Kuterima Takdirku

Kuterima Takdirku

Pagi itu akhirnya aku memberanikan diri mendaftar untuk berobat di poli kandungan.

Setelah menyelesaikan serangkaian pendaftaran, aku pun duduk di ruang tunggu poli kandungan.

Nomor 3. Kulihat kartu antrianku. Hari masih pagi tak banyak pasien yang datang. Hanya ada tiga perempuan di kursi tunggu.

Aku beranjak dari tempat dudukku saat namaku disebut. Terasa dingin tanganku.

“Sudah telat berapa bulan, Mbak?” tanya dokter cantik di depanku.

Kubaca nama yang tertera di jas putihnya, Dokter Padmi.

“Tiga bulan, Dok,” jawabku.

“Sudah di-test pack?” Dokter Padmi menatapku.

“Sudah, Dok, tapi negatif,” jawabku lesu.

“Silakan Mbak ke sana,” dokter menunjuk sebuah tempat tidur periksa.

Kemudian, dokter meng-USG rahimku dibantu seorang perawat.

Cairan dingin dioleskan ke perutku bagian bawah. Mataku menatap layar monitor dengan harap-harap cemas.

“Belum ada kantong rahimnya,” ujar Dokter Padmi pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Aku hanya tersenyum lalu bertanya-tanya tentang keadaanku.

Selesai berkonsultasi, aku keluar ruangan dengan langkah lunglai.

Ya Allah, ujian apa yang Kau berikan padaku? Mengapa aku?

Aku gemetar. Maka, kembali aku duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponsel tuaku. Kutandai kalender di ponselku. Ya, dua minggu lagi aku harus kembali ke sini untuk menentukan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap diriku.

Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik perencana. Aku pasrahkan diriku pada-Mu. Namun, berilah aku kekuatan untuk menerima takdir-Mu.


rumahmediagrup/windadamayantirengganis