Keadilan yang Tercabik (Cerpen)

Keadilan yang Tercabik

Rita menjengit ketika menyadari seseorang hendak menyentuh lengannya.
“Ta, ini Dewi.”
Rita tak menjawab. Hanya genangan air tampak jelas di pelupuk mata dan mengaliri pipinya.

Dewi menarik napas. Dia paham trauma berat yang dialami sahabatnya. Perempuan mana yang hatinya tidak ikut tercabik saat kehormatannya direnggut paksa.

“Ta, Dewi boleh peluk kamu?”
Rita tak menjawab pun tidak mengangguk. Tatapannya kosong dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Perlahan Dewi meraihnya dalam pelukan. Untungnya Rita tak menolak. Air matanya kembali deras.

“Rita sayang, cepat sembuh ya. Percaya pada Allah Sang Maha Adil. Seperti yang Emmy katakan.” Dewi memejamkan kedua matanya. Perlahan ingatan akan hari itu terbuka kembali.


“Saudari Rita sudah mencabut gugatannya pada saudara Endro. Jadi tenaga saya sudah tidak diperlukan lagi.”

“Lho? Tapi kenapa?” Dewi terkejut mendengarkan penjelasan dari bapak pengacara yang disewa Rita.
Sengaja Dewi mendatanginya untuk meminta penjelasan mengapa kasus pelecehan yang menimpa sahabatnya tiba-tiba ditutup.

“Rita sudah mengakui sendiri bahwa mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Lagipula Endro itu kan pacarnya.”
“Bohong! Nggak mungkin Rita bilang seperti itu!”
“Nak Dewi, maaf saya tidak punya banyak waktu.” Sang pengacara bangkit lalu mempersilakan Dewi keluar dari ruangannya.

‘Nggak mungkin Rita mencabut gugatannya.’
Dahi Dewi berkerut. Otaknya buntu, tak mampu mengurai teka-teki ini. Dewi meraih tombol lift dan menekan tombol angka satu ketika sudah berada di dalamnya.

Gadis itu baru saja hendak keluar saat menyadari sosok lelaki yang baru saja memasuki lift. Kedua bola mata Dewi membesar. Mulutnya ternganga tanpa sepatah katapun mampu terucap. Di dalam lift, Endro menyeringai ke arah Dewi lalu menggamit lengan lelaki paruh baya di sisinya. Dewi tak tahu siapa lelaki di samping Endro. Namun rasanya dia pernah melihat di suatu tempat.

Dewi berjalan melintasi lobi ketika pandangannya tertuju pada surat kabar yang tertata rapi pada rak kayu. Dewi mendekati rak tersebut dan meraih salah satu koran, untuk memastikan sesuatu.
“Jadi … Lelaki itu adalah ….”

Dia menghempas koran tersebut tanpa mau bersusah payah merapikannya. Terpampang tulisan besar yang dicetak huruf kapital: “Calon anggota dewan beserta putranya mengadakan bakti sosial dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah.” Sementara di bawah tulisan itu tercetaklah foto Endro dan lelaki yang bersamanya tadi di lift.

rumahmediagrup/emmyherlina