Penat Perasaan

Penat Perasaan

Letih, penat seringkali kita rasakan, terutama saat kesibukan benar-benar menyita tenaga. Biasanya saat merasa penat, diatasi dengan istirahat cukup dan ditopang juga dengan asupan makanan yang lebih baik. 

Letih atau penat fisik, biasa kita alami dan bisa kembali normal dengan cepat. Namun ada pula yang mengungkapkan rasanya penat perasaan. Bagaimana rasanya penat perasaan, dan apakah bisa pulih secepat penanganan saat penat fisik?

Ditinjau dari arti kata, perasaan adalah rasa atau keadaan batin sewaktu menghadapi (merasai) sesuatu (KBBI).

Psikolog Paul Eckman ( Very Well Mind, 1972) membagi emosi dan perasaan dasar manusia ke dalam enam kategori, seperti ketakutan, jijik, marah, kejutan, kebahagiaan dan kesedihan. Pengertian ini diperluas lagi oleh Eckman pada tahun 1999 dengan memasukkan sejumlah perasaan lain seperti rasa malu, kegembiraan, penghinaan, kesombongan, kepuasan dan hiburan. 

Mengacu pada pengertian di atas, keadaan batin yang biasanya menimbulkan rasa letih atau penat dominan dirasakan saat ketakutan, malu, terhina. Bisa dikatakan juga sebagai situasi yang menyesakkan dada dan ingin dihindari tapi tak mampu.

Tekanan yang terjadi tidak dapat segera hilang dalam waktu singkat, tergantung dari kondisi batin yang mengalami, sangat terguncang hingga trauma atau masih taraf yang segera pulih saat sudah melampiaskan perasaannya pada orang terdekat. 

Curhat atau curahan hati dapat mengurangi penat perasaan. Namun manusia biasa tidak sepenuhnya  selalu siap menjadi tempat kita berkeluh kesah. Sekali dua kali, curhat kita masih disimak dengan baik. Matanya masih menatap kita dengan serius, bahkan mengabaikan kebutuhannya sendiri saat itu.

Kala kita datang untuk curhat ketiga kalinya saja, belum tentu tindakan empati yang sama ditunjukkannya. Sikapnya bisa acuh tak acuh, mengabaikan kita dan akhirnya yang curhat jadi jengah dan terdiam. Semua ada batasnya dan harus dimaklumi karena kondisi seseorang tidak selamanya stabil.

Sebaik-baiknya tempat berkeluh kesah adalah Sang Khalik. Kapanpun, dimanapun tanpa batasan waktu. Selamanya Dia akan mendengarkan perkataan hamba-Nya.

Allah pun berfirman : 

Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 156-158)

Saat kita merasa letih dengan suasana batin sendiri, maka Allah sebaik-baiknya penolong. Penat perasaan tidak akan lama terpendam dalam tubuh yang penuh iman. Dunia juga hanya sementara, akhirat yang kekal tujuan akhir manusia. 

Wallahualam bishawab

rumahmediagrup/hadiyatitriono