

Naurah mencium tangan ibunya. Lalu mengayuh sepeda mininya menuju sekolah.

Merayakan kebebasan.

******

“Nauraaaaaah!!! Ngalah coba sama adiknya!”,

Lalu langkah kaki tegapnya terdengar. Sosoknya berdiri menjulang. Dengan sudip kayu di tangan. Celemek melilit badan. Lengkap dengan titik-titik keringat di wajah.

Naurah mengeluh pelan. Dimarahi lagi. Kali ini dia dan 2 adiknya sedang ada di ruang tengah rumah mereka. Naurah mengerjakan pr sambil menemani adik-adiknya bermain.

Awalnya tenang. Dua adik 4 tahun Naurah bermain bersama. Lalu entah bagaimana, mereka berebut mainan. Akhirnya sama-sama menangis. Sungguh, Naurah sudah berusaha.

“Bukan aku yang mulai, bu. Mereka berantem karena rebutan mainan. Aku berusaha mendamaikan. Ternyata dua-duanya malah nangis”, Naurah berusaha menjelaskan.

Kedua netra galak itu beralih. Didepannya duduk Naurah dan dua adik kembarnya, Laila dan Lili.

Mainan berserakan. Masak-masakan. Setrika-setrikaan. Boneka bayi. Boneka kain berbentuk lumba-lumba. Lobster. Beberapa Barbie. Sebagiannya sudah tidak berbentuk. Patah dibeberapa tempat. Sisa air mata masih menggenang di mata keduanya.

“Kamu kan bisa bikin adek kamu diem nggak harus nangis!”, masih bernada tinggi.

“Bu, mereka tadi saling teriak. Udah hampir pukul-pukulan. Udah beberapa mainan yang rusak…”, Naurah masih mencoba menjelaskan.

“Alaaaah…. Kamu itu kalo dibilangin jawab terus!! Kamu tuh kakaknya! Harus bisa jagain adiknya! Kalo nggak ngapain kamu lahir duluan!”, nada suara ibu Naurah tetap membentak-bentak.

Air mata mulai berlomba ingin keluar. Naurah merasakan tenggorokannya tercekat.

“Aku nggak minta lahir duluan, bu. Kenapa aku terus yang harus ngalah? Harus begini dan begitu”, suaranya hampir tersedak.

PLAK.

Sudip kayu melayang keras lalu mendarat di lengan Naurah diringi geraman gusar ibunya. Juga pekik kesakitan Naurah. Dua adiknya hanya terdiam. Mengkerut ketakutan.

“Kamu itu jawab terus!! Nggak tau kamu kalo ibu capek ngerjain semua kerjaan rumah! Kamu bukannya bantu ibu malah bikin kepala ibu makin sakit! Dasar anak durhaka!!”, gelegar suara ibu Naurah.

Dan, sempurna sudah tangis Naurah tumpah. Sakit di lengannya tak sesakit hatinya. Anak durhaka. Betapa luar biasa.

“Dieeeem!! Berisik!!”, ibu Naurah mengangkat tangannya yang memegang sudip kayu. Mengancam Naurah agar menghentikan tangisnya.

Remaja usia 14 tahun itu tersengal-sengal. Ia tau ancaman ibunya tidak main-main. Ibunya tidak segan-segan memukul, mencubit atau menampar semua anak-anaknya.

Naurah bangkit dan masuk kamar. Diikuti oleh 2 adiknya yang ketakutan. Sementara ibu Naurah kembali ke dapur sambil mengomel panjang pendek.

Di kamar, di atas kasurnya yang digelar di lantai. Naurah meneruskan tangisnya. Ia membenamkan kepalanya di bantal agar suaranya tak terdengar. Dua adiknya menyusul. Merebahkan kepala kecil mereka ke tubuh Naurah.

Sejenak Naurah merasakan godaan untuk bergerak dengan kasar. Membuat dua adiknya tak bersandar padanya. Lalu memaki mereka. Tapi niat itu diurungkan, bagaimana kalo semua adiknya menangis lagi? Lalu berapa pukulan lagi yang akan diterimanya?

Akhirnya, Naurah membiarkan. Kemudian tertidur karena kelelahan.

****

Naurah melangkah kembali dengan lesu. Menemui ibunya yang sedang menjahit di ruang tengah rumah mereka. Usahanya menagih hutang tidak berhasil. Tetangganya malah melarang suaminya membayar hutang.

Naurah sudah berusaha memaksa. Berkali-kali mengatakan bahwa menurut ibunya hutang itu sudah diberi keringanan selama berbulan-bulan.

Tetangga yang terhormat itu malah berbalik mengeluh dan memaki. Dengan tangan tetap menghitung banyak lembaran uang berwarna biru. Naurah masih tak terima saat ibunya dikatai, ‘gak punya hati dan gak mau tau kesusahan orang’.

Bagaimana pun seringnya berantem, itu ibunya. Naurah sangat menyayangi ibunya.

“Gimana?”, tanya ibunya tajam. Tangannya tetap bergerak lincah memperbaiki baju-baju anak-anak dan suaminya yang rusak. Termasuk baju dan celana panjang milik Naurah.

Naurah menggeleng. Lalu menceritakan apa yang terjadi disana. Apa yang dilihatnya.

Sejuta makian dan sumpah serapah langsung terlontar keluar. Panas kuping Naurah mendengarnya. Menjadi tempat sampah sungguh memuakkan.

Naurah beranjak dari duduknya. Tenggorokannya tiba-tiba haus.

“Kamu juga! Gimana kek caranya biar nagih utang tuh dapet. Goblok banget sih!”, sekarang ibu Naurah mengalihkan kemarahannya pada Naurah.

Gerakan Naurah terhenti. Hatinya sakit. Kenapa dia yang dijadikan sasaran kemarahan?

“Ibu tagih aja sendiri kalo gitu. Jangan nyuruh aku”, tanpa bisa ditahan akhirnya kalimat itu meluncur keluar.

Sejurus kemudian Naurah mengeluh. Karena ibunya langsung mendelik dan menyemprot.

“Dasar anak gak tau diuntung. Jawab aja!!”,

Nuarah berlari dengan air mata berurai. Dipanjatnya pohon Belimbing besar di depan rumah. Terus naik hingga ke ujung dahan paling rimbun. Menumpahkan segala tangis dan perih hatinya disana.

Sayup terdengar ibunya mengomel sekaligus memaki,

“Kalo memang nggak mau bayar di dunia, saya tagih di akhirat. Ditolong nggak tau diri!! Pinjemnya nangis-nangis giliran harus bayar kelakuannya kaya saya yang minjem. Memang jahat dasar!”

Naurah menutup mata. Merebahkan kepalanya didahan besar belimbing. Tubuhnya sempurna tertutupi rimbunnya daun-daun belimbing.

Telinganya sakit mendengar kalimat-kalimat tajam ibunya. Hatinya lebih sakit. Selalu merasa diperlakukan tidak adil. Dijadikan sasaran kemarahan dan kejengkelan.

“Aku benci ibu”, gumam gadis 15 tahun itu sebelum terlelap kelelahan.

15 tahun berlalu.

Gundukan tanah merah itu masih basah. Naurah tergugu di sampingnya. Secepat mungkin dia terbang dari Singapura ke Jakarta saat mendengar ibunya masuk ruang gawat darurat.

Ibunya. Ibunya yang kuat. Yang masih rajin mengikuti senam 3x seminggu bahkan menjadi instrukturnya.

Ibunya yang memiliki kesehatan prima di usia senjanya. Aktif di kegiatan ibu-ibu dari kelurahan hingga kecamatan.

Ibunya yang masih sering berkata tajam. Ibunya yang masih sering meminta dia mengalah pada adik-adiknya. Ibunya yang masih suka meminjamkan uang tanpa bunga pada orang-orang yang membutuhkan.

Rumah kelihatan begitu muram saat Naurah melangkah masuk. Kamarnya masih sama seperti terakhir kali dia tinggalkan. Semua barang-barangnya tak ada yang berpindah tempat.

Naurah mematung menatap foto di dinding kamarnya saat Laila, salah  satu adik kembarnya memanggil.

Malas. Naurah melangkahkan kaki ke ruang tengah. Lalu seketika mengerenyit.

“Siapa orang-orang ini?”, batinnya.

“Sini, kak. Duduk”, Lili menggeser tubuhnya.. Memberi riang pada Naurah.

Naurah menatap semua orang di ruangan itu satu persatu. Ada 2 laki-laki dan 1 perempuan yang tak dikenalnya. Bukan… Bukan tak dikenal, samar-samar sepertinya dia pernah mengingat wajah-wajah itu.

Dimana?

“Kak, ini mbak Sarah. Yang ini mas Wildan dan mas Husein”, Lili memperkenalkan satu persatu tamu mereka.

Naurah mengangguk. Tersenyum tipis. Mereka semua kelihatan sedih saat menatapnya. Memang sesedih itu wajahnya?

“Kak Naurah, saya Sarah dan ini mas Husein, suami saya. Kami kesini mau berterima kasih ke keluarga ini. Terutama ke kak Naurah…”, Sarah berkata tersendat.

Husein mengelus pelan bahunya. Sarah menghela nafas dan berusaha menguatkan diri.

Naurah menggaruk dagunya. Tak mengerti. Apa maksud Sarah dan Husein berterima kasih padanya?

Sarah menangkap kebingungan itu dengan baik.

“Kami anak-anak yatim yang dibiayai sama Ibu, kak. Dari SD kalo saya. Kalo mas Husein dari SMP. Kami dibiayai hingga sarjana. Dan selama ini ibu suka cerita soal kak Naurah. Semua prestasi kakak jadi salah satu acuan kami buat berprestasi, kak”, Sarah mengusap sudut matanya sebelum meneruskan.

“Ibu bangga banget sama kak Naurah”, mata Sarah memerangkap manik mata Naurah. Tak ada kebohongan disana.

Naurah menarik nafas. Hatinya menghangat. Ibunya… Ibunya yang keras mendidiknya. Sering marah-marah. Bangga padanya.

“Saya Wildan, mbak Naurah. Saya anak gembel yang waktu itu. Mbak Naurah masih inget saya, nggak?”, pria satu lagi membuka suara.

Suara bariton itu lembut. Tegas. Menyejukkan. Hati Naurah berdesir dengan rasa yang entah.

Naurah tetap diam. Otaknya berusaha memutar segenap memori didalamnya.
Senyum laki-laki itu. Sepertinya familiar. Tapi, dimana?

“Mbak Naurah yang nyelametin saya waktu itu, kan? Mbak Naurah ngeliat saya lagi ngais tempat sampah, kelaparan. Dekil. Mbak Naurah nyamperin saya. Ngasih saya roti sama air di botol. Trus pergi. Pake sepeda. Saya lari-lari ikutin sampe rumah….”, Wildan berusaha menjelaskan.

Perlahan Naurah mengingatnya. Anak laki-laki yang selalu berdiri menatapnya sejak hari itu. Ada di dekat pohon dengan karung plastik, hook dan topi setiap dia pergi dan pulang sekolah.

Lalu beberapa kali anak laki-laki itu kelihatan diajak ngobrol ibunya. Kemudian tak kelihatan lagi. Namun dia kadangkala melihat ibunya menemui seseorang di sebuah pondok pesantren di kota mereka. Naurah tahu karena seringkali diminta mengantar. Namun saat itu Naurah malas bertanya pada ibunya.

“Kamu pemulung yang itu?”, tanya Naurah lamat-lamat.

Netra agak sipit berbulu mata lentik itu bertemu dengan bola mata coklat kelam. Dalam dan menyejukkan. Desir halus membuat Naurah mengalihkan pandangannya.

Senyum Wildan merekah. Sempurna. Naurah merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Jengah. Dia kembali mengalihkan pandangan.

“Iya, betul. Saya di masukkan ke pondok pesantren oleh ibu, mbak. Sampe lulus. Ibu selalu cerita soal mbak Naurah kalo nengokin saya. Berprestasilah seperti Naurah. Berjuanglah seperti Naurah. Keras kepala lah untuk sesuatu yang disukai seperti Naurah. Saya tumbuh dengan segala cerita tentang mbak Naurah. Bahkan ibu pernah membawakan saya foto mbak Naurah saat saya akan masuk ke fakultas hukum UI dengan beasiswa”, mata itu menatap dalam. Kembali tersenyum.

“Ibu juga yang hadirin wisuda saya, mbak. Trus ngasih saya amplop isi uang yang jumlahnya lumayan waktu saya mau berangkat ke Inggris. Dapet beasiswa buat S2 hukum. Ibu cerita, ‘Naurah sekarang lagi ada proyek baca tulis dan desa literasi’. Kemaren dapet penghargaan tingkat nasional buat pemuda penggerak peradaban”,

Naurah tak kuasa menahan perasaannya. Ibunya begitu bangga padanya. Dan selama ini dia berusaha pergi jauh karena merasa ibunya tak adil. Selalu menjadikannya sasaran kemarahan. Selalu memintanya mengalah.

Naurah membenamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangannya. Mengisak. Kedua adiknya memeluk Naurah erat. Menyatukan rasa mereka.

Naurah tersenyum menatap semua berkas dan beberapa album foto tebal di pangkuannya. Ibunya luar biasa. Naurah kecil mungkin tak begitu faham semua yang dilakukan ibunya. Namun kini, setelah ibunya tiada, Allah membukakan semua tanya dan ragunya. Menghilangkannya perlahan. Menggantinya dengan sejuta bangga.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?”, suara bariton menyapanya.

Naurah menoleh. Mata agak sipit bertemu dengan bola mata coklat kelam. Tangan Naurah menggapai. Pemilik bola mata coklat kelam itu mendekat, duduk rapat di sampingnya. Meraih kepala dan mengecup puncaknya lembut. Lama.

“Aku sayang kak Wildan”, Naurah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Wildan. Menemukan kenyamanan disana.

Wildan melingkarkan tangan kirinya ke tubuh Naurah.

“Aku bersyukur sama Allah diketemuin sama kamu, Nau. Lalu sama ibu. Lalu bisa berjodoh sama kamu”, hembusan nafas Wildan terdengar lembut.

“Berjodoh atau maksa biar berjodoh?”, Naurah bertanya jahil. Menatap mata suaminya, Wildan.

Wildam tertawa. Jemarinya mengelus pipi Naurah halus.

“Tepatnya, tersentuh waktu dikasih roti sama air di botol. Trus keseringan denger cerita tentang kamu dari ibu. Akhirnya suka trus sayang. Trus pernah bilang ke ibu gini, ‘bu, nanti Naurah sama aku aja ya nikahnya. Aku janji akan bahagiain Naurah’…”,

“Ibu jawab apa waktu itu, kak?”, Naurah menegakkan badannya. Penasaran dengan lanjutan ceritanya.

“Ibu bilang, ‘kamu belajar yang rajin, Dan. Nurut sama Allah. Jadi anak sholeh. Berdo’a aja ke Allah biar Allah nanti yang atur’. Jadi….”, Wildan tak meneruskan kalimatnya.

“Jadi, apaaaaa?”, Naurah mengejar.

“Jadi, kamu dan semua prestasi kamu memotivasi aku. Betapa luar biasa ibu menyayangimu, Nau. Aku belajar keras. Berusaha jadi sholeh biar Allah sayang aku. Aku selalu berdo’a disetiap sholat malamku biar ibu dan keluarga diberkahi Allah. Dan biar suatu saat kita bisa bersatu”, wajah Wildan mendekat. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajah Naurah.

“Do’a kakak terkabul?”, Naurah bertanya parau. Jantungnya berdebar-debar.

“Sebagian. Pen punya 4 anak bersama kamu yang belum…”, wajah itu hampir mencapai wajah Naurah.

Naurah memejamkan matanya. Debaran jantungnya semakin mengencang.

GUBRAK

Keduanya terlonjak kaget. Naurah merasakan mukanya begitu panas.

Apa yang terkadi selanjutnya? Silakan pembaca teruskan sendiri-sendiri, hehehehe…