Penelitian Etnometodologi

Sumber gambar :http://www.google.com

Penelitian Etnometodologi

Etnometodologi dikenal sebagai paradigma penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap atas aktivitas keseharian. Metodologi ini tidak ditujukan untuk melakukan perbaikan atau solusi, karena ia bersifat seperti interpretivisme. Sehingga dapat dipahami bahwa kebenaran empiris yang diusung oleh etnometodologi adalah aktivitas keseharian, mengungkap fakta melalui aktivitas yang bersifat rutin.

Fokus dalam etnometodologi yaitu aktivitas keseharian. Fokus lainnya adalah para anggota kelompok, bukan individual, serta cara mereka dalam melakukan aktivitas keseharian. Jadi, peneliti tidak boleh fokus pada individu semata, namun harus mencari keterkaitan individu dengan kelompoknya saat ia melakukan aktivitas. Sehingga informan yang diambil tidak tertuju pada satu informan saja, namun anggota kelompok tertentu.

Etnometodologi diyakini sebagai metode yang merujuk pada pencarian justifikasi rasional mengapa suatu aktivitas dilakukan. Sehingga etnometodologi berbeda dengan etnografi yang mencari tema budaya, tetapi etnometodologi mencari alasan-alasan rasional mengapa mereka (informan anggota kelompok) melakukan aktivitas tertentu dalam keseharian mereka. Selanjutnya, aktivitas yang diamati adalah aktivitas yang keseharian dilakukan informan dalam kelompok tersebut, memaknai aktivitas tersebut sebagai bagian dari analisis.

Dalam melakukan observasi dan mempelajari atas aktivitas anggota kelompok yang disepakati terdapat tiga analisis. Pertama, pencarian indeksikalitas. Hal ini dilakukan sebagai tahap awal. Yaitu menemukan tema tertentu melalui indeks-indeks tema melalui ungkapan maupun bahasa tubuh. Dari tahap ini maka kita akan memahami bahwa apa yang kita lakukan tidak mungkin lepas dengan lingkungan sekitar. Dapat dikatakan bahwa membutuhkan persetujuan anggota kelompok untuk melakukan tindakan tertentu.

Kedua, tahap  refleksivitas. Tahapan ini dilakukan setelah peneliti mengamati dan menemukan ekspresi indeksikalitas, maka ia akan mampu menelaah refleksivitas dari ekspresi tersebut. Refleksivitas diartikan sebagai uninteresting essential reflexivity of account. Kata yang muncul adalah uninteresting, kata ini diartikan sebagai tidakmenariknya aktivitas informan yang disebabkan karena kesadaran informan untuk melakukan suatu aktivitas yang disetujui oleh seluruh anggota kelompoknya. Lalu mengapa tidak menarik perlu di bahas? Jawabanya dikarenakan seluruh aktivitas keseharian yang dilakukan sekelompok selalu pada tataran praktis dan pragmatis. Maka tugas etnometodologi adalah mengungkap hal-hal yang dianggap informan tidak menarik, namun tetap ia lakukan dalam kesehariannya.

Pencarian ketidaktertarikan informan tersebut, dilakukan dengan tahapan reliable atau apa yang disebut sebagai coding instruction. Etnometodologi selalu mencari alasan mengapa individu melakukan hal yang disepakati bersama kelompoknya, meskipun ia tidak tertarik untuk melakukannya. Oleh karena itu dalam  melakukan coding instruction ini maka dibutuhkan proses pencarian diri informan, kesadaran mendalam informan, dan kesepakatan kelompok informan.

Ketiga, adalah tahapan analisis aksi kontekstual. Apa ini? Yaitu mengungkapkan aktivitas keseharian yang bersifat praktis yang dapat dikenali dan dilaporkan. Sehingga akan diperoleh penjelasan tentang keteraturan dan ketertarikan antara ekspresi indeksikalitas, rasionalitas atas ekspresi indeksikalitas dan akhirnya berakhir pada sebuah aksi indeksikalitas. Sifat aksi yang dapat dikenali dan dapat dilaporkan, sehingga inilah yang disebut sebagai akuntabilitas penelitian. Aksi dalam etnometodologi merujuk pada aksi organizationally demonstrable atau aksi sebagai akibat interaksi antar anggota kelompok/komunitas/ organisasi.

Merupakan tugas peneliti etnometodologi untuk mengungkap ke permukaan aksi-aksi pada lingkup waktu dan tempat tertentu dan membuatnya “terlihat”. Peneliti etnometodologi seyogyanya menjadi partisipan observer agar ia memeroleh bentuk aktivitas dan merealisasikan langsung dengan indeksikalitas dan refleksivitas. Walaupun pengumpulan data dapat dilakukan melalui merekam melalui video untuk menggantikan observasi langsung.

Tahap keempat, yaitu penyajian comman sense knowledge of social structures. Yaitu memahami muara berpikir dari pola struktur sosial. Jadi aktivitas-aktivitas keseharian yang telah diamati akan membentuk pada struktur sosial yang dipahami sebagai kebiasaan tertentu, disepakati oleh anggota kelompok tertentu. Nah, inilah yang disebut comman sense. Yaitu sebuah budaya umum.

Pada akhirnya, etnometodologi mampu menjelaskan bahwa aktivitas keseharian sebenarnya suatu norma, yang telah diasumsikan bahwa norma tersebut telah disetujui. Lalu, dipraktikkan oleh seluruh anggota kelompok masyarakat tertentu. Selanjutnya menghasilkan sebuah gambaran adanya comman sense yang dianggap pasti. Penelitian etnometodologi diartikan sebagai penelitian yang berfokus pada pencarian makna aktivitas keseharian yang disepakati oleh anggota komunitas, atau masyarakat tertentu. Dan seperti metodologi yang lainnya, etnometodologipun dapat berubah sesuai kebutuhan. Seperti kaum kritis pernah menggunakan etnometologi dan menggabungkannya dengan teori sosial kritis dari Karl Marx. Tanpa ekstensi, maka etnometodologi (murni) hanya mampu mengungkapkan, tidak mengubah atau menkonstruksi.

Semoga bermanfaat, selamat meneliti!

Referensi :

Pemikiran tulisan ini adalah pemikiran Ari Kamayanti, dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif Akuntansi. Pengantar Religiositas Keilmuan. 2016. Cetakan ke-2. Yayasan rumah Peneleh. Jakarta Selatan.

rumahmediagrup/Anita Kristina