Observasi Partisipan pada Fenomenologi

Sumber gambar : http://www.google.com/

Observasi Partisipan pada Fenomenologi

Fenomenologi dicirikan bagaimana peneliti mampu mengkontruksi pengalaman informan sebagai kebenaran empiris. Tetapi dalam prosesnya juga akan ditemui implikasi praktis. Hal ini berlaku untuk penelitian ilmiah sosial. Penjelasan atas pengalaman informan harus menunjukkan sebuah konstruk tertentu. Ini berarti bahwa metode yang digunakan oleh peneliti dapat bervariasi, namun mereka harus melindungi jawaban informan sebagai perspektif keduanya (peneliti dan informan) dan juga adanya peran teori. Karena itu, peneliti tidak bisa cukup menggunakan metode observasi biasa. Mereka harus mengkombinasikan dengan percakapan informal dan wawancara. Dengan kata lain, pendekatan fenomenologi ini biasanya membutuhkan interaksi verbal di lapangan. Metode pengumpulan data melalui wawancara yang paling cocok dan sangat penting.

Dalam fenomenologi terdapat proses mengamati situasi atau peneliti belajar tentang informan dalam lingkup permasalahan yang diteliti. Dengan demikian, idealnya adalah menggabungkan wawancara dengan observasi. Dari pengamatan saja mudah untuk membuat kesalahan, pemahaman menuntut adanya kombinasi observasi dan tanya jawab. Studi pendahuluan membimbing peneliti ke metode yang paling cocok, pemilihan teori, dan kompetensi bidang ilmu. Namun peneliti yang bijaksana seharusnya menggunakan beberapa metode. Misalnya, interaksi pertama di lapangan dapat melalui pengamatan, dan kemudian peneliti dapat mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah dia ketahui, dan berpikir dia tahu sesuatu tentang hal tersebut atau tidak.

Pada awal mulai bertanya, mungkin sering canggung karena belum mengetahui apa-apa yang ada di lapangan. Jelas sekali bahwa peneliti akan meninggalkan domain besar karena dia kurang paham dan belum berpengalaman di lapangan. Ya, harus dilatih dan belajar saat bertanya kepada informan.

Sebenarnya, pertanyaannya bukan mengapa kita harus menggabungkan metode pengumpulan data atau tidak,  melainkan memang keharusan untuk menggabungkan metode tersebut. Disarankan untuk menggabungkan metode pengumpulan data pada fenomenologi. Karena menggunakan apa yang disebut dengan pendekatan triangulasi. Uji keabsahan data pada penelitian kualitatif seringkali dilakukan dengan triangulasi, yakni mencocokan data informan dengan sumber lainnya. Salah satu sumber adalah observasi.

Observasi pada fenomenologi disarankan menggunakan pendekatan observasi partisipan dan kerja lapangan. Biasanya digunakan pada studi antropologi, bersifat kerja lapang, termasuk  melakukannya dalam jangka panjang, melakukan pencatatan. Hal ini akan diperoleh catatan lapangan yang cermat, sehingga memisahkan pendapat informan dan perasaan peneliti dengan jelas. Perbedaan yang cermat dari apa yang diamati peneliti dan dari apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang diteliti. Interaksi di dalamnya adalah suatu kebajikan, tetapi dalam kasus-kasus ketika seseorang tidak dapat berinteraksi secara lisan, maka pengamatan harus dilakukan. Dengan demikian, maka berarti catatan lapangan harus dibuat secara objektif dan mencatat semua situasinya. Idealnya catatannya begitu jelas dan transparan sehingga peneliti lain bisa membacanya dan menganalisis materi yang sama. Ini berarti bahwa lingkungan fisik dan apa yang terjadi di lapangan, yang terlihat, kemudian ditafsirkan dan dianalisis oleh peneliti. Padahal materinya sering kali dianalisis dalam kombinasi, baik dengan wawancara dan bentuk bukti lain, namun ini tidak mengubah fakta bahwa bahan pengamatan yang dikumpulkan dan ditafsirkan adalah dari sudut pandang peneliti.

Fenomenologi melihat banyak strategi yang masuk akal dalam pengumpulan data. Namun ada perbedaan utama, yakni peneliti hanya melihat dengan objektivitinya sendiri dan menceritakan apa yang telah dia amati. Oleh karena itu, ahli fenomenologi dapat mengubah pengamatannya sendiri melalui banyak pertanyaan penelitian. Dengan demikian, apa yang dia amati dapat digunakan sebagai dasar untuk mengajukan pertanyaan kepada mereka yang dia amati, tentang apa yang telah terjadi, apa artinya, jika itu khas (unik), dan pertanyaan lainnya atau sebagainya. Pertanyaan bisa saja dalam hal seluruh latar sosial, termasuk lingkungan fisik, dapat juga dilihat perspektif informan. Hanya melalui mereka, peneliti dapat mencari tahu apa yang dia pelajari, dinaturalisasikan (alami saja) dan peneliti datang untuk menerima begitu saja, dan ini dapat berarti bahwa lingkungan mereka adalah milik peneliti juga. Inilah yang bisa dikatakan sebagai observasi partisipan.

Strategi lain yang dapat dimanfaatkan dalam penggabungan pengumpulan data, yaitu bisa dilakukan dalam perspektif informan. Strategi tersebut bisa menggunakan kamera video atau bentuk lain dari teknik dan media perekaman visual. Agar memiliki diskusi informal atau wawancara yang berpusat pada visual dokumen, “elisitasi foto”, sangat dianjurkan sebagai metode. Ini tidak hanya memfasilitasi diskusi, tetapi dalam kasus di mana orang merasa sangat sulit untuk diungkapkan dari apa yang mereka lakukan secara lisan. Alat visual ini juga bisa membantu mereka untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam kata-kata mereka. Jelas, ini bukan berarti peneliti harus menghindari kesan sendiri, karena ini mungkin sangat berguna sebagai dasar untuk mengajukan pertanyaan. Dan biasanya memberi wawasan tentang bagaimana pendatang baru agar merasakan dan mengetahui apa yang dia rasakan? Meskipun demikian penting untuk memisahkan konstruksi tingkat pertama (kontruksi wawancara) dari aktor di lapangan, dan dari konstruksi teori yang telah peneliti buat.

Selanjutnya pengetahuan sehari-hari peneliti sebagai dasar untuk menafsirkan bahwa manusia, ketika bertindak dalam peran seorang ilmuwan.  Dengan kata lain, pemahaman tentang ilmuwan harus berakar pada pemahaman tentang kehidupannya yang biasa di mana dia berada.

Peneliti menggunakan wawancara sebagai alat untuk  menggambarkan bagaimana observasi yang dilakukan. Seperti yang sudah diuraikan, hal itu menyiratkan bahwa seseorang harus berbicara kepada orang-orang. Peneliti tidak bisa tetap terjebak dalam prakonsepsi sendiri tentang apa yang orang lakukan, dan tidak bisa hanya berasumsi bahwa dia melihat hal yang sama seperti yang ia dipelajari. Meskipun seseorang dapat melakukan wawancara dan mempertahankan perspektif aktor-centered (informan utama).

Di saat melakukan wawancara, peneliti dapat memiliki teknik praktis agar peneliti melakukan wawancara. Ini didasarkan pada panduan wawancara yang berguna untuk wawancara yang tidak terstruktur. Hal ini bertujuan untuk mengeksplorasi struktur makna orang yang telah diwawancarai. Mengorganisir pertanyaan dalam wawancara terstruktur jarang menimbulkan masalah bagi seorang ilmuwan sosial yang berpengalaman. Namun, ahli fenomenologi menginginkan menjelajahi dunia sosial dengan cara yang belum ditentukan. Hal ini mencerminkan struktur makna aktor daripada dirinya sendiri. Untuk melakukan ini, ia cenderung menggunakan non-terstruktur atau wawancara semi-terstruktur. Jika tema yang dibahas selama wawancara tidak terstruktur, maka harus dipandu oleh teori yang telah dipilih peneliti sebagai kerangka referensi. Jika mungkin masih kabur, maka dapat berubah dengan wawancara mengambil rute baru. Dalam beberapa kasus, peneliti bahkan tidak memiliki formulasi pertanyaan, melainkan serangkaian tema untuk diskusi. Panduan wawancara harus dapat mengatasi hal ini.

Selamat meneliti, semoga bermanfaat!

Referensi :

Patrik Aspers, study of Fenomenology, dalam jurnal Indo-Pacific Journal of Phenomenology, Volume 9, Edition 2 October 2009, Pp. 1 – 12.

rumahmediagrup/Anita Kristina