Cinta Ibu?

Karya: Lala H.


Apa? Cinta ibu? Heh…! Apa itu. Aku tak kenal Apa yang disebut sebagai cinta itu. Bohong… Bohong besar. Kalau boleh aku bilang cinta ibu itu palsu.
Siapa bilang cinta itu adalah cinta sejati. Kenyataannya, ibuku tidak cinta kepadaku. Ibuku tidak memperhatikanku.  Ibuku tidak pernah bertanya di mana aku, sedang apa aku, apa yang kubutuhkan.


Dia sibuk dengan dirinya sendiri. Memang di awal aku kasihan padanya. Ayah meninggalkannya, entahlah apa penyebabnya. Aku tidak paham mengapa ayah meninggalkan ibu di rumah ini. Padahal ibu dalam keadaan sakit. Aku rindu bermain bersama ayah dan ibu seperti waktu itu di alun-alun.
2 tahun terakhir ibu sakit asma. Kata orang, seseorang yang sakit asma, disebabkan karena dia tertekan batin. Dia sedang menderita. Aku tidak melihat sesuatu yang menyebabkan ibu menderita. Uang saku yang diberikan kepadaku banyak, maksudnya uang saku termasuk berlebihan dibandingkan teman-temanku yang lain. Ibu tidak pernah mengeluh tentang belanja, tidak seperti ibunya temanku.


Lalu kekurangan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh ibu. Jika ditanya ibu tidak pernah menjawab. Setelah kutinggalkan, biasanya terdengar ibu malah menangis. Kalau keadaan seperti ini, aku tidak berani untuk bertanya lagi, khawatir ibu semakin sakit.

Suatu ketika aku menyapu kamarku. Sudah 3 hari kamarku tidak kubersihkan. Tugas dari guruku telah menyita waktuku sehingga aku harus menunda tugas di rumah yang biasa kulakukan yaitu membersihkan ruangan. Setelah semua kuerjakan tiba giliran membersihkan kamar ibu.
Aku bersihkan meja dan jendela yang lumayan debunya. Kemudian membersihkan tempat tidur ibu. 

Rupanya tempat tidur itu sudah harus diganti spreinya. Dengan sigap kuambilkan yang baru di dalam almari. Segera aku melepas sarung bantal sarung guling. Dan pada saat mengambil bantal untuk kuganti sarungnya, aku menemukan sebuah buku kecil dalam keadaan terbuka. 

Sebenarnya buku itu akan kututup dalam niatku. Namun aku tertarik dengan tulisan yang hanya berisi 2 kalimat. ‘ternyata aku harus menanggung hutangmu mas’. Aku berpikir, mas yang dimaksud tentu adalah ayahku. Sedangkan kalimat ke-2 berbunyi ‘ aku harus menahan diri untuk berobat karena sisa uang belanjaku harus kuberikan untuk kebutuhan anak kita’

Ooooo…..
Jadi… Mengapa uang saku yang diberikan kepadaku berlebihan? Apa arti semua ini? Mengapa ibu memberikan uangnya kepadaku sedangkan ibu membutuhkan untuk pengobatan dirinya? Mengapa? Apa ibu tidak menyampaikan bahwa ibu harus membayar hutang?
Yang kutahu ibu lebih banyak diam menutup diri. Beberapa bulan ini itu tidak pernah ke dokter lagi. Setelah kuingat-ingat, ibu sering duduk melamun menatap bunga yang dulu pernah diberikan ayah pada saat ulang tahunnya. 

Apakah dia sangat rindu kepada ayah seperti aku juga? Tentu ibu sedang merasa berat pikiran. Namun ibu masih menyempatkan diri memberikan uang saku yang cukup kepadaku, meski dia tidak banyak bicara m, tidak hangat lagi seperti dulu. 

Yah… Itu cinta yang tersisa dia persembahkan untuk anaknya. Diriku. Sungguh aku berdosa telah mempunyai pikiran yang buruk kepada ibuku. Ternyata inilah sisa hatinya yang tetap diisi dengan cinta kepada anaknya. Diriku.