Perspektif Teoritis dan Metodologi Penelitian

Sumber gambar : http:// www.google.com

Perspektif Teoritis  dan Metodologi Penelitian

Selama ini penelitian secara umum terbagi atas penelitian dasar dan penelitian terapan. Perbedaan keduanya terletak pada tujuan. Penelitian dasar lebih fokus pada pengembangan pengembangan pengetahuan. Pengembangan keilmuan ini bersifat universal. Sehingga dapat dimaknai akan menghasilkan temuan yang diukur dari signifikansi kebermanfaatan. Sedangkan penelitian terapan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman persoalan secara spesifik, membuat solusi persoalan, dan mengembangkan temuan dari relevansi kebutuhan stakeholder organisasi tertentu.

Proses sebuah penelitian jika disederhanakan, maka terdapat langkah-langkah dalam proses tersebut. Proses ini yaitu mengidentifikasi topik-topik persoalan, seleksi topik, menentukan formulasi tujuan, memutuskan paradigma yang digunakan, memformulasikan rencana analisis (metodologi), pengumpulan data, analisis data, penyajian temuan hasil. Dalam perjalanan proses inipun terkadang dibutuhkan teori. Kebutuhan teori tergantung pada desain penelitian yang digunakan. Namun, pada peneliti kualitatif pemula disarankan menggunakan teori sebagai peta. Tetapi jika memungkinkan tidak menggunakan kerangka teori, peneliti dapat menemukan proposisi teori nanti setelah rangkaian empiris telah ditemukan. Peneliti kualitatif seperti masuk hutan tanpa pengetahuan sebelumnya. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, teori digunakan sebagai konseptual berpikir, sehingga terbentuk hipotesis. Bahkan teori digunakan sebagai mengambarkan pemodelan desain penelitiannya.

Sebuah teori telah didefinisikan sebagai serangkaian konstruksi (konsep) yang saling terkait, definisi, dan proposisi yang menyajikan pandangan sistematis tentang fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena. Namun, hal ini tergantung pada cara pikir penelitian. Apakah proses deduktif? Apakah induktif?

Dalam proses deduktif, tujuannya adalah membaca dan menghitung. Sehingga teori yang terpilih dan terkumpul digunakan sebagai kunci jawaban atas analisis persoalan.  Hipotesis bersifat terukur dan mengambarkan hubungan dua antar variabel. Operasional penelitian bersifat spesifik dan terukur. Pengujian hipotesis yang dapat diterima dan sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Pada akhirnya dibutuhkan modifikasi teori dibutuhkan, jika memang menjadi kebutuhan atas jawaban persoalan.

Sementara itu pada penelitian berpikir induktif, semua hal dimulai dari realitas, akumulasi dari data, fakta, kemudian muncul hipotesis. Kemudian pemilihan teori yang sesuai. Bekerjanya teori ini digunakan untuk menjelaskan desain penelitian (deduktif). Demikian akan juga diperoleh modifikasi induktif-deduktif. Karena berpikir induktif, seringkali tidak menggunakan teori, semua berdasarkan realitas fakta penelitian.

Jika dilihat dalam perspektif epistemologis maka memunculkan objectivism, constructivism, subjectivism. Penjelasan ketiganya yaitu pada objectivism, bahwa segala sesuatu ada sebagai entitas yang bermakna, terlepas dari kesadaran dan pengalaman.  Constructivism memandang bahwa makna muncul dari keterlibatan dengan realitas dunia yang dibangun dari realitas. Subjectivism menyakinkan bahwa realitas eksternal ada, tetapi sifatnya dipaksakan pada objek oleh kesadaran individu.

Bagaimana pada perspektif teoritis? Positivisme berpendapat bahwa realitas terdiri dari apa yang tersedia untuk indera, yaitu apa yang dapat dilihat, dicium, disentuh, dll. Penyelidikan harus didasarkan pada pengamatan ilmiah (yang bertentangan dengan spekulasi filosofis), dan karenanya berfokus pada penyelidikan empiris. Ilmu alam dan manusia berbagi prinsip logis dan metodologis yang sama, berurusan dengan fakta dan bukan dengan nilai-nilai. Gagasan hanya pantas dimasukkan ke dalam pengetahuan jika mereka bisa diuji pengalamannya secara empiris.

Berbeda dengan positivism. Perspektif teoretis pada interpretivisme memandang bahwa mencari interpretasi yang diturunkan secara budaya dan historis dari dunia kehidupan sosial.  Contoh pendekatan interpretivist meliputi Interaksionisme simbolik, Fenomenologi, Realisme, Hermeneutika, dan Naturalistic inquiry.   

Interpretivisme pada interaksionisme simbolik memandang orang dalam menafsirkan makna objek dan tindakan di dunia dan kemudian bertindak atas interpretasi tersebut. Makna muncul dari proses interaksi sosial. Makna ditangani, dan dimodifikasi oleh proses interaktif yang digunakan oleh orang-orang dalam menghadapi fenomena yang ditemui.

Pada Interpretivisme fenomenologi bahwa dunia dibangun secara sosial. Pengamat adalah pihak yang mengamati apa yang sedang diamati. Ilmu pengetahuan didorong oleh minat manusia. Fokus pada makna – mencoba memahami apa yang terjadi. Bangunan teori berasal dari data (secara induktif). Menggunkan banyak metode untuk membangun pandangan berbeda tentang fenomena tersebut.

Sedangkan Interpretivisme realisme mengakui bahwa ada realitas eksternal ‘di luar sana’ yang dapat diukur , tetapi mencapai hal ini bisa saja sangat sulit. Gambaran yang dilukis dalam ilmu pengetahuan dunia adalah yang benar dan akurat. Sehingga pengetahuan dikembangkan melalui proses pembangunan teori di mana penemuan menambah apa yang sudah diketahui. Tetapi beberapa ‘fakta’ yang dapat diamati mungkin hanya ilusi.

Berbeda juga pada interpretivisme hermeneutika. Metode ini mengakui realitas sosial dilihat sebagai konstruksi sosial. Interpretasi harus diberikan lebih dari sekadar penjelasan dan deskripsi. Realitas sosial terlalu kompleks untuk dipahami melalui proses pengamatan. Sehingga seorang ilmuwan harus menafsirkan untuk mencapai tingkat pengetahuan yang lebih dalam dan juga pemahaman diri.

Pada interpretivisme penyelidikan naturalistik, ada beberapa realitas yang dikonstruksi yang hanya dapat dipelajari secara holistik. Penyelidikan itu sendiri tidak dapat dilepaskan tetapi terikat oleh nilai-nilai oleh perspektif peneliti. Bertujuan untuk menggeneralisasi, menemukan, mengembangkan pengetahuan ideografis dan fokus pada kasus-kasus individual.

Jika kita sudah mengetahui perbedaan metodologi dan paradigma yang digunakan pada penelitian, maka sebenarnya penelitian dasar berupaya mengembangkan prinsip-prinsip universal dan menghasilkan temuan yang bernilai bagi masyarakat. Penggunaan sebuah teori terdiri dari sebagai konsep, definisi, dan proposisi yang saling terkait yang menunjukkan hubungan antar variabel. Paradigma penelitian yang dominan untuk sebagian besar abad kedua puluh adalah positivisme. Saat ini, ini sebagian besar telah digantikan oleh sikap anti-positivis atau post-positivis seperti interpretivisme. Melalui pendekatan induktif, data dikumpulkan dan dianalisis untuk melihat apakah hubungan muncul antar variabel. Sedangkan pendekatan deduktif menggunakan teori untuk menghasilkan hipotesis kerja mengenai hubungan antar variabel.

Pendekatan untuk penelitian mencakup metode pencarian kebenaran dan pencarian perspektif. Metode pencarian kebenaran cenderung mengadopsi lebih banyak pendekatan eksperimental atau quasi-eksperimental. Metode yang sering muncul untuk menjawab persoalan empiris sosial cenderung lebih interpretif (misalnya, fenomenologis) dan menghasilkan data kualitatif. Dengan demikian teori dapat digunakan sebagai prespektif penemuan jawaban persoalan penelitian atau tidak, keduanya tergantung pada kebutuhan paradigma yang digunakan.

Semoga bermanfaat, selamat meneliti!

rumahmediagrup/Anita Kristina