Mendung Tak Membeciku

Mendung Tak Membeciku

Masih ada sisa marahku pada mendung dan hujan,

Sudah hampir setengah warsa kering menyelimuti jiwa.

Tak setitikpun kau beri kesegaran meski telah meminta, mengiba dan mengharap kasihan kepadamu.

Kau mendung memang benci padaku.

Kulitku telah mengelupas keras meranggas hingga burung-burung enggan bernyanyi merdu sambut indahnya pagi di dahanku.

Kau tidak adil padaku.

Daun-daunku berguguran tak kuasa menahan haus dahaga hingga gugur lalu membusuk di tanah.

Dan lihatlah senja ini..

Senandung mendung menggelegar terdengar dari ujung ranting hingga ke akar. Semua menyambut gembira menjelang kau tiba.

Tawamu semakin membahana seiring perjalanan gelantung awan menenggelamkan sang surya dari mayapada.

Satu..dua..tiga detik..tubuhku yang lemah kurus kering meliuk-liuk diterpa dansa ria angin menarikan tarian selamat datang pada hujan.

Aku masih menunggu dengan sabar detik demi detik tetesan air meski kilat mulai menyambar-nyambar.

Dan ketika guntur menggelegar…seketika hati berdebar.

Tetes demi tetes kutelan kedalam..kuresapi dinginnya dan kunikmati kesegarannya.

Terimakasih hujan.. hidupku akan terang penuh decak kekaguman saat mahkota daunku mengembang hijau dan segar setelah siraman kenikmatan kau berikan.

*Bjn_0201114

rumahmediagrup/alinawidya29