Bala’

Memahat karya kitab aksara puisi ke 49 Lelly Hapsari

Bala’

Terpekur dalam heningnya sujud
Berbalut dalam kegalauan hati
Saat langit memanggil setiap hati untuk mengucap dzikir
Dan,
Setiap jiwa merasakan perihnya derita

Jangan kambing hitamkan lagi bahwa alam tak bersahabat
Jangan salahkan bahwa daratan ini murka
Dan jangan tuding alam yang sudah renta!

Andaikan kau tau, saat Alloh sedang ingin berkomunikasi dengan hambaNya melalui alam semesta sebagai mediasi nya
Mengguncangkan bumi memuntahkan isinya
Bahkan menyurut atau melebihkan gelombang laut salah satunya
Dia tengah membuktikan Maha Kuasa Nya

Riuhnya suara tangis
Diantara puing puing terserak
Kau pikir rembulan akan mengangguk saja saat doa doa tersembur dari wajah wajah pendosa?
Dan angin pun menjadi resah sebab kemaksiatan yang liar mendera

Pada wajah wajah picik penentang risalah
Pada kubu pendusta Islam kaffah
Kiasan itu ditujukan sebagai pertanda, sadarkah?
Bencana itu membungkus seluruh umat manusia disana

Berjajar puluhan tubuh tanpa nyawa,
Tatapan bening si bocah tanpa dosa
Terpapar dinginnya malam
Menanti hingga fajar kabarkan harapan
Dengan selaksa do’a

“Ya Robb, kami yang tersisa lindungilah…”

-Lelly Hapsari/Rumah Media-