NA

NA

Oleh: Ribka ImaRi

“Na,” sapamu. Aku heran. Kudengar dua huruf itu yang hampir selalu terucap darimu saat memanggilku. Tak berapa lama. Hanya berselang beberapa minggu setelah perkenalan kita.

Saat itu aku sendiri tak tahu artinya. Aku tak mengerti maksudmu memanggilku dengan Na. Aku bingung,”Kok bisa sih Ribka jadi Na? Lagi pula nama panjangku pun tak ada kata Na-nya.” gumamku semakin heran.

Karenanya, aku sering tidak menggubris saat kamu memanggilku “Na”. Kupikir kamu sedang memanggil Ifana. Teman sekantor kita.

Kian lama, aku jadi menikmati panggilan Na darimu. Jadi semacam panggilan khusus. Kalau tak boleh disebut panggilan sayang. Sebab saat itu kita masih terikat hubungan dengan calon pasangan hidup masing-masing.

Sampai suatu saat kita saling curhat bahwa telah putus dengan masing-masing mantan. Yang tak disangka waktunya hanya berbeda satu bulan.

Kala itu hampir setahun kebersamaan kita di kantor. Kamu tak berubah. Meski akhirnya kita berbeda divisi, kamu tetap memanggilku dengan sebutan unik. Tetap “Na”.

Sampai-sampai teman-teman kantor sering berseloroh supaya kita menjadi sepasang kekasih saja. Karena terlalu seringnya mendengar panggilan khusus itu darimu. Namun, aku masih berkeras hati. Karena aku dan kamu berbeda.

Hingga suatu siang. Aku menjemputmu di rumah indekosmu. Karena kita sudah berjanji untuk berangkat bersama ke Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.

Dalam perjalanan menuju National Sales Force Meeting PT. Eisai Indonesia di tahun 2008 itu, kita membahas berbagai macam topik demi membunuh rasa canggung yang tiba-tiba datang menghampiri.

Tak kusangka pembicaraan siang itu berujung membahas tentang perasaan kita masing-masing. Aneh. Pikirku.

Aku masih sangat ingat warna kaos yang kamu pakai. Kaos berkerah warna hijau garis hitam. Saat kamu sedang serius menyetir mobilku, kuperhatikan wajahmu dari samping, entah mengapa ada desir aneh yang tak kumengerti saat itu.

Tiba-tiba aku suka dengan caramu yang cool saat menyetir mobil. Aku merasa tenang ada yang melindungi. Menjadi sopirku sepanjang perjalanan menuju meeting nasional kali itu.

Dan saat itu, aku semakin tersentak dengan dengan ketegasanmu saat menjelaskan arti panggilan NA.

NA, katamu. Artinya adalah No Access. Karena kamu taat denga Islam-mu dan aku masih menganut Kristen. Betul-betul tak ada akses. Bahkan sampai sekarang aku masih saja terperangah mengingat setiap rinci kejadian hampir dua belas tahun silam.

Tak kusangka. Saat mengingat tatapan matamu penuh cinta di seberang meja bundar di sela National Meeting. Entah mengapa akupun membalas rasa yang Allah hadirkan itu untuk kita sepanjang hari itu.

Hingga puncaknya, malam itu. Sungguh tak bisa kutolak rasa di hati. Aku dan kamu saling menatap. Sebelum kita berfoto seperti di Gala Dinner National Sales Force Meeting di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Gala Dinner terindah yang tak pernah kulupakan di tanggal 6 April 2008.

Sungguh, aku tak menyangka. Kita bisa sepakat berjanji akan mencoba berjuang bersama. Padahal beberapa hari sebelumnya, di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju Ancol, kamu dan aku sudah sepakat “No Access” untuk hubungan kita. Bahkan ketika kita sampai di parkiran Hotel Mercure. Sesaat sebelum menuju kamar hotel masing-masing. Lalu berjanji untuk bertemu nanti di acara meeting yang akan berlangsung selama lima hari ke depan.

Tapi Allah SWT yang Maha membolakbalikkan hati dan keputusan kita saat itu. Ajaib. Jika pada akhirnya kita menjadi berjanji berjuang untuk menembus No Accses itu.

“Kita bisa bersama, asalkan kamu ikut aku,” katamu meyakinkanku.

Kok bisa ya?

Meski selama satu tahun di awal sekantor denganmu, hatiku tetap teguh pada keyakinanku. Tapi malam itu, aku menerima ajakanmu untuk serius menata hari depan bersama. Kamu dan aku. Berdua. Untuk menjadi satu.

Bukan janji-janji kosong belaka dan rayuan gombal ala cinta remaja. Tapi cinta yang dewasa yang selalu kamu tunjukkan dengan rasa tanggung jawabmu menjaga hidupku yang rapuh kala itu.

Karena saat itu hidupku teramat genting. Pilihanku hanya dua. Antara berpikiran bunuh diri atau membunuh beliau yang telah ribuan kali mengatakan “Lu memang bukan anak gua.” Sedari aku kecil hingga menjelang 30 tahun usiaku saat kamu melamarku.

Ya, akhirnya kamu memberanikan diri datang melamarku. Meskipun kamu disambut dengan tak wajar oleh keluargaku. Karena kedatanganmu langsung ditinggal pergi oleh beliau yang seharusnya menjadi wali nikahku. Tapi sudah bisa dipastikan, tak akan bisa karena harus memakai wali hakim.

Namun, kamu terus berusaha meyakinkanku. Memastikan akan membawaku keluar rumah. Dari rumah orang tuaku, segera pindah ke rumah yang telah kamu usahakan sudah siap sebelum rencana kita menikah.

Tak banyak yang kamu janjikan. Tak pula kamu berjanji bahwa semua akan selalu indah dan bahagia saat bersamamu.

Namun, duabelas tahun perjalanan cinta yang mengharu biru, kamu selalu menunjukkan rasa tanggungjawabmu kepadaku dan keluarga kecil kita.

Selama dua tahun menjalin kasih dan hampir sepuluh tahun sejak ijab kabulmu yang diterima wali hakimku, membuatku semakin yakin bahwa ini memang sudah jalan dari Allah SWT.

Kamu dan aku adalah teman sekantor yang akhirnya menjadi teman hidup. Iya, kamu adalah soulmate-ku yang Allah SWT berikan untuk menyelamatkan jiwaku dua belas tahun silam. Bismillah teman sehidupku di dunia dan sesurgaku di akhirat nanti. Aamiin.

Love u my Dudz

#NubarSumatera
#ChallengeMenulis
#Day33
#27Febuari2019
#TemaSoulmate

3 comments

Comments are closed.