Kopi Cinlok di Caffe Cinta

Kekang raga tuk mengusir kekalutan jiwa
Omongan sakral tersimpan di jutaan telinga
Pupuskan cahaya yang menyalak di mata
Ingin man manis setelah meneguk pahit

Cerita nista menggores papan dada
Intip seteguk membagi duka
Neraca adil kan terpantau menganga
Tepiskan rasa yang enggan menyiksa
Antara cinta dan rasa kopi pahit itu ada

Puisi akrostik yang ditulis Pram kemarin malam, begitu jelas memberi gambaran sama pada isi hatinya saat ini.

Brakkk!… “kamu pikir bisa semudah itu kamu menyiksanya?. Aku tidak habis pikir sana kamu, Pram.”

“Harus bagaimana lagi, Mas. Aku mencintai Tammy, tapi aku tak bisa mengenalkannya ke mama.”

“Untuk apa kau mau mengenalkan pada keluarga, jiga hatimu masih tersisa untuk pramusaji di caffe itu!.”

Perselisihan sengit yang terjadi siang ini, menambah panas suasana. Mas Barry dan Pramudya adiknya sedang mempermasalahkan sesuatu.

Bagaimana Barry tidak marah. Melihat Tammy yang ternyata dulu pernah disukainya, kini dipermainkan Pram, adiknya sendiri.

Pramudya menyadari dengan penuh kesadaran. Kalau hal ini pasti terjadi. Sebaiknya memang Pram segera mengambil keputusan terbaiknya.

Hubungan yang terjadi tidak akan memberikan kenyamanan. Apalagi Tammy yang bekerja sebagai pelayan di caffe Cinlok itu, wanita yang juga menjadi bidikan kakaknya sendiri.

“Baiklah kalau begitu. Aku memilih Tammy untuk aku ajak ta’aruf.”

“Kamu sanggup tidak mempermainkan dia lagi?.”

Kak Berry mah menerima, aku akan lebih lega, Kak. Kecuali kakak tak bisa merelakannya untukku!.”

Beberapa saat waktu hening, kedua laki-laki bersaudara itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Di ujung caffe, Tammy berjalan menghampiri , setelah turun dari mobil sedan BMW berwarna silver terang.

Di sampingnya ikut berjalan seorang lelaki kekar agak berumur, sedikit ingin menggandengnya. Namun Tammy menepisnya dengan lembut.

“Biasa saja ya, Mas. Saya malu banyak orang.” Jawaban Tammy yang lembut, membuat bos pemilik Caffe itu tersenyum. Tanda ikut setuju untuk tidak menggandengnya saat itu.

Pramudya dan Mas Barry sailing memandang. Tanda Tanya besar yang kini terpampang jelas di jidat mereka berdua.

Foto : dokumentasi pribadi