Hidup Tenang Tanpa Utang

Adakah yang tak pernah berutang? Jika anda tak pernah berutang bersyukurlah karena hidup Anda pasti tenang.  Berbeda dengan orang yang sering berutang atau beban utangnya banyak.  Mungkin masih mending walaupun kita punya utang tapi masih bisa diatasi dengan baik. Tapi bagaimana jika seseorang punya utang dan ia harus membayar utangnya dengan mengutang lagi?  Sungguh sangat disayangkan. Betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya. Hingga terpaksa dia harus terus berbohong agar dapat kepercayaan dari orang yang diutangi.

Bukan maksud menjelek-jelekkan. Tapi ini memang apa yang dialami temanku sendiri.  Suatu hari dalam suatu acara saya bertemu dengan teman kuliah dulu. Setelah beberapa hari di kegiatan tersebut tiba-tiba saja dia bermaksud meminjam uang kepada saya.  Saya kaget kenapa baru ketemu dia langsung berani seperti itu. Tentu saja saya tidak langsung memberinya pinjaman dengan alasan uangnya mau dipakai untuk keperluan mengurus ibuku yang baru 40 hari meninggal. Dan dia pun memaklumi

Setelah dua bulan berlalu. Tiba-tiba saja saya dapat telpon darinya dengan maksud yang sama. Saya kira dia sudah melupakan saya untuk tidak meminjam. Akhirnya karena kasihan saya pinjami dia dengan cara mentransfernya.  Walau dengan sedikit was was tapi saya berpikiran positif saja dengan janjinya. Dia janji akan membayarnya jika tunjangan yang setiap tiga bulan kami nantikan diterima,  akan dibayarkan.

Setelah tiba masa itu.  Saya tidak langsung menagihnya. Namun saya tunggu dia untuk menepati janjinya. Ternyata setelah satu bulan berlalu dia tak sedikit pun memberi kabar akan melunasi utangnya. Dengan perasaan segan saya coba untuk menanyakan janjinya.  Bukankah kita juga punya kewajiban untuk menagih? Namun apa jawabannya tidak seperti yang diharapkan. Berbagai alasan dia keluarkan. Ya udah akhirnya dia janji tanggal sekian dia akan bayar itupun jika dia punya rezeki.

Namun beberapa hari kemudian setelah tanggal yang dijanjikan dia menghubungi saya bahwa dia belum bisa membayar utangnya sesuai janji karena dia tidak berhasil mendapatkan pinjaman dari saudaranya. Akhirnya dia meminta alamat rumah saya, katanya mau datang ke rumah.  Saya sebenarnya ragu memberikan alamat rumah,  mau apa dia datang ke rumah kalau bukan untuk bayar utangnya.  Tetapi karena dia teman saya dan saya sudah tahu tentangnya,   saya beritahukan saja petunjuk menuju rumah saya.  Ya dia datang ke rumah bersama suaminya. Awalnya dia cerita tentang kondisi   ekonomi keluarganya. Sambil menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa membayar utangnya. Lama-lama akhirnya saya tahu ternyata dia datang itu bermaksud meminta pertolongan untuk minjam lagi. 

Ya Alloh,  maafkan saya. Saya tidak mau berbohong lagi. Kepercayaan saya sudah luntur. Saya beri alasan kepadanya bahwa menapa saya menagihnya karena dia berjanji dan kedua karena saya perlu. Tetapi dia malah datang ke rumah dengan menceritakan keadaan keuangan keluarganya  dengan alasan yang tak masuk akal.  Saya sampai berfikir mengapa dia sama suaminya yang sama-sama pegawai negeri tapi dia tidak bisa mengatur keuangannnya.  Gaji keduanya sudah digadaikan ke bank dan mungkin kalau saya tidak bisa hidup dengan sisa gaji yang sekecil itu untuk menghidupi keluarga. Saya tidak tahu dari mana dia bisa hidup seperti itu,  mungkin dia pinjam sana sini dengan janji-janjinya.  Dan akhirnya karena sudah tidak ada kepercayaan dari teman dekatnya, berbagai cara dia cari termasuk mendekati teman-teman yang jauh.

Dari pengalaman itu ada pembelajaran buat saya.  Walaupun ini bukan kasus pertama yang saya lihat tapi sudah banyak dialami yang lain. Kita harus hati-hati dengan utang. Karena utang adalah janji yang harus dibayar.  Bahkan utang adalah bisa menjadi penghalang rezeki kita. Sekiranya kalau kita tidak bisa untuk membayarnya jangan coba-coba berutang untuk hal yang tak terlalu penting. Tak perlu menunjukkan kemewahan dunia kalau kita tak mampu.  Hiduplah apa adanya tak perlu dipaksakan.

Semoga saya terbebas dari utang yang memberatkan.