Jenis-Jenis Wawancara Kualitatif

Sumber gambar :http;//www.femina.co.id/

Jenis-Jenis Wawancara Kualitatif

Tujuan wawancara adalah untuk mengumpulkan informasi. Untuk memahami beberapa pemahaman wawancara, maka harus diketahui dulu jenis-jenis wawancara. Hal ini akan menjadi acuan bekerjanya peneliti saat melakukan wawancara.

Beberapa sumber mengatakan bahwa wawancara dikenal dengan formal dan informal. Ada juga yang mengenalnya wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Atau bahkan ada yang menyebutnya wawancara terstandar (formal dan terstruktur) dan wawancara tidak terstandar (informal dan tidak langsung), wawancara setengah terstandar (setengah baku-terpadu atau terarah). Dan lainnya.

Tiap teknik wawancara berbeda jenis. Perbedaan atas teknik wawancara ini adalah pada tingkatan dari kekakuan dengan susunan penyajian yang berbeda pula. Perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut:

Pertama, wawancara baku. Jenis wawancara ini terstruktur dan baku. Pemilihan kata sengaja dipilih dalam pertanyaan. Tidak ada penyesesuai level bahasa. Tidak ada pembenaran atas jawaban wawancara, tidak ada pertanyaan tambahan atau selingan. Menggunakan format pertanyaan yang baku.

Pada jenis wawancara baku ini, struktur formal pertanyaan disusun. Subjek dari semuanya diminta untuk menjawab setiap pertanyaan, disesuaikan dengan yang ditanyakan. Karena untuk mendapatkan kesamaan jawaban secara ideal. Jika peneliti memilih jenis ini maka dimungkinkan akan muncul ide yang solid. Tidak ada yang ditutup-tutupi saat wawancara. Asumsinya adalah instrumen wawancara sudah cukup menyeluruh mendatangkan semua informasi yang diinginkan peneliti. Hal ini dapat dimaknai bahwa tiap pertanyaan akan identik untuk setiap subjek informan.

Kedua, wawancara setengah baku. Jenis wawancara ini terstruktur. Pertanyaan disusun ulang selama wawancara. Pemilihan kata lebih fleksibel. Bahasa disesuaikan. Pewawancara dapat menambah pertanyaan. Dan memberikan pembenaran jawaban.

Wawancara jenis setengah baku ini, meliputi beberapa pertanyaan pada topik-topik khusus. Pertanyannya dibuat dengan susunan yang sistematis dan konsisten, tetapi pewawancara diijinkan bebas untuk menyimpang dari struktur pertanyaan yang telah dibuat. Hal ini dengan tujuan untuk menggali lebih banyak lagi informasi.

Ketiga, wawancara yang tidak baku. Wawancara ini tidak terstruktur sama sekali. Tidak ada susunan pertanyaan. Tidak ada pemilihan kata dalam pertanyaan. Level bahasa disesuaikan. Pewawancara boleh membenarkan. Dan pewawancara boleh menambah pertanyaan.

Berbeda lagi pada jenis yang ini. Wawancara tidak baku tidak menggunakan pertanyaan. Tidak ada susunanya. Biasanya wawancara berjalan dari serangkaian asumsi yang berbeda.  Karena biasanya peneliti belum mengetahui mana pertanyaan penting untuk ditanyakan. Akibatnya, peneliti tidak mampu memenuhi pertanyaan yang akab dicari jawabannya. Bahkan subjek akan memunculkan kosakata yang berbeda.

Pewawancara yang menggunakan jenis wawancara tidak baku, akan menindaklanjuti pemeriksaan tujuan utama penelitian. Hal ini akan membantu peneliti untuk menghasilkan pertanyaan-pertanyaan penelitian. Pertanyaan yang relevan. Kadang jenis wawancara ini digunakan untuk memperbesar pengamatan lapangan. Mengijinkan peneliti untuk mendapatkan informasi tambahan fenomena yang diamati yaitu dengan memberikan pertanyaan.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/ Anita Kristina