Jangan Mau Mahir Self Editing

Jangan Mau Mahir Self Editing

Eits, serius, Thor? Kok, jangan mau self editing? Serius dong, ah. Pake banget! Sejutarius bahkan kalau kurang. Hehehe.

Kenapa jangan mau self editing untuk tulisan yang kita buat? Pertama, self editing bisa bikin tulisan kita jadi rapi, dan enak dibaca. Kita sendiri kalau baca tulisan rapi pasti suka bacanya, iya nggak? Kalau tulisan bagus dan rapi, bisa makin banyak yang suka dan baca tulisan kita, dong? Lha, iyalah. Makanya, itu sangat berbahaya, Sobat!

Kedua. Kemampuan self editing membuat kita jadi disiplin dalam menyelesaikan sebuah tulisan. Mata akan refleks risi bila melihat kesalahan dalam penulisan. Baik itu tulisan sendiri maupun orang lain. Bawaannya jari ingin mengetik dan merevisi terus dan mulut ingin memberitahu si empunya tulisan. Sebelum tulisan sendiri maupun orang lain diedit dan direvisi berkali-kali, belum tenang rasanya untuk melemparnya ke masyarakat untuk dikonsumsi. It’s has to be perfect!

Ketiga. Yang namanya kemampuan self editing itu harus terus dilatih dan diasah. Nggak bisa malas-malasan. Apalagi bagi kita yang sudah berstatus emak-emak. Belajar dan berlatihnya memakan waktu yang lumayan, tapi begitu ilmunya tidak lagi digunakan, cepat sekali lupanya. Jadi kita mesti terus rajin belajar dan berlatih. Harus selalu dipegang tuh buku PUEBI dan kawan-kawan. Otak bakalan terus diajak berpikir. Kalau otak sering diajak berpikir, penyakit pikun bakalan terhambat datangnya. Nah, lho!

Keempat, kemahiran saat self editing bisa membuat pamor kita sebagai penulis handal naik. Editor-editor bakalan senang hati menerima naskah kita. Nama kita akan selalu diingat. Dimasukkan dalam white list (lawannya black list, hahaha). Recomended dong pastinya. Makin dikenal masyarakat. Tuh, kan? Repot ya kan kalau terkenal? Siap-siap dimintai tanda tangan, nih.

Sumber gambar : Rhea’s collection

Kelima. Tawaran, peluang, maupun job sebagai editor bisa jadi semakin berdatangan. Muncul bertubi-tubi. Apalagi bila kita memiliki banyak portofolio buku hasil editan sendiri. Makanya, saat bergabung menulis di manapun, baik sebagai editor atau pun penulis, simpan baik-baik minimal satu buku terbitnya. Untuk bukti kalau kemampuan kita sebagai editor layak dipertimbangkan.

Terakhir. Ladang pahala yang subur makmur. Kok, bisa? Ya iyalah. Dengan memiliki kemampuan self editing kita jadi banyak membantu orang lain yang merasa skill-nya masih kurang. Kita beri masukan, saran, kritik yang sifatnya konstruktif. Lebih bagus lagi jika orang yang kita bantu ikutan mempraktikkan ilmu dan menyebarkannya pada orang lain. Jika orang lain senang karena tulisannya jadi cantik karena bantuan kita, itu jadi pahala. Menyenangkan orang lain itu berpahala, bisa mendatangkan rezeki lebih banyak lagi buat kita, dan ilmu yang didapat lalu disebarkan itu akan mendatangkan amal jariyah. Duh, pusing kan ya jadinya kalau banyak pahala? Tiket surga melambai-lambai, nih. Aamiin.

Gimana, Sobat, setelah membaca uraian di atas? Jangan mau mahir self editing? Masih ingin nulis dengan hasil berantakan dan malas untuk merapikannya? Masih ingin disebut dan dipuja sebagai penulis tapi hasil tulisan membuat editor sering-sering minum parasetamol atau mengoleskan minyak angin untuk memijat kepalanya yang mendadak migrain?

Pilihan ada di tangan kita sendiri. Mau berumur panjang atau tidak berkarir sebagai penulis, itu berdasarkan perjuangan diri kita sendiri. Masih mau menorehkan jejak sebanyak mungkin sebagai bukti keberadaan kita di dunia ini? It’s all your choices.

Salam literasi.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

2 comments

Comments are closed.