Jalasah Ruhiyah

Jalasah Ruhiyah

Akhlak kita sesama muslim saling mencintai. Jika bersua dengan teman muslim ataupun bukan, hendaklah kita tersenyum, menyapa dan ramah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa akhlak merupakan budi pekerti.

Bagaimana akhlak kita kepada Allah?

  • Ketika kita dalam kesulitan hendaknya selalu membersamai Allah. Contoh dalam kehidupan kita sehari-hari, ketika kita dalam keterpurukan misalkan mempunyai utang,

Apakah yang kita lakukan?

Pertama kita lakukan adalah mengambil ponsel. Lalu melihat nama teman-teman kita dalam ponsel tersebut kemudian menelusuri sekiranya siapakah teman yang mempunyai kelebihan uang dan bersedia untuk dipinjamkan uangnya.

Iya tidak? Pasti jawabanya iya, kan? Mengapa yang dihubungi itu teman? Mengapa tidak langsung kepada Allah? Padahal Allahlah yang mempunyai segalanya. Begitulah manusia yang dipikirkan adalah ikhtiar dunia.

  • Contoh kedua, ketika kita tertimpa sakit dan penyakit itu sulit untuk disembuhkan.

Apakah yang kita lakukan?

Mencari referensi dokter mana yang sanggup mengobati. Informasi yang didapatkan bahwa dokter Luar Negeri bagus, hebat, penyakit apapun akan sembuh. Lalu terbanglah ke Singapura, ke Paris, ke Jerman untuk mencari pengobatan. Berapapun biaya dikeluarkan tidak masalah yang terpenting kesehatan paling utama.

Padahal ketahuilah Allah yang memberikan sakit. Maka Allah jualah yang memberikan kesembuhan.
Fokuslah kepada Allah. Namun kita selalu memprioritaskan ikhtiar dunia. Padahal semua itu kuncinya hanya kepada Allah. Bagaimana Allah akan menyembuhkan?, jika kita masih tak mampu untuk yakin kepada-Nya. Silakanlah ikhtiar, berusaha semaksimal mungkin hanya kepada Allah. Seperti halnya kisah Nabi Ayyub Alaihis Salam, Qs. Al-Anbiyaa 83.

“dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Jika segala urusan bukan kepada Allah. Maka lihatlah Allah akan membiarkannya.
Maka bersabarlah. Nabi Ayyub mempunyai ujian yang sangat hebat. Namun tetap sabar dan tabah. sesuai dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiyaa ayat 84,¬† yang artinya:

“Maka Kamipun kabulkan (doa)nya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”

Referensi: https://tafsirweb.com/5596-surat-al-anbiya-ayat-84.html

Puncaknya iman seseorang ketika mendapatkan ujian, dan dia semakin dekat dengan Allah dan tidak pernah mengeluh. Ada tiga kata yang perlu diperhatikan, yaitu:
Iman, ujian, dan pahala.
Rumus yang perlu diperhatikan, jika
Iman kecil, ujian kecil, pahala kecil dan pertolongan Allah kecil.
Iman besar, ujian besar, pahala besar dan pertolongan Allah besar.
Iman tipis, ujian tipis dan pahalapun tipis.

  • Contoh ketiga janganlah karena masalah kecil, sampai kita berpisah dengan suami.

Karena sesungguhnya perpisahan bukan jalan keluar, akan tetapi akan semakin menambah beban yang ditanggung, dari berdua menjaga anak dan keluarga, lalu sendiri. bagaimana tidak membebani kehidupan? untuk itu bersabarlah, sesungguhnya Allah Maha penyayang.

Masalah hidupmu di dunia janganlah dipikirkan. Serahkan semuanya kepada Allah. Ada orang kaya raya tetapi mengapa dengan banyak uang itu belum pergi haji? karena semua itu semata-mata belum Allah izinkan.
Akan tetapi ada seorang anak tidak diberikan nafkah oleh orang tuanya dan dhuafa. Namun dia mampu menaikkan haji orang tuanya. Siapakah dia?
Anak kecil yang Hafidz Qur’an dan diberikan beasiswa untuk berangkat haji bersama-sama. Jadi yakinlah bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Wallahu a’lam bishsowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

2 comments

Comments are closed.