Satu Titik Rahasia

Satu Titik Rahasia

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Orang Jawa Timur mana yang tidak mengenal Gunung Wilis. Gunung Wilis sebagai gunung berapi yang lagi istirahat atau biasa disebut stratovolcano, sehingga Gunung Wilis ini suatu hari bisa aktif lagi, inilah yang harus membuat penduduk sekitar Gunung Wilis harus waspada.

Gunung Wilis sendiri memiliki ketinggian 2.563 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan masuk dalam wilayah enam kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Trenggalek. Sehingga Gunung Wilis ini mempunyai wilayah yang sangat luas. Bagi yang suka hiking atau mendaki gunung, bisa memilih dari arah mana saja yang mereka suka untuk memulai pendakian.

Pendakian Gunung Wilis dari arah timur dapat dimulai melalui Kabupaten Kediri tepatnya Kecamatan Mojo. Jalan menuju ke puncak gunung Wilis sudah dibangun memadai melalui Mojo. Selain pendakian melalui Kecamatan Mojo, menuju ke puncak juga bisa melalui Kecamatan Semen. Jalan alternatif baru yang dibangun oleh pihak pemerintah Kediri sangat memadai, dengan luas jalan yang bisa dilalui oleh 2 mobil. Sementara itu dari arah selatan Gunung Wilis dapat didaki dari Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Apabila ingin mencapai Gunung Wilis dari arah utara, pendakian dapat dimulai dari Kabupaten Nganjuk, sementara dari arah barat, pendakian dapat dimulai dari Kabupaten Ponorogo atau Kabupaten Madiun.

Oya namaku Seto, kami berempat sekolah ditempat yang berbeda, Aku dan Dimas sekolah di SMKN 1 Kediri, sedangkan Arya dan Sinan sekolah di SMK PGRI 1 Kediri. Hhmmm kami anak STM bro sebagaimana yang sempat viral itu bersama kakak mahasiswa. Ikut bangga rasanya.

Aku dan 3 sahabatku sejak kelas satu SMA sering melakukan pendakian di beberapa Gunung di Jawa Timur. Khusus Gunung Wilis kami memilih pendakian dari arah timur, karena kami berempat tinggal di Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, persis di timur Kecamatan Mojo, sebagai tempat start pendakian dari arah timur.

Namun tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan pendakian dari start yang berbeda, kami kan anak STM. Lagi pula, di sisi lain dari Gunung Wilis ada puncaknya yang disebut Gunung Segogor dan Gunung Picis, merupakan nature monument / hutan lindung yang berada di kawasan Pegunungan Wilis. Nature monument ini berupa tanaman dan juga hewan yang langka. Pada dataran tinggi Arga Embag (berada di antara gunung Patuk Banteng dan Arga Kalang) terdapat rawa-rawa dengan tanah yang bergoyang. Tumbuhan berupa rumput sangat subur. Di tempat ini terdapat spesies hewan kijang bertanduk panjang.

Nah, kami ingin menyusup ke dataran tinggi Arga Embag ada tanah bergoyang yang kata orang penuh mistis, dan menyimpan aura misteri. Tapi untuk menuju kesana kami harus memutar dulu untuk memulai pendakian dari Kabupaten Madiun atau Kabupaten Ponorogo.

#

“Bro, kita jadi kan ke dataran tinggi Arga Embag?” kata Sinan memulai percakapan.
“Jadilah, udah lama kita rencanakan, masak diuapkan begitu saja, kita tinggal pilih waktu yang tepat nih,” jawabku sambil tersungut-sungut.
“Woles aja bro, aku hanya memastikan aja,” sahut Sinan sambil menepuk pundakku.
“Oya, Sabtu pekan depan kan tanggal merah, Jum’at kita pulang jam 11 siang, gmn kalo beres sholat jum’at kita langsung cuzz aja,” Arya yang baru datang langsung nimbrung.
Aku pun langsung terkoneksi juga, “Emmm, untuk sampai ke Arga Embag, kita harus melewati puncak Patuk Banteng dan butuh waktu sekitar 8 jam dengan perjalanan normal, itupun baru sampai di puncak Patuk Banteng, belum menuju Arga Embag, semua harus disiapkan secara matang, kabarnya dari arah Madiun sudah jarang sekali ada penyakian, apalagi beberapa waktu yang lalu terjadi kebakaran hutan cukup serius.”

#


Kami pun langsung berbagi tugas, kamar Sinan adalah yang paling luas diantara kamar-kamar kami menjadi tempat mengumpulkan perbekalan. Waktu dua minggu ini kami kerja ekstra keras untuk mengumpulkan rupiah. Bersyukur orang tua kami bisa memahami kegemaran anak-anak bujang mereka. Sinan ikut kerja di bengkel las tiap pulang sekolah, Arya dan Dimas bantu-bantu Ayah Dimas yang memiliki bengkel motor dengan catatan mereka bantu di bengkel tidak gratis tapi dibayar (he he).

Aku, karena aku seorang penulis amatiran dan menjadi author dibeberapa web, maka untuk memenuhi pundi-pundi rekening, sehari aku bisa setor 5 naskah tulisan. Pfffft. Masing-masing dari kami harus setor 500.000 rupiah untuk ekspedisi kali ini. Jumlah yang besar bagi kami anak-anak STM ‘ndeso’.

Kami juga bersyukur sejak pertama kali duduk di SMK, kami aktif di ekstra kurikuler Pramuka. Bahkan sejak satu tahun yang lalu kami berempat kompak bergabung bersama RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Lokal 04 Kabupaten Kediri yang akan membantu Tim SAR setempat jika terjadi musibah ataupun peristiwa penting yang lain.

Sehingga melakukan pendakian, bergelut dengan alam atapun harus menjadi sukarelawan menjadi hal wajib bagi kami untuk melatih kepiawaian dan kemampuan beradaptasi dengan alam. Sebagaimana misi pendakian kali ini. Banyak rahasia alam Gunung Wilis yang harus dipecahkan, dan tujuan kami kali ini tidak main-main. Kami ingin menyaksikan tanah gerak yang rumornya sering bersuara jika malam datang.

#


Hari yang kami nantikan telah tiba. Tepat pukul 1 siang kami bertolak dari terminal kota Kediri menuju Saradan-Madiun. Tidak sampai dua jam kami sudah sampai tinggal menuju titik awal pendakian. Letak jalur pendakian Kare beralamat di Desa Kare, Kecamatan Kare, Madiun. Transportasi dari kota Madiun bisa menggunakan angkutan umum menuju kecamatan Kare selanjutnya bisa menggunakan ojek menuju Desa Kare. Selanjutnya menuju pos Kempo yang terletak di perkebunan kopi Kandangan. Nah, selanjutnya adalah menuju pos pendakian yang bernama Pulosari. Dari Pulosari ini jalur utama menuju puncak Ngliman sekitar 6 jam perjalanan. Tapi tujuan kami adalah dataran tinggi Arga Embag. Hmmm… Bismillai tawakaltu ‘alallahu.

Kami tidak langsung melakukan pendakian. Karena waktu yang terbaik pendakian di waktu malam adalah pukul 6 sore, jadi ba’da sholat magrib nanti kami berangkat. Sejuk dan nikmat bisa sholat berjamaah magrib di kaki gunung Wilis ini, memang masing-masing lokasi punya kelebihan sendiri, kita tidak bisa membandingkan dengan pendakian dari arah Timur.

“Ayo gaes kita berangkat!” setuju ketika semua sudah siap dengan bawaan masing-masing.
“Sinan, kamu pimpin berdoa ya,” pintaku pada Sinan.
Setelah berdoa dan meneriakkan yel-yel kami pun mulai melangkah.
“Hati-hati, mas, sebelah kiri jalur pendakian setelah pos kedua masih rawan kebakaran!” seru seorang penduduk melihat kami berangkat.
“Nggih pak, trimakasih infonya!” ujarku sambil melambaikan tangan.

Setelah dua jam perjalanan kami putuskan untuk istirahat sejenak, bergantian kami berwudhu untuk segera mendirikan sholat Isya berjamaah. Adzan dan iqamah di kumandangkan Arya, berdesir rasanya hati ini. Semakin tunduk atas kuasaMu ya Rob. Kali Dimas yang jadi imam sholat, bacaannya khas para syeikh-syeikh Hijaz.

Beres sholat kami lanjutkan perjalanan, dua jam berikutnya kami sudah tiba di pos kedua pendakian, ada jalan bercabang, jika ambil kiri berarti arah ke puncak Ngliman. Kami harus ambil arah kanan, bekas kebakaran memang tampak nyata, bara api masih terlihat. Tiba-tiba dari arah atas beberapa pendaki berlarian turun.

“Ada kebakaran bro, entahlah HT kami tidak bisa dipakai, kalau kalian bawa cepat hubungi posko,” mereka terlihat panik.
“Ok, siap” Sinan segera menghubungi posko.
“Seberapa jauh?” tanyaku.
“Satu jam perjalanan dari sini, sebelah kanan, titik api belum besar tapi kalau angin kencang bisa cepat meluas, siapa pula yang membuatmu gara-gara malam-malam begini.” ucap salah seorang dari mereka penuh amarah.
“Ok, kita upayakan pencegahan sebisanya, dengan alat seadanya, ayo cepat!” bergabung di tim RAPI 04 Kediri melatih kami untuk mampu berfikir cepat dalam kondisi terdesak.

Kami pun setengah berlari menyusuri jalan setapak ke lokasi titik api. Beban berat dipunggung sudah tidak terasa lagi, yang terpikir bagaimana cepat sampai di titik kebakaran. Angin bertiup kencang ke arah selatan, semakin membuat hati kami cemas, bisa-bisa kebakaran akan semakin luas kearah selatan. Itu berarti ke arah Arga Embag yang ingin kami tuju malam ini.

#

Benar saja, kata Roy pimpinan pendakian yang kami temui tadi, titk api semakin luas dari yang mereka tinggalkan tadi. Kami bekerja keras sambil menunggu bantuan. Regu kami memulai membuat parit dari arah barat ke selatan. Regu Roy dari ke kiri memutari titik api.

Entah sudah berapa lama kami bekerja, yang pasti nyala api sudah banyak berkurang. Sempat kulihat tadi dua regu pendaki yang turun dari puncak Ngliman turut membantu, serta bantuan dari posko juga sudah naik. Sayup-sayup terdengar suara tilawah Qur’an. Mungkin sekarang pukul 3 dinihari.

Alhamdulillah, ‘alaa kulli hallin, api akhirnya padam tepat pukul 4 pagi. Dimas segera berwudhu dan mengumandangkan adzan shubuh. Kami pun bergegas menyambut panggilan-Nya. Entahlah tiba-tiba ada gerimis di ujung mata ini, antara terharu dan takjub, subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha ilallah Allahu akbar.

Kami pun berpisah, masing-masing regu melanjutkan perjalanan ke arah yang ingin dituju. Dari titik api kami teruskan ke arah selatan, melewati jalur yang belum terjamah. Karena kalau harus kembali kami harus kehilangan waktu dua jam. Selain itu bergelut dengan api cukup menguras energi kami.

Pukul 5 pagi, matahari mulai terbit. Yang kami rasakan bukan lagi hembusan angin ganas nan panas, tapi tiupan angin sepoi-sepoi yang hangat membuat nyaman. Dari arah selatan jauh, kami mendengar seperti teriakan orang. Arya yang berjalan paling depan menghentikan langkah.
“Apa kita sudah sampai didataran tinggi Arga Embag ya?” kami yang ditanya hanya mengedikkan bahu, tanda bahwa kami pun tidak tahu.
“Coba dengar itu!” hening, tidak ada suara apapun.
“Grkk, grrraaa, grrraaa, grkk” suara itu, tapi ini hari mulai pagi, tidak mungkin kalau hantu ataupun mahluk astral yang lain. Tapi cukup membuat kami bergidik ngeri. Bulu kuduk pun berdiri tanpa kami perintah.
“Kita tetap jalan pelan-pelan, aktifkan semua panca indra,” aku berujar setengah tidak yakin.
“Grooooowww, groooooww, grooooowww,” bunyi itu semakin keras dan terasa sangat dekat. Praktis langkah kami pun langsung berhenti. Tidak hanya dua kali tapi hampir sepuluh kali tiap satu menit, bahkan tanah yang kami pijak terasa bergetar.

Hal ini mengingatkan kami sebelum Gunung Kelud meletus warga Desa Kare pernah dihebohkan dengan suara gemuruh yang berasal dari lembah Gunung Wilis sebelah barat. Bahkan kemudian, suara itu juga didengar oleh penduduk Trenggalek dan Nganjuk di area Pegunungan Wilis. Menurut para ahli, itu adalah suara patahan di perut bumi, bukan aktivitas vulkanik Gunung Wilis dan hal inilah yang menjadikan dataran tinggi Arga Embag disebut juga tanah gerak. Tapi sungguh, seandainya kami tidak banyak membaca tentang dataran tinggi Arga Embag ini, kami pasti sudah lari mendengar suara parau, keras, dan menakutkan itu.

Matahari semakin menggeliat, sehingga mata kami bisa melihat dengan tampak jelas apa yang ada di depan kami. Tidak tampak pepohonan, yang ada hanya hamparan rumput hijau yang seperti tidak pernah kering, padahal ini adalah musim kemarau yang panjang. Burung-burung kecil mulai keluar sarang, mencari serangga sebagai bekal hidup hari ini. Inilah yang semakin meyakinkan kami bahwa kami telah sampai di dataran tinggi Arga Embag.

Kami masih terus berjalan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Takjub dan takut, mungkin itulah yang bisa menggambarkan suasana hati kami. Hingga kami tiba di depan hamparan rumput yang tingginya mencapai tinggi kami, seperti pagar rahasia di film-film kartun, ketika kami sibak luar biasa isinya, kami hanya bisa terbengong-bengong. Mungkin ini rahasianya, kenapa kami tidak menemukan satu hewan pun ketika kebakaran hutan itu terjadi. Demikian juga di tiap-tiap terjadi kebakaran hutan di gunung Wilis, tidak ada satu spesies pun yang ditemukan dalam kondisi mati. Ternyata semua ada disini, rusa bertanduk panjang, aneka jenis burung, hewan melata, kucing hutan, monyet, dsb, semua nyaman di sini. ‘Alaa kulli hal, Allah tahu yang terbaik untuk semua makhluk-Nya.

Tapi, tetap saja kebakaran hutan yang disengaja oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab bukan hal yang dibenarkan. Berbuatan itu harus dipertanggung-jawabkan secara moril dan hukum. Inilah yang harus disadari oleh masing-masing individu masyarakat. Sehingga masing-masing punya tanggungjawab, karena sesungguhnya bumi ini bukanlah milik kita saat ini, tapi tidak lebih dari pinjaman anak cucu kita. Wallahu’alam.

enliseksus0@gmail.com

One comment

Comments are closed.