Semangkuk Bubur Ayam Di Sudut Kota Kembang

 Semangkuk Bubur Ayam Di Sudut Kota Kembang
  

 Sepasang kaki melangkah pelan
 Nikmati udara segar kota kembang
 Bias cahaya tiba dari ufuk timur
 Hiasi langit tak berawan
  
 Menyusuri jalanan yang mulai terbangun
 Satu dua raja jalanan mulai nampak
 Hilir mudik beradu cepat
 Mengejar sebentuk waktu tak berbentuk
  
 Hiruk pikuk tersaji di satu sudut pasar malam
 Bincang ramah terseling tawa canda
 Tak sedikitpun nampak raut lelah
 Ikhlas jadi penyemangat hati
  
 Di sebuah pelataran langkah terhenti
  
 Tanpa sengaja mata terantuk sebuah adegan
 Pemandangan sederhana nan mempesona
 Langka tak mudah ditemukan
  
 Empat insan duduk bersama
 Nikmati semangkuk bubur ayam hangat
 Tak mewah namun istimewa
 Penuh citarasa
 Hadir bukan karena penyedap rasa
  
 Kebersamaan
  
 Satu yang jadi pengikat
 Satu yang jadi pelengkap
 Betapa tanda bahagia sebuah keluarga
 Tercetak dalam bentuk nyata
  
 Membuat diri kemudian bertanya
  
 Berapa dari kita yang masih sisakan waktu?
 Duduk bersantap di sebuah meja
 Nikmati tawa canda
 Bercerita bertukar kisah bersama keluarga
  
 Banyak yang masih terlupa
 Tak sedikit pilih acuhkan
 Terjebak rutinitas dunia
 Perburuan tak bernilai apa-apa
  
 Hingga lupakan harta yang paling berharga
  
 Semangkuk bubur ayam mungkin terlihat sederhana
 Namun ada makna berharga didalamnya
  
 Arti kehangatan keluarga
  
 Bandung, awal Oktober 2019
 D3100 18-200 mm
 Snapseed
  
 #Nubar
 #NulisBareng
 #Level4
 #BerkreasiLewatAksara
 #menulismengabadikankebaikan
 #week1day6
 #RNB48
 #rumahmediagrup — bersama Titi Keke, Rumedia Nubar Bla dan Ilham Alfafa. 




rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy