DARAH JUANG

Darah Juang

Dan orang- orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukan kepada mereka jalan-jalan jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang orang yang berbuat baik.”

Q.S. Al Ankabut, 29:69

***

Nun namanya, dia masih saja termenung di sana. Menekuri nisan tua tanpa nama. Nun masih mencari sesuatu, jejak perjalanan cerita yang hilang. Akar dari kehidupannya di masa kini. Nun masih terus mencari.

Nun pergi berbekal sebuah buku tua, usang dan telah menguning di setiap lembarnya. Buku pemberian bapak, yang bapak sendiri tak pernah bertemu dengan penulisnya.

Ejaan lama rapi berbaris membentuk sebuah kalimat, merangkai bersatu menjadi sebuah paragraf. Mengantar kisah cerita masa lalu dalam goresan pena yang akhirnya menjadi sejarah. Nun kini sedang menelusuri, mengurai satu persatu dan merangkai setiap misterinya untuk temukan siapa gerangan, pemilik darah juang yang mengukir kisahnya dalam buku tua.

“Kelak kan koetemoei kaoe kembali, di djalan penantian pandjangkoe” sepenggal kalimat akhir yang takkan pernah selesai, karena sang penulis tidak menorehkan penanya lagi. Terhenti pada lembar ketiga sebelum akhir halaman buku.

Nun berpikir, apa yang akan ditulis oleh sang penulis di tiga lembar halaman terakhir, jika sang penulis masih sempat untuk menulis saat itu.

Bapak hanya berpesan pada Nun, untuk temukan di mana keberadaan terakhirnya, karena sebelum tutup usia, beliau ingin menjumpainya.

Kepiawaian Nun dalam mencari informasi dan kecintaan keilmuannya tentang sejarah, banyak membantu Nun untuk memecahkan teka-teki kehidupan sang bapak di masa lalu, laki- laki yang telah menjadi yatim semenjak usia dua tahun, dan hanya buku tua itu cermin masa lalu untuk mencari jejak di masa kini.

Matanya menatap tajam setiap kalimat- kalimat yang tertulis, pemikirannya larut mengikuti alur untuk menyimpulkan informasi yang dapat dia petik, Nun perempuan cerdas berhati lembut. Entah sudah berapa musim dia lewati, menelusuri jalanan desa, untuk menemui daftar veteran yang masih tersisa, demi sebuah pertemuan mulia, untuk sang bapak dengan kakeknya.

Terbang dengan pesawat pertama, menempuh perjalanan berikutnya dengan moda transportasi sederhana, hingga sampailah Nun pada sumber cerita terakhir yang membawa titik terang, di sanalah sang penulis lama berada.

Nun menyimak kisahnya dari seorang veteran tua, beruntung Nun masih sempat menemuinya, pertemuannya dengan sang penulis di buku tua akan segera tiba. Pertemuan antara dua alam yang berbeda, memberi tanda atas kuasa-Nya.

Dalam ketenangan pusara tanpa nama, dalam pertemuan yang mengharukan, memenuhi kerinduan bertahun lamanya, air mata bapak mengalir di sela-sela keriput wajahnya. Nun terdiam memeluk buku tua, mata tajamnya memandang ke kejauhan,

“Akan kuteruskan perjuanganmu kek” lirih suara Nun menguatkan hatinya.

rumahmediagrup/ anisahsaleh

 

Pixabayphoto