Cinta di Pesisir Pantai Selatan

Cinta di Pesisir Pantai Selatan

Matahari belum lama terbangun. Semburat jingga yang dilahirkannya terlukis jelas di angkasa. Hanifa mendesah. Hatinya gundah. Kedua tangannya rapat dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Rambut hitamnya berkibar tertiup hembusan angin.

Dengan susah-payah, ia jongkok. Digoreskannya satu nama, Satria. Nama yang selama 2 tahun ini mendekam di relung hatinya. Pertemuan mereka tak sengaja pada suatu senja di pantai ini, namun meninggalkan kesan yang begitu mendalam.

“Satria …,” ucap lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.

Hari-hari berikutnya menjadi hari yang indah bagi Hanifa. Perhatian dan kasih sayang lelaki berkulit coklat itu demikian memesonanya. Tak menunggu lama, mereka pun segera mengikrarkan cinta putih mereka.

Hanifa mengelus perutnya yang nampak mulai membuncit. Buliran bening mengambang di mata Hanifa.

“Aku sungguh merindukanmu, Mas,” bisik Hanifa.

Matanya kemudian menatap ke laut biru. Laut telah memisahkan cinta mereka. Satria yang malang, ombak yang besar menghantam sisi kapal yang ditumpangi Satria dan kawan-kawannya saat hendak memancing tiga bulan yang lalu. Tiga orang hilang ditelan keganasan gelombang Pantai Laut Selatan. Namun, hanya Satria yang belum ditemukan hingga kini.

Tiap hari Hanifa terus berharap Satria kembali.
Hanifa tiba-tiba tersenyum riang. Tangannya melambai membalas lambaian seorang lelaki yang muncul di sela gelombang.

“Satria!” teriak Hanifa riang.

Tergesa ia mendekat ke arah lelaki itu. Batu-batu karang yang tajam merobek kakinya, namun tak dihiraukannya. Ia terus berjalan. Kemudian, ia tersenyum saat tangan Satria menggandeng tangannya dan membawanya berjalan di antara gelombang. Burung-burung camar berteriak saat ombak menelan habis tubuh Hanifa.

Lelaki berbaju kumal itu berjalan di atas pasir hitam. Diambilnya sepasang sandal. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak nampak seorang pun. Ia mengangkat bahunya. Tak peduli siapa pemiliknya, dengan segera dimasukkannya sepasang sandal itu ke dalam karung kumal yang dibawanya. Wajahnya riang, sandal itu akan diberikannya kepada Siti, istrinya.

rumahmediagrup/windadamayantirengganis