Wajah Sang Pendosa

Temaram sinar separuh malam, saat bintang enggan berbinar
Aku yang terhempas, terkurung sepi dibelenggu rasa benci
Benci dengan sejarah kelam yang terlewati, yang tak terlupakan walau mata ini terpejam begitu kuatnya lekat dalam bayang bayang malam. Dan terbakarnya lembaran lembaran hitam

Bersimpuh menyesali diri,
Buliran air mata pasrah dengan memeluk erat selaksa doa. Ya Robb,
Andai saja dosa dosa ini bisa gugur terbuang kan kulepaskan kudis kudis jahanam

Andaikan bisa, kuredam segala penyesalan kucampakkan pada jurang jurang pengampunan

Aku sang pendosa,
ingin hijrah karena Lillah,
Tapi mengapa ide maksiatmu masih sibuk memusingkanku,
Melenakan pandangan, nyaris melupakan hijrah. Kau yang selalu menipuku! membisikkan ide ide maksiat dalam kesesatan. Kau berlomba dengan yang lainnya untuk berpesta pora
Hiruk pikuk begitu riangnya
Tatkala aku tersungkur kedalam lubang lubang kemunafikkan
Hingga berakhir tangis penyesalan bagimu adalah kemenangan….

Aku ingin berubah!
Bermetamorfosa untuk menjadi yang lebih indah
Menjadi kupu kupu yang terbang rendah dengan sayapnya

Ach,
Lagi lagi kau … merasuki pikiranku

Dengan sentuhan sentuhan melenakan tapi menusuk amalku
Mengacaukan hijrahku

Aku

Ya, aku!
Yang tengah berusaha mengokohkan kakiku untuk berpijak dijalan kebenaran
Sendiri

Dipersimpangan jalan
Menakar dengan nalar
Apakah ma’ruf ataukah Munkar?

Tanpa ada satupun orang yang menghargai ku
Merangkul ku dalam ketaatanNya. Aku terbuang dari semua kumpulanku karena kau! NAFSU….!

Timbul tenggelam dalam memegang hujah siqohnya perjuangan
Semangat itu hanya ada dalam diriku
Tetapi semangatku hanya temaram, sebatas ditiup perlahan timbul tenggelam

Aku laksana lilin yang mampu membakar diriku untuk sekedar menjadi penerang sesaat.

Wahai jiwa yang lelah
Belumlah purna segala usaha
Hingga saatnya Dia memanggil pulang
Menutup mata

Jika malaikat sudah mulai Sayup sayup memanggil sebuah nama
Segeralah berdoa agar namamu, namaku juga namanya tercantum
Sebagai penghuni syurga

Meski dalam gelap aku coba tetap bertahan dipersimpangan yang sama

Jangan putus asa
Perbanyak muhasabah, mengemis ampunanNya
Berenang dalam lautan doa
Karena aku wajah sang pendosa

LellyHapsari/RumahMedia