Hati Menangis Namun Wajah Tersenyum

Hati Menangis Namun Wajah Tersenyum

Aku pernah mengenalmu, luar dalam. Fisikmu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perilakumu dari yang lembut hingga yang paling kasar. Itu dulu.

Saat meniti kehidupan ini bersama. Terseok menggapai asa untuk masa depan yang indah, masa tua yang nyaman bersama anak cucu.

Ternyata harapan memang tidak harus menjadi kenyataan. Kami hanya berencana, tapi suratan takdir untuk kami sudah tersirat dan mungkin baru sebagian yang Dia tunjukkan pada kami.

Sudah jalannya bila seseorang itu hadir dalam kebahagiaan yang kita rengkuh selama dua puluh tahun perkawinan ini. Atau mungkin aku yang tak paham situasi dan peka, kalau ternyata belahan jiwaku ingin mengalihkan pandangan dariku.

“Kebersamaan berpuluh tahun itu bukan sandiwara bukan?” tanyaku.

Nyata bila dia pemain watak yang mengikuti irama kehidupan saat bersamaku, dan berganti peran saat muncul panggung baru dengan pelakon yang memukau, memikat hingga ke relung hati terdalamnya.

Akhirnya mahligai kami pun oleng, karena dia tertambat pada pelakon baru. 

Aku terpuruk, dunia serasa runtuh dan kemudi tak lagi terkendali. Nyatanya bukan hanya diriku yang tersakiti dan kecewa. Ada anak-anak kami yang juga ikut merasakannya. Ini yang buatku tersadar. Mereka tidak berdosa dan tidak boleh tenggelam dalam situasi tidak nyaman karena ulah orang tuanya. 

Hidup mereka harus terus berjalan, tanpa trauma, tanpa harus kehilangan kasih sayang dan perhatian. Aku masih punya kekuatan untuk bangkit. Biarkan bapaknya berlalu bagai angin dan menghilang dari kehidupan kami. Anak-anak hanya boleh melihat senyum ibunya tanpa beban, jangan biarkan mereka tahu hati yang menangis di dalam dada ini.

Orang lain pun hanya boleh melihat bibir ini tersungging senyum manisku. Deritaku hanya milikku dan kupasrahkan semua sesuai skenario Sang Pemilik Hidup.

 

rumahmediagrup/hadiyatitriono