Segelas Susu Panas

“Qiroooom.” Panggil seorang guru kepada siswanya yang bernama Qirom.

Qirom ini adalah siswa SMKIT Fitrah Hanniah kelas XI jurusan Teknik Mekanik Industri yang berada di kota Bekasi tepatnya di Cibitung. Secara kebetulan tahun ini ia dan temannya mendapatkan giliran Entrepreneurship Educational Journey yang disingkat dengan sebutan EEJ di sekolahnya. Entrepreneurship Educational Journey ini merupakan suatu kegiatan pendidikan kewirausahaan sebagai salah satu program unggulan yang terdapat di sekolah tersebut . Wirausaha yang dilakukan bisa di sekolah dan di luar sekolah.

Qirom mencoba untuk mengumpulkan uang dan menabung dari hasil wirausahanya. Ia mempunyai mimpi, yang mungkin orang berpikir mimpinya terlalu tinggi. Bermimpi suatu saat mampu menjelajahi dunia, dan inilah awal ia mengarungi dan berharap mampu menginjakkan kaki di bumi Allah yang lainnya. Dari hasil jualannya itu, ia berharap mampu untuk membuktikan bahwa ia pun mampu seperti kakak-kakak kelasnya yang lain. Terbang ke Singapur-Malaysia dengan hasil keringat sendiri.

Inilah kisahnya diawal ia baru belajar berwirausaha, belajar untuk mengumpulkan kekuatan mental, menghilangkan rasa malu, rasa ragu, dan rasa takut dalam dirinya.


‌Suatu hari dia berjualan laris sekali, dia dikerumuni temannya hingga tak nampak dianya di sana. Akan tetapi sangat disayangkan dia berjualan ketika waktunya sholat Dhuha. Bagi teman-temannya, dia menjadi penolong saat temannya sedang kelaparan dan kehausan. Namun bagi sekolah dia telah melanggar peraturan, karena berjualan sebelum istirahat.


‌Tiba-tiba saat dia buka lapak, dan sedang laris-larisnya. Hadir seorang guru dan memanggilnya, “Qirom.” Melihat ada guru yang memanggilnya, sontak dia lari terbirit-birit sambil membawa dagangannya. Semua dagangannya di bawa lari, pelanggan yang sedang mengantre, menunggu giliran, ditinggal lari olehnya.

“Qirom,” sekali lagi guru tersebut memanggil, tetapi Qirom sudah lenyap dari pandangan guru tersebut. Qirom langsung masuk kelas dengan napas tersengal-sengal lalu dia bersembunyi di balik meja dan kursi. Ketika ditanya temannya, dia tak bisa menjawab karena masih kaget. Tubuhnya penuh dengan peluh membasahi seragam bagian belakang. Terlihat seperti bentuk pulau menempel dipunggungnya.

“Qirom ada apa?” Tanya temannya. “Kamu lari tunggang langgang begitu, kayak dikejar Satpol PP.” Lanjut temannya.
‌”ha ha ha ha” pecah gelak tawa Teman-temannya di kelas menertawakan dia. Wajah Qirom flat tidak ada ekspresi sama sekali. Dia langsung sembunyi di belakang kursi bagian belakang. “Qirom” kembali terdengar seorang guru memanggilnya.
‌Qirom makin menundukkan kepala dan badannya bersembunyi di balik meja dan kursi. Tak lama kemudian guru tersebut tiba di kelasnya.

“Qirom.”
‌”Qirom.”
‌”Mana Qirom?” Guru tersebut berdiri di depan kelas sambil mencari keberadaannya. “Mana Qirom?” Sekali lagi guru tersebut bertanya, teman-temannya terdiam seolah-olah menyembunyikan Qirom.

“Mana Qirom?” Dengan sedikit naik nada suara guru itu kembali memanggil Qirom. Lalu Qirom keluar dari persembunyiannya
‌”Iya Dzah, maaf Dzah” Ucap Qirom
“Untuk apa kamu lari?” Tanya guru tersebut. “Maaf Dzah, saya berjualan sebelum istirahat.” Jelas Qirom
“Aduh, inikan belum masuk jam belajar Rom, coba sekarang kamu buatkan satu untuk Ustadzah.” Ucap guru itu.
“Ustadzah mau?” Tanya Qirom sekali lagi.
“Iya, Ustadzah mau beli.”
“Owh, Ustadzah mau minum apa?”
“Tolong buatkan susu panas.”
Karena gugup, Qirom ambilkan susu putih lalu diberikan kepada temannya, yaitu Amar.

Lalu Amar langsung menggunting ujung kemasan susu. Padahal Qirom dan Amar belum mengetahui rasa susu apa yang guru tersebut inginkan.
“Lho kok dibuatkannya susu putih?”
“Ustadzah kan belum pesan, apa rasa susunya?” jelas guru itu
“Wah, salah ya Ustadzah.”
“Terus bagaimana ya Ustadzah, ini sudah digunting.” Jawab Qirom dan Amar dengan lesu.
“Ya sudah, putih juga tidak apa.” Dengan sedikit kecewa guru itu bilang, “Makanya jangan asal lari saja kalau dipanggil itu.”
Setelah menerima segelas susu putih itu, guru tersebut berlalu dari kelas meninggalkan Qirom dan Amar yang masih terlihat pucat dan kaku. Tanpa bicara.
Qirom bengong, begitu juga dengan Amar diam saja. Mereka tak menyadari kalau guru tersebut lupa membayar susu panas itu.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

One comment

Comments are closed.