Apalah Arti Sebuah Nama

Pemilihan nama, sebenarnya seberapa penting nama itu? Pasangan yang baru menikah dan akan dikarunia seorang anak sudah jauh-jauh hari mempersiapkan nama. Padahal kita belum tahu apakah jenis kelamin anak yang akan dilahirkan. Masing-masing dua alternatif sudah dipersiapkan, jika yang dilahirkan seorang laki-laki atau perempuan, kita bisa memilih nama tersebut sesuai kesepakatan.

Begitu juga denganku sejak diketahui sedang mengandung. Kami sudah mempersiapkan nama setelah diketahui jenis bayi dalam kandungan. Kami sepakat akan memberi nama minimal tiga kata. Mengapa tiga kata? Menurut informasi yang didapat, ketika kita akan menunaikan ibadah haji nama dalam paspor harus ada tiga kata. Jika nama kita satu kata, maka akan diambil nama dari ayah dan kakek sesuai dengan nasabnya.

Nah untuk persiapan, kami pun sama mencari nama sebaik mungkin. Mencari arti nama sebagus-bagusnya, walaupun kami tidak tahu apakah mampu atau tidak menunaikan ibadah haji yang penting sudah diniatkan untuk hal baik. Siapa tahu ada rezeki untuk putra kami menapaki bumi Allah nan suci.

Bagaimana dengan namaku, yang sangat singkat dan tidak mengandung makna?

Sejak lahir aku sudah diberi nama singkat dan tidak dijelaskan makna nama tersebut. Ketika mulai menduduki sekolah dasar pernah aku bertanya kepada orang tua, dan informasi yang didapat bahwa yang memberikan nama itu kakek. Tidak tahu alasannya mengapa yang memberikan nama itu kakek dan bukan bapak.

Karena tahu yang memberi nama itu kakek, langsung aku tanyakan kepada Abah arti namaku. Tidak puas aku mendengar penjelasannya karena biasanya orang akan menjelaskan per kata atau per suku kata makna nama tersebut. Abah menjawab cukup singkat, “nanti kamu akan menjadi orang yang sukses.” Amin sahutku waktu itu. Semua orang tua pasti mengharapkan demikian. Sukses dunia dan akhirat tentunya.

Memberikan atau memilihkan nama menurutku sangat sulit. Pantas saja dulu kakek memberikan namaku sangat singkat. Tidak puas dengan penjelasan kakek, aku cari arti nama dengan bertanya kepada ibu, ternyata sama juga tidak paham. Sempat pasrah, ya sudahlah yang penting aku mempunyai nama. Lagi pula apalah arti sebuah nama pikirku.

Setelah kuliah, bekerja dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai suku. Aku baru mengetahui ternyata “Suratmi” mempunyai arti loh. Girangnya waktu itu, Seorang rekan guru bersuku Jawa menjelaskan bahwa dalam bahasa Jawa Su itu artinya bagus. Ratmi nama untuk seorang perempuan. Jadi “Suratmi” itu mengandung arti anak perempuan yang baik. Amin kan saja siapa tahu benar, aku mampu menjadi orang baik.

***

Puluhan tahun ke belakang, tidak ada masalah dengan nama singkatku. Kembali lagi dengan prinsip, apalah arti sebuah nama?

Namun, setahun yang lalu aku sempat dibingungkan dengan nama lagi. Aduh. lagi-lagi nama. Suatu waktu aku diperkenalkan dengan Rumah Media Grup oleh Bu Nur Anisah. Aku ditawarkan untuk menulis antologi. Tulisan pertamaku berjudul Senyumku Menguatkanmu.

Untuk menandakan tulisan tersebut tidak anonim, aku diminta untuk mencantumkan nama pena. Sempat bingung waktu itu, nama apa yang harus dicantumkan. Aku bukan orang yang pandai memberikan nama apalagi mengandung makna. Wah bingung deh saat itu.

Akhirnya buku pertama kuberi nama sendiri dan singkat. Memang dasarnya namaku singkat “Suratmi”. Bangga dong dengan nama sendiri spesial pemberian Abah. hehehehe

Ketika bergabung dengan beberapa komunitas menulis, aku mulai melek dengan nama pena. Wah nama pena itu penting ternyata loh, apalagi mengandung filsafat wah keren sekali pikirku. Ada beberapa nama yang diambil dari nama panggilan ditambahkan nama orang tua di belakang, ada juga yang memberi jauh dari mana Aslinya. Malah lebih terkenal nama pena daripada nama sesungguhnya.

Namun, apalah daya aku bukan penulis ahli ataupun pakar. Melahirkan sebuah buku saja baru-baru ini, itu pun masih antologi, ada cita-cita melahirkan buku solo tetapi masih dalam khayalan. Suatu kebanggaan bergabung dengan Rumah Media Grup, buku kedua pun siap-siap untuk lahir.

Kembali bingung dengan pemberian nama pena, aduh sulitnya ya. Tanpa pikir panjang, biar ada sedikit tambahan, kuselipkan nama asli dengan gelar di belakang menjadi “Suratmi, S.Pd.” Aduh norak ya, segala gelar akademik dibawa-bawa. Mau tidak mau, lahirlah buku kedua berjudul Inspiring Leader dengan nama pena Suratmi, S.Pd.

Setelah buku yang kedua lahir aku mengikuti event selanjutnya, Ka Yuya sebagai Pije dengan judul Aku Ingin Lepas. Siapakah nama penaku? Oh, ternyata berubah lagi pemirsa. Padahal tak ingin dikatakan plin plan loh atau tidak mempunyai pendirian. Aduh sedih juga, tiga buku antologiku dengan nama pena berbeda-beda.

Nama “Suratmi” tidak diganti, tapi aku tambahkan dengan satu kata dari nama belakang suami, “Supriyadi” akhirnya jadilah nama penaku “Suratmi Supriyadi” sudah beberapa buku antologi yang masuk penerbit dengan nama tersebut.

Sebenarnya menambahkan nama suami di belakang itu membutuhkan waktu cukup lama dalam menentukannya. Karena aku tahu bahwa menambahkan nama suami di belakang nama sendiri itu tidak boleh, malah bisa dikatakan haram. Namun, karena aku niatnya hanya sebagai nama pena saja, tidak lain dari itu apalagi ingin mengubah nasab. Oh tidak sama sekali, sambil beristigfar.

Seiring waktu, beberapa antologi sudah menggunakan nama suami di belakang namaku. Namun, cukup terpana ketika aku melihat kajian bahwa benar-benar dilarang untuk memberikan nama suami di belakang nama istri. Jleb, jantungku seolah tertusuk ketika membaca surat dan hadis yang menjelaskan terkait nama istri yang diikuti nama suami.

Berdasarkan Alquran surat Al-Ahzab:05 menjelaskan

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS Al-Ahzab: 05]

Artinya, “Dari Abu Dzar, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Tiada seorang pun yang MENASAB-kannya diri kepada orang selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia telah kufur,’” (HR Bukhari).

“Barang siapa (mengaku) BERNASAB kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.” (HR Bukhari-Muslim).

Astagfirullah, Astagfirullah berulang kali aku beristigfar. Dari dalil tersebut inilah kemudian disimpulkan bahwa seorang istri haram menambahkan nama suami di belakang namanya. Kembali Aku harus berpikir keras bagaimana dengan nasib nama penaku? Mulai sekarang harus memutar otak, mencari nama baru. Tetap semangat walaupun akan berganti nama. “Hamasah Suratmi”, seseorang menyemangati.

Eit, mengapa tidak ditambahkan Hamasah saja ya? pikirku. Baiklah mulai sekarang nama penaku adalah ….

rumahmediagrup/suratmihamasah

One comment

Comments are closed.