Kisah Tukang Pijat dan Semangkok Bakso

Kisah Tukang Pijat dan Semangkok Bakso

Suatu pagi, bangun tidur tiba-tiba bahu saya sakit, salah bantal sepertinya. Saya segera menelpon tukang pijat, seorang ibu separuh baya langganan kami.

Alhamdulillah setelah dipijat, sakitnya agak mereda. Saya sudah bisa menengok ke kanan lagi.

Seperti biasa, sambil memijat saya, si ibu itu punya banyak kisah.

Dia cerita, kalau sekarang dia dititipi cucu. Jadi di sela-sela kesibukan memijat, dia momong cucunya yang berusia 3,5 tahun. Bapaknya bekerja, jadi tukang ojek. Ibunya? Pergi, menikah lagi dengan lelaki lain. Anaknya ditinggal begitu saja. Jadilah anak itu tinggal dengan ayah dan neneknya.

Si ibu tukang pijat cerita, biasanya sepulang memijat, dia akan mampir di warung bakso kesukaannya. Dia bilang, “untuk tombo kesel.” Ya, semangkok bakso, makanan favoritnya cukup sebagai penghibur dan penyemangat hidupnya. Tak lupa dia bungkuskan pula bakso itu untuk cucunya. Ah, si ibu tahu saja cara menikmati me time ya.

Yang saya suka dari beliau adalah filosofi hidupnya yang semeleh, apa ya terjemahannya? Pasrah dan menerima apa adanya. Perjalanan hidupnya yang tak selalu mulus dan lancar membuktikan hal itu.

Dari keahliannya memijat, dia menghidupi empat anak. Jatuh bangun merawat, mendidik, menyekolahkan anak-anaknya. Hingga mereka dewasa dan semuanya sudah menikah. Ke mana suaminya? Sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Saat suaminya masih hidup pun, si ibu itu telah menjadi tulang punggung keluarga.

“Suami saya orangnya ganteng, bersih kulitnya. Nggak seperti saya, wong ndeso.”

Namun sayang, suaminya tipe lelaki yang hobinya main-main, rasa tanggungjawabnya terhadap keluarga sangat kurang. Namun, si ibu itu tetap setia merawat suaminya hingga akhir hayat. Sang suami meninggal akibat kanker paru.

Satu lagi yang saya kagumi dari si ibu tukang pijat itu. Meskipun sudah tak muda lagi, namun dia tetap menjaga diri dari fitnah. Dia cerita, sering ada bapak-bapak tetangganya yang menawari tumpangan, mungkin karena kasihan melihatnya jalan kaki sendirian.

Namun, semua dia tolak.

“Kenapa Bu?” tanya saya.

“Karena saya tidak ingin jadi sumber fitnah, Mbak. Saya pernah merasakan sendiri, bagaimana sakitnya saat tahu suami saya berselingkuh karena tergoda tetangga saya sendiri. Nah, itu sekarang saya terapkan ke diri saya, seandainya saya jadi istri para pria yang memboncengkan saya, bagaimana perasaan mereka. Itu saja sih, Mbak.”

Hmmm, jadi beliau lebih memilih capek jalan kaki daripada jadi penyebab rusaknya rumah tangga orang lain. Salut, Bu!

Si ibu tukang pijat itu, satu dari sekian banyak perempuan tangguh yang ada di sekitar kita. Seorang tukang pijat yang sederhana namun sarat pelajaran hidup.

Ya, kehidupan di luar sana ternyata begitu penuh warna. Masih banyak yang lebih susah hidupnya dari kita. Jadi, masihkah kita mengeluh?

rumahmediagrup/meikurnia