Dia Istimewa (4)

Dia Istimewa (4)

“Hari ini pelajarannya berhitung ya Bu ?.” Suara barito Riko menyapa ku.

Aku masih duduk di ruang guru menikmati teh hangat bikinan pak Narko, office boy di sekolah tempatku bekerja. Mata ku melihat jam dinding di pojok ruangan, jarum pendek masih menunjuk diantara angka 6 dan 7, sementara jarum panjang menunjukkan angka 11.
“Masih 20 menit lagi Riko.”

Riko berlalu tanpa menunggu jawaban. Pertanyaan Riko hanyalah sigyal, Riko jarang menunggu atau membutuhkan jawaban. Riko berjalan keluar ruang guru dengan langkah panjang dan kaku, mulutnya berucap satu kali satu sama dengan satu, dua kali dua… empat.

Riko, peserta didik Autistic disorder atau banyak orang menyebutnya autism.
Riko mengalami gangguan perkembangan pada interaksi social dan komunikasi. Jangan bertanya siapa teman akrab Riko, atau siapa yang biasa bermain bersamanya. Saat istirahat Riko asik berjalan menusuri lorong kelas, ke kantin, ke lapangan sendiri. Dia berjalan tetap dengan langkah panjang dan gerakan tangan yang kaku, mulutnya berhitung, mengucapkan materi perkalian yang sedang di bahas di kelas.
Riko tidak memiliki banyak aktifitas dan ketertarikan. Pelajaran yang ia sukai hanyalah matematika, sedangkan lagu yang ia sukai lagu “lain lubuk lain ikannya” yang dinyanyikan Roma Irama. Soal nada, perlu keahlian khusus untuk memahami apa yang ia suarakan.

Riko bernyanyi dengan suara barito “Lain lubuk lain ikannya…” lagu itu tidak pernah selesai. Dan syair itulah yang selalu terdengar tidak ada awal dan tidak ada akhir.

“Bu guru sembilan kali delapan berapa ?.” Senyum Riko mengembang, menyambut ku di depan pintu kelas.
Aku menatap Riko “Barapa?.”
“Sembilan kali delapan sama dengan tujuh belas ya ?,” Riko berhenti “Salah” dengan cepat dia menjawab pertanyaannya sendiri. Tangan Riko bergerak dari atas ke bawah membentuk gerakan membujur, “Sembilan di kali delapan sama dengan tujuh puluh dua.

Aku mengangguk, mengajungkan ibu jari pada Riko.
Ketertarikan Riko pada pelajaran matematika sangat besar. Penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian dapat Riko pelajari dengan cepat. Untuk pelajaran ini Riko bisa bertanding dengan anak-anak SD pada umumnya.

Ada sekitar 20 % anak autism adalah anak cerdas, sementara 80 % sisanya memiliki IQ dibawah 70 yang bisa digolongkan Tunagrahita. Akan tetapi autisme berbeda dengan Tunagrahita. Anak Tunagrahita menunjukkan hasil yang memprihatinkan pada semua aspek. Berbeda dengan anak autis, mereka mungkin menunjukkan hasil yang buruk pada hal yang berhubungan dengan bahasa tetapi menunjukkan hasil yang baik pada bidang lain. Mereka mungkin memiliki bakat besar yang tersembunyi.

rumahmediagrup/srisuprapti